Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Anak

Mengutip gubahan puisi Kahlil Gibran dari Sang Nabi perihal anak keturunan (Ariel-Uki-Lukman-Reza-David, Kisah Lainnya, hlm. 39-40):

Anakmu bukanlah anakmu.
Mereka adalah putra putri kehidupan terhadap dirinya sendiri
Mereka terlahir lewat dirimu namun tidak berasal dari dirimu
Dan meskipun mereka bersamamu mereka bukan milikmu
Kau boleh memberi mereka cintamu tetapi bukan pikiranmu
Sebab mereka memiliki pikiran sendiri
Kau bisa memelihara tubuh mereka namun bukan jiwa mereka
Sebab jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang tak ‘kan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu
Kau boleh berusaha menjadi seperti mereka, namun jangan menjadikan mereka seperti kamu.
Sebab kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin.

Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup
Pemanah mengetahui sasaran di jalan yang tidak terhingga
Ia melengkungkanmu sekuat tenaga-Nya agar anak panah melesat
Biarlah tubuhmu yang melengkung di tangannya merupakan kegembiraan
Sebab seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat
Ia pun mencintai busur yang kuat.

Apa yang Anda lihat ketika melihat sosok anak? Keluguan, innocent, ataukah upaya sekuat upaya dari orang tua untuk cetak biru mimpi mereka? Cetak biru mimpi orang tua? Ya, anak pada beberapa kenyataan merupakan pion yang diharapkan orang tua untuk memenuhi mimpi mereka sewaktu muda yang tiada tercapai. Parameternya dapat terlihat dari fasilitas, pengarahan, dan upaya terus menerus dari orang tua untuk mendikte anaknya menuju jalur mimpi tersebut. Orang tua lupa mungkin. Bahwa anak bukanlah permainan. Mereka bukanlah boneka yang dapat dikuasai jiwa dan jalan pikirannya. Mereka merdeka dan layak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Orang tua pada beberapa kenyataan mentransformasikan kegagalannya untuk ditebus oleh anaknya. Dulu ayah, dulu bunda, gagal di titik ini dan ini. Lalu anak yang menjadi sosok yang diharapkan untuk menuntaskan mimpi orang tuanya. Orang tua harus belajar melepaskan dan merelakan mimpi yang tidak tergapai. Jangan paksakan anak untuk menempuh lajur mimpi orang tua apabila anak tiada memiliki minat untuk menempuh jalan tersebut.

Pemaksaan lajur mimpi inilah yang dapat menyebabkan konflik antara orang tua dan anak. Hal yang dapat terekam misalnya dalam novel Perahu Kertas. Dimana Adri sang ayah mendiktekan jalan agar Keenan sang anak untuk menjadi pengusaha. Keenan diharapkan dapat meneruskan perusahaan trading yang dikelola oleh Adri. Sementara Keenan memiliki mimpi untuk menjadi pelukis. Konflik pun terjadi, mulai dari Keenan yang mengundurkan diri dari kuliahnya di Manajemen, Keenan yang cabut dari rumah serta tiada mendapat subsidi lagi dari orang tuanya, hingga Adri yang terserang stroke akibat stres memikirkan nasib Keenan.

Anak memang merupakan titipan dari Tuhan. Namun bukan untuk dipaksakan dikaryakan sesuai cetak biru dari orang tuanya. Anak memiliki takdirnya sendiri. Anak memiliki jalan rezekinya sendiri. Anak memiliki jiwa dan jalan pikirannya sendiri.

Anak-Sajak Tagore (Tempo, Sjahrir-Peran Besar Bung Kecil, hlm. XV):

“Mereka bangun rumah dari pasir, mereka rajut kapal dengan daun kering, dan dengan tersenyum mereka apungkan ke laut dalam…

“Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali…”

Belajarlah dari anak-anak. Umur, terkadang menaifkan dan men-sok tahukan diri tentang segala. Merasa telah mengetahui tentang rupa persoalan. Merasa telah mengetahui tentang seluk beluk kehidupan. Belajarlah dari anak-anak, seperti Hatta dan Sjahrir yang belajar dari anak-anak di Banda Neira. Hatta dan Sjahrir memiliki anak angkat di tempat pembuangan tahanan politik tersebut. Mereka mengajarkan anak angkat mereka (Does, Des, Lily dan Mimi), mulai dari menulis, matematika, sejarah, cara makan yang sopan, dan sebagainya (Tempo, Sjahrir-Peran Besar Bung Kecil, hlm. XIV-XV). Disamping itu mereka juga belajar dari anak-anak tersebut, mulai dari berenang, berlayar, mendaki gunung, menelusuri keindahan alam Banda Neira. Melalui mata anak-anak tersebut, mimpi para founding fathers ini terteguhkan untuk memperjuangkan Indonesia yang lebih baik di kemudian hari.

Dalam novel Perahu Kertas, Kugy juga belajar dari anak-anak di sakola alit. Bagaimana dari mereka, ia mendapatkan energi, inspirasi, dan kekuatan untuk kembali menuliskan dongeng. Anak-anak di sakola alit menjadi raison d’etre untuk menuliskan kembali dongeng yang sempat mengalami titik henti. Melalui Pilik dan kawan-kawannya, Kugy menyerap inspirasi dan memperoleh kanal untuk berbagi, mendongeng, dan berimajinasi.

Belajarlah dari anak-anak. Bagaimana imajinasi mereka begitu hidup. Bagaimana tanpa beban mereka mengarungi hidup. Bagaimana dengan ringan tangan mereka berbagi. Bagaimana mereka hidup tanpa kalkulasi yang rumit. Bagaimana kegembiraan puritan yang mereka miliki. Bagaimana dahaga rasa ingin tahu yang mereka miliki. Bagaimana semangat eksplorasi yang ada dalam jiwa mereka. Bagaimana keberanian mereka untuk gagal, terjatuh, dan terhempas.

Umur yang menua dan mengusam belum berarti paralel dengan kedewasaan. Bisa jadi hanya sekadar angka yang gagal bertalian dengan makna. Lalu yang muncul ialah sosok dengan fisik yang dewasa, namun tanpa kematangan dan kedewasaan berpikir. Kematangan itu kiranya termasuk dengan mengambil pelajaran dari anak-anak. Lihatlah bagaimana dalam Islam yang memberikan achieved status tanpa memandang kemudaan dari seseorang. Sampelnya dapat dilihat pada shalat berjamaah, anak-anak dapat mengisi shaf terdepan apabila datang terlebih dahulu ketika shalat berjamaah. Sampel lainnya ialah Imam Syafi’i yang semenjak usia belia telah mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat luas.

Anak-anak adalah sampel terbaik untuk imajinasi yang belum selesai. Seiring waktu dan umur, seakan imajinasi terselaput awan. Menghilang. Maka hidup seperti mekanik yang membosankan. Hidup dalam rutinitas yang itu-itu lagi. Hidup menjadi membosankan. Belajarlah dari imajinasi yang belum selesai. Bahwa ada begitu banyak kesempatan dan percabangan waktu. Kita hanya harus percaya dan berani bermimpi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s