Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku, sastra

Membaca Perahu Kertas

Berbilang waktu yang lampau di toko buku Gramedia Pondok Indah Mall. Saya masih mengingat memori itu dengan terang. Bagaimana saya urung untuk membeli novel Perahu Kertas saat itu. Membaca sekilasan halaman awal dari novel Perahu Kertas ketika itu, saya merasa asing dan aneh dengan pendekatan cara yang dipakai oleh Dewi Lestari (Dee) untuk mengungkap makna. Terasa begitu ringan, cepat, dan keluar dari pakem Dee yang saya kenal – pikir saya di toko buku waktu dulu. Sebelum akhirnya membaca novel Perahu Kertas, saya telah membaca Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dan Supernova 2: Akar. Sebuah bekal referensi yang saya pikir cukup untuk menerka dan menakar Dewi Lestari. Dan ternyata saya keliru.

Berbilang waktu dari urungnya saya membeli novel tersebut, teman saya mengirim sms menanyakan, maukah kiranya saya membeli novel Perahu Kertas? Teman saya yang satu ini merupakan seeker personal dari saya untuk mencari aneka ragam buku. Kebetulan ketika itu saya membeli buku dalam kuantitas borongan, serta teman saya menawarkan dengan harga yang lebih bersahabat bagi kantong dibandingkan di toko buku besar. Saya pun mengiyakan tawaran dari teman saya tersebut. Halaman demi halaman dari novel Perahu Kertas pun akhirnya saya baca. Agak asing awalnya. Dikarenakan telah ter-branding di otak saya bahwa gaya tulisan Dee intelektual, rumit, serta memiliki filosofi mendalam. Sedangkan dalam novel Perahu Kertas pendekatan yang digunakan agak beririsan dengan teenlit.

Rupanya novel Perahu Kertas mampu memikat saya dengan kesederhanaan dan gaya tuturnya yang ringan. Dengan lahap halaman demi halaman saya baca habis. Bahkan saya memundurkan jadwal pekerjaan saya demi membaca novel dimana tokoh utamanya adalah Keenan dan Kugy ini. Novel yang membuat Dee harus kost di daerah Tubagus Ismail ini nyatanya setelah saya selami tetap berkarakter Dee. Tetap ada filosofi, makna, kekuatan bercerita. Hanya racikan bumbu pendekatan dalam menulis yang digunakan berbeda.

Melalui novel Perahu Kertas ini saya mendapatkan bagaimana Dee mampu untuk memakai pendekatan dan racikan yang berbeda. Ini juga sekaligus menjadi pembelajaran untuk tiada terpaku pada satu jenis gaya penceritaan. Dee mengungkapnya sebagai berikut (Dewi Lestari, Perahu Kertas, hlm. 440):

Namun, bagi saya pribadi, prestasi yang lebih besar lagi adalah: inilah salah satu tapak langkah saya untuk menjadi penulis lintas usia, lintas segmen. Saya sadar, genre maupun karakteristik novel ini barangkali akan menjadi kejutan bagi banyak pembaca saya, tapi saya memang tidak pernah berminat untuk terperangkap dalam satu lintasan tertentu saja. Di mata saya, setapak ini masih panjang dan berwarna-warni.

Dengan gaya penceritaan yang berbeda, memungkinkan terserapnya pasar baru dan terjadi ekstensifikasi dari pembaca karya. Disamping itu bagi penulis, merupakan wahana untuk mengembangkan kemampuannya dan tidak terpasung di satu koordinat gaya penulisan.

Ketrampilan dengan ragam gaya penulisan ini mengingatkan saya pada pertanyaan seorang sobat tentang gaya penulisannya. Ia bertanya kepada saya tentang gaya penulisannya? Saya menjawab bahwa gaya penulisannya memiliki cita rasa Fisip (teman saya ini kuliah di Fisip UI sebagai informasi). Saya pun menyarankan agar dia membaca ragam karya dari Dewi Lestari. Alasannya sederhana: ada benang merah karakter yang kuat serta ragam racikan yang berbeda. Cobalah baca Supernova 1-4 (Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh- Akar- Petir- Partikel), Filosofi Kopi, Madre, Perahu Kertas, Rectoverso, maka Anda akan mendapati dinamika teknik penceritaan dari alumnus Universitas Parahyangan ini.

Novel Perahu Kertas sendiri menurut hemat saya dengan presisi diungkap oleh Emaknya Farah yang testimoninya termuat dalam novel ini. Lebih “ringan” dari Supernova dan lebih “berat” dibanding chicklit or teenlit – begitu bunyi pendapatnya. Ringan, bahasa yang akrab dengan pergaulan, kekitaan dan cita rasa muda yang dipilih oleh Dee dalam ramuan, mampu dipadukan dengan pesan yang kuat serta filosofi yang mendalam. Bahkan harus saya akui jika dibedah, pesan demi pesan dari kisah ini teramat mendalam dan mampu mengurai ragam permasalahan hidup. Bagaimana perjalanan meraih impian yang harus berputar-putar dengan menjadi ‘orang lain’ terlebih dahulu, bagaimana apresiasi finansial terhadap juru dongeng, bagaimana cinta keluarga-teman-kekasih mampu berkelindan dengan suguhan dinamikanya, bagaimana nasib dari kaum marginal yang teralienasi dari dongeng dan terhempas oleh pembangunan, dan sebagainya.

Ada telaah kritis terhadap kondisi yang melingkupi diri dan lingkungan dengan narasi yang dekat baik secara bahasa maupun kisah. Pembaca seakan dibawa untuk terlibat dalam setiap fragmen yang ada dalam cerita yang terinspirasi komik Popcorn ini. Melalui Perahu Kertas, kita diajak tertawa, berlinangan air mata, terhanyut dalam drama- Kombinasi yang komplet. Melalui Perahu Kertas, sisi komedi dari Dee benar-benar mampu terekspose dengan sukses. Karakter-karakter yang mengisi layar mampu menampilkan komedi yang membuat terpingkal-pingkal. Simak saja bagaimana Kugy, Eko, mampu menjadi tokoh yang pol-polan dalam memancing senyum. Kugy yang berantakan, seenaknya, tampil jujur, mampu menjadi karakter yang benar-benar hidup dan memorable.

Roman yang disajikan dalam novel Perahu Kertas mampu digubah dengan apik. Bagaimana kisah cinta Keenan-Kugy terbentur dengan realitas-realitas yang tak terhindarkan serta konstruksi sosial. Bagaimana hati yang sempat berlayar baik bagi Keenan dan Kugy, untuk kemudian menemui konklusi pada hati yang dipilih. Bagaimana narasi cinta yang mampu bertalian dengan banyak nama. Mulai dari keluarga, realitas faktual, pilihan hidup, mimpi, persahabatan, dan sebagainya. Cinta yang memberikan kebesaran hati untuk melepaskan. Cinta yang memberikan tenaga pada karya. Simaklah bagaimana pendapat Luhde terhadap lukisan dari Keenan. “Keenan melukis karena cinta dengan seni lukis. Tapi ada sesuatu yang Keenan buat dengan cinta yang lebih dalam.”

Cinta Keenan-Kugy amat klop dinarasikan dalam cover belakang novelnya:
Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri dan rintangan
Akankah dongeng dan lukisan itu bersatu?
Akankah hati dan impian mereka bertemu?

Cinta memang saling melengkapi. Di diri pasangan itulah diri menjadi utuh, terlengkapi. Khayalan, untaian dongeng indah dari Kugy yang bertemu dengan lukisan-lukisan magis, artistik dari Keenan menghasilkan karya yang unik, inspiratif, mandiri dalam keindahan, serta saling melengkapi sebagai ketakjuban yang utuh.

Novel Perahu Kertas yang sempat mati suri selama 11 tahun juga mengajarkan bagaimana setiap karya memiliki makna. Jangan mudah melemparkan handuk, mengubur karya, melupakan karya yang pernah digagas. Anda dapat mengecek perjalanan novel Perahu Kertas di situs http://www.dee-55days.blogspot.com . Sebuah dapur dari karya yang menarik kiranya untuk ditelisik dan ditelusuri. Selamat berlayar wahai perahu kertas. Melajulah terus.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s