Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis dan Ritme Hidup Itu

Setiap orang memiliki jam biologis tersendiri. Manakala jam biologisnya terganggu dari jalur utamanya maka akan muncul resistensi. Itulah kiranya yang menyebabkan terkadang sulit untuk merubah kebiasaan. Dikarenakan akan muncul dorongan internal dari diri untuk berada pada zona nyaman jam biologis yang dimiliki. Bagaimana dengan Anda, sudahkah memasukkan panel menulis dalam jam biologis Anda? Pada liburan lebaran kemarin, teman saya menanyakan mengapa saya terus menulis? Ketika itu saya memang sedang berobsesi untuk menonton dorama di kantornya yang memiliki lumbung tayangan ragam cerita, namun saya justru tetap menggulirkan kata dalam bentuk tulisan. Saya tersadar satu hal, bahwasanya menulis telah menjadi jam biologis saya. Sebuah kebiasaan yang telah menadi dalam waktu keseharian. Paling tidak semalas-malasnya dan selibur-liburnya saya mesti ada minimal satu halaman yang tertuliskan.

Membaca majalah Tempo edisi 16 Agustus-22 Agustus 2012, saya mendapatkan arti dari praja muda karana yakni orang muda yang berkarya. Bagaimana kiranya dengan daya karya yang dimiliki oleh masing-masing dari diri? Saya percaya banyak komentator dalam hidup ini. Namun berapa banyaknya yang turun ke medan. Sampel komentator ialah seperti ada seorang rekanan yang dengan sinis bertanya mana kelanjutan dari serangkaian tulisan saya yang bersambung dan hingga kini sambungannya belum juga tertulis. Saya berkeyakinan bahwa dalam karya tulis, saya jauh lebih baik dari si komentator tersebut. Saya selalu berupaya untuk menelurkan tulisan dengan ragam keadaan. Blog personal yang saya kelola juga memiliki ragam tema serta kerap saya update. Tanya saya mengembang bahwasanya bisa jadi di negeri ini lebih banyak para komentator, pengeluh, konsumen. Seberapa banyak yang mampu menjadi produsen?

Inilah permasalahannya, ada distingsi yang jauh antara domain komentator, pengeluh, konsumen dengan domain produsen. Untuk menghasilkan suatu karya yang layak tampil membutuhkan kesungguhan tekad, alokasi waktu, serta verifikasi. Saya sendiri dalam menurunkan tulisan di blog yang berada pada kisaran 3 halaman berusaha sekuat daya untuk menghasilkan sesempurna mungkin. Sifat perfectionis ini jelas membutuhkan tenaga, waktu. Menulis dengan serampangan tiada bisa, dikarenakan informasi merupakan kekuatan. Informasi merupakan warta yang harus dipertanggung jawabkan pula. Maka untuk menghasilkan ragam tulisan saya memutar otak dan melakukan pengecekan data. Tulisan bukan sebuah tombol sim salabim yang akan menghasilkan dari ruang hampa menjadi sesuatu. Tulisan merupakan daya sungguh-sungguh.

Menulis nyatanya merupakan ketrampilan yang harus terus dilatih. Djenar Maesa Ayu dalam acara Idenesia yang pernah saya tonton menyatakan bahwa rahasia dapat menulis dengan baik adalah dengan menulis. Yap latihan terus menerus dengan terjun langsung ke medan penulisan. Hal serupa pernah diungkap oleh Helvy Tiana Rosa yang menyatakan bahwa jika hanya menonton film kungfu tanpa mempraktekkannya, maka tidak akan mampu untuk menerapkan jurus-jurus kungfu yang ada.

Ada begitu banyak tips dan teknik dalam penulisan. Mengetahuinya tentunya menguntungkan untuk memperluas spektrum pengetahuan serta memberikan kombinasi dalam penulisan. Namun begitu menulis bukanlah pelajaran yang dapat dicangkokkan dan sekadar menampung ilmu. Menulis merupakan area yang harus bertindak dan menuangkan ilmu pula. Seberapa banyakpun teknik menulis yang dipelajari jika tiada diterapkan dan dicoba dalam menyusun tulisan akan menjadi tersiakan. Sayangnya itulah yang terjadi pada beberapa segmen mata pelajaran bahasa Indonesia di negeri ini. Murid seperti disuapi dengan ragam penulisan yang baik dan benar. Yang terjadi ialah pelajaran bahasa Indonesia menjadi membosankan, dikarenakan penuh dengan kaidah dan aturan yang membelenggu.

Urusan menulis rupanya bisa dikreasi menjadi ritme hidup. Sampelnya ialah dengan keponakan saya yang bersekolah di Amerika Serikat. Ia mengaku bahwa ragam mata pelajaran mengharuskan siswanya untuk membuat essai. Dengan demikian siswa dirangsang untuk menulis dan menghasilkan karya. Pelatihan terus menerus ini lama kelamaan akan membentuk kebiasaan menulis. Menulis sendiri saya percaya akan menjadikan seseorang menjadi pembaca, peneliti. Menulis akan mengharuskan seseorang membaca, dikarenakan bacaan merupakan amunisi, bahan untuk menulis. Menulis akan menjadikan peneliti, dikarenakan ada proses cross check, verifikasi, mengeksplorasi dari bahan yang ada.

Dalam istilah Yunani terdapat frasa scripta manent vorba volant, yang berarti: kata-kata itu menguap, sementara tulisan itu tetap. Dalam Al Qur’an sendiri dalam perjanjian jual beli diperintahkan untuk menuliskan akadnya. Hal ini memungkinkan kuatnya ikatan, serta jika ada masalah di kemudian hari maka ada patokan yang telah dibuat.

Daya menulis di negeri ini yang masih rendah, menurut hemat saya salah satu akar penyebabnya ialah milleu yang kurang akrab dengan penulisan. Baca dan tulis memang bagaikan kata yang saling berkait. Daya baca yang rendah berpengaruh terhadap daya tulis yang seret. Dalam istilah miris Taufiq Ismail bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis.

Daya menulis yang tinggi layaklah dicontoh Jules Verne yang selalu menulis sehabis Subuh. Dalam skala kontemporer, penulis muda Raditya Dika juga mengaku memiliki jam menulis setiap harinya. Raditya mengaku bahwa menulis saja, sekalipun mood dan hasilnya tiada terlampau baik. Saya pikir itu benar adanya. Bahwa menulis dengan siklus yang teratur akan membuat ritme penulisan menjadi menu keseharian. Dengan berlatih terus menerus setiap harinya maka akan semakin ahli dalam menulis. Membaca dan melihat dunia pun akan menjadi berbeda bagi seorang penulis. Seorang penulis adalah seorang kreator. Penulis akan menyerap apa-apa yang didapatinya. Baik dari apa yang dibaca, menonton film, pengalaman hidup, menjadi bahan bagi penulisan. Ada pandangan yang berbeda, karena tiada hanya konsumsi, melainkan juga bagaimana kiranya memproduksi. Leonardo Da Vinci konon memliki notes dimana sepanjang perjalanan yang ditempuhnya, ia mencatatkan tulisan atau menggambar. Saya percaya ada begitu banyak ragam tulisan yang dapat diturunkan. Masing-masing orang tumbuh dan menjalani orbit yang unik. Dengan menulis, maka memungkinkan untuk berbagi dunia yang dialami.

Jika diibaratkan bagai otot, maka dengan ritme menulis harian, maka kemampuan menulis akan semakin terlatih dan tergunakan. Para penonton yang bertepuk tangan, terinspirasi akan segala prestasi dari mereka yang berada di atas panggung, mungkin perlu mengingat bahwa segala keberhasilan diperoleh melalui peluh dan upaya terus menerus. Sudah saatnya untuk tiada lagi sekadar terinspirasi, bertepuk tangan. Mari menuliskan sejarah sendiri dengan karya nyata.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s