Posted in Aku, puisi, sastra

Lullaby

Jalan ini rumit adanya
Sukar bagi yang berlemah hati
Kesempurnaan waktu mungkin tiada pernah ada

Jalan penakluk tiada pernah sentosa, tenang
Ia selalu beriak
Ia selalu menantang
Ia selalu bergejolak

Percayakah kamu?
Padaku tuk dapat yakinkanmu
Tuk lalui badai sekeras apapun menghadang

Malam berganti pagi
Aku masih di sisi
Tanpa lullaby lelap tidurmu
Nyenyaklah dalam tidurmu
Lepaskan berat beban dunia

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Buah Kreativitas

Bahwa dulu Kho, Nasroen, sampai generasi Taguan Hardjo dan Yan Mintaraga belajar dari komik luar negeri, tapi apa yang dilahirkan masih berbau Indonesia, dan menginjakkan kaki dengan bumi persoalan yang Indonesia. Wajah tokoh-tokoh yang ditampilkan masih bau keringat kita juga, dan anak-anak yang mulai mengenali ketika dewasa tetap mempunyai idiom itu, bukan yang tak bisa dikenali dari mana asal-usulnya, dan dianggap itu satu-satunya yang terbaik.

Masak, sih, untuk berkhayal saja kita didikte negara lain?

-Arswendo Atmowiloto-

Kutipan kalimat dari Arswendo tersebut melambungkan tanya, jangan-jangan pelaku kreatif di Indonesia sudah sebegitu terjajahnya. Dari pola, ide, patokan nilai, penilaian, telah begitu berhamba pada negara-negara maju kreatif. Tengok saja bagaimana ‘pencurian’ terjadi dalam panggung hiburan. Mulai dari musik. Bagaimana bisa tidak mencuri, jika melodi yang muncul begitu serupa? Simak pula cerita di sinetron Indonesia yang terlalu mirip temanya dengan drama di luar negeri.

There’s nothing new under the sun. Saya cukup percaya dengan quotes tersebut. Bahwasanya kreativitas pun terbentuk dari aneka ragam konsumsi. Lalu kreator mengolah konsumsi-konsumsi yang diserapnya menjadi produksi. Konsumsi merupakan referensi dan inspirasi. Namun di tangan orang yang malas, maka terjadilah alih nama kreativitas. Dalam dunia akademik, kita mengenalnya dengan plagiarisme. Dalam lingkup kreativitas, kita mendapatinya pada sejumlah karya yang dengan serampangan menyaplok buah pemikiran orang lain.

Alasan apa yang terkemuka? Bisnis, kesempitan waktu, menjadi sumbu apologi. Bisnis, karena dalam kreativitas bertemu dengan logika untung-rugi. Jikalau mencomot kreativitas di negeri lain, maka secara kualitas telah teruji dan memungkinkan untuk merengguk untung disini. Kesempitan waktu, karena sejatinya proses kreativitas dan menghasilkan membutuhkan waktu. Riset, pemantapan ide cerita, pematangan konsep, merupakan titik-titik yang menghubungkan kreativitas dengan waktu. Contohnya ialah serial Omar yang memerlukan riset tahunan terkait cerita para sahabat Rasulullah, pembangunan setting Timur Tengah di masa berbilang abad yang lalu, dan sebagainya.

Pragmatisme, instan, rupanya menjadi salah satu akar dari kreativitas yang tumpul. Dan kalau mau salah menyalahkan, pelaku kreatif tidak seutuhnya layak menjadi tertuduh 100%. Masyarakat Indonesia sebagai konsumen juga layak didedahkan ikut membentuk pelaku kreatif yang gemar mencomot buah karya orang lain. Pembajakan yang marak di negeri ini merupakan poinnya. Bagaimana akibat dari pembajakan membuat industri musik Indonesia melesu. Tentu saja serta merta berkorelasi pada kreativitas dan produk yang dihasilkan. Seberapa besar penghargaan dari masyarakat Indonesia terhadap kreativitas? Seberapa mau membayar untuk karya kreatif?

Pendidikan Kreativitas

Kreativitas sendiri bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia dapat terpelihara dalam pembiasaan dan komunitas yang menghasilkan. Sebut saja dalam sistem pendidikan. Bagaimana sistem pendidikan Indonesia membelenggu kreativitas dan malahan menyokong pencontekan. Sebut saja dalam pelajaran menggambar. Siswa diajarkan untuk melakukan modelling terhadap contoh gambar yang telah ada. Meniru dalam pelajaran menggambar memang perlu untuk mengasah kemampuan dan memindahkan antara apa yang dilihat menjadi karya. Namun jika dosisnya terlampau banyak akan menyebabkan insting dan naluri kreativitas akan terluruhkan dan terkuburkan.

Kreativitas yang menemui titik senjanya juga dapat ditemui dalam mata pelajaran lainnya. Bagaimana siswa diajarkan untuk menghafal seperti apa yang tertera di buku pelajaran. Seperti there is no alternative. Termasuk dalam informasi dan pengetahuan. Banyaknya porsi pilihan ganda dalam ujian juga mengkerangkeng kreativitas. Jawaban benar hanya satu diantara opsi yang ada. Coba bandingkan dengan metode pembelajaran di Amerika Serikat dimana siswanya lebih ditekankan untuk membuat essai. Hal ini memberikan ruang lebih luas bagi alternatif lainnya. Memberikan ruang bagi kreativitas yang lebih luas. Essai juga memungkinkan hidupnya budaya riset.

Dalam kenang-kenangan belajar ke Amerika, HB Jassin mengisahkan bahwa dia harus membuat makalah untuk kemudian mempresentasikannya. Sistem pembelajaran yang lebih menghasilkan karya seperti diterapkan Amerika Serikat ini membentuk milleu kreativitas dan manusia yang memiliki ritme produktif.

Kreativitas dan Riset

Apa yang ada di isi kepala orang kreatif? Jika menilik pemikiran dari majalah Concept edisi September 2011, maka akan terdapati panel work, play, bersosialisasi, istirahat. Work- porsi ini mengambil bagian paling besar dalam otak manusia kreatif. “Kerja, kerja, kerja”, itulah yang ada di pikiran mereka. Bagaimana mereka memutar otak agar bisa menghasilkan karya yang berbeda dari yang lain. Mereka memang workaholic. Play- selain gila kerja, mereka juga gila bermain. Bagi mereka, bekerja dan bermain harus beriringan dan seimbang untuk mengelakkan diri dari rasa jenuh yang dapat muncul sewaktu-waktu. Maka tak heran, play mengambil bagian cukup besar setelah work. Bersosialisasi- inilah resep kreativitas mereka. Orang kreatif selalu senang bersosialisasi, bergaul dengan banyak orang dengan latar belakang berbeda-beda agar selalu mendapatkan informasi baru setiap saat. Istirahat- orang kreatif bukan manusia super. Mereka tetap manusia biasa yang butuh istirahat agar tenaga terisi kembali. Istirahat meliputi tidur, makan, atau sekadar bengong-bengong di depan kantor.

Saya percaya orang kreatif merupakan penyerap yang baik dari berbagai ‘konsumsi pikiran’ yang ada. Orang kreatif ketika misalkan menonton film akan berusaha menjadikannya sebagai amunisi kreativitas. Tidak berhenti sebagai konsumsi en sich, melainkan sebagai bahan baku kreativitas.

Kreativitas dengan demikian tidak bergerak dari ruang hampa. Kontemplasi ada tentu saja. Inspirasi yang diambil dari karya lain juga telah melalui saringan dan tidak dijiplak mentah-mentah. Inspirasi karya lainnya bagaikan bahan-bahan yang nantinya diracik menjadi senyawa baru.

Contoh nyatanya ialah para komikus Indonesia seperti Djair Warni yang mengakui bahwa dirinya terinspirasi dari komik-komik Marvel. Lalu bagaimana dengan hasil gubahannya? Lihatlah bagaimana Jaka Sembung kuat dengan nuansa keindonesiaan. Mulai dari goretan gambar, ornamen pendukung, penceritaan. Dengan demikian Djair Warni bukan kreator yang kehilangan arah dan sekadar turut arus dari apa yang dikonsumsinya. Ia mampu menunjukkan karakternya. Karena dengan berkarya maka ia menunjukkan karakternya pada dunia.

Kreativitas dan riset bisa ditemui pada sebut saja film Jurassic Park dan Avatar. Untuk membuat bahasa kaum Na’vi, Spielberg menggandeng ahli linguistik. Sedangkan untuk menghadirkan presisi dari dinosaurus yang wara-wiri di film Jurassic Park tentunya dibutuhkan riset komprehensif. Mulai dari tendensi, ukuran badan, pergerakan dari dinosaurus, dan sebagainya.

Lapuknya peradaban ataupun entitas dapat disebabkan oleh defisit dari minoritas kreatif. Seperti dituturkan oleh Arnold Toynbee bahwa creative minority merupakan tenaga yang menggerakkan dan menjadi daya hidup. Dibutuhkan jawaban-jawaban kreatif atas belitan permasalahan dan pertanyaan yang membelit dalam tantangan kehidupan. Jadi bagaimana kabar kreativitas Anda hari ini?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Aku

Menulis 1 Bulan ke Depan

Rapat di kantor pada hari Jumat 14 September 2012 kemarin melabuhkan dan mengevaluasi tentang sejumlah pekerjaan kantor. Dan harus saya akui melihat dan membayangkannya agak jeri juga. Seminimalnya ada tiga tumpukan pekerjaan yang mesti dikerjakan. Saya percaya bahwasanya Allah Swt tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Lalu dengan tiga pekerjaan yang menghadang ini apa yang harus saya lakukan? Pekerjaan pertama semakin berkurang sumbu waktunya. Sementara laju pedal gas penyelesaian masih belum optimal. Pekerjaan kedua merupakan amanah yang kembali disegarkan. Sebenarnya ini terkait dengan klien yang menginstruksikan untuk melambatkan tensi penulisan. Namun logika perusahaan, kali ini mengharuskan saya untuk menggeber dalam satu bulan ke depan. Pekerjaan ketiga merupakan proyek ter-gres yang baru ditanda tangani MOU-nya Senin minggu lalu. Ada lini ekonomi politik yang harus saya kerjakan. Disamping wawancara, studi literatur akan menguras waktu dan tenaga saya.

Bayangan tumpukan tiga pekerjaan itu terus terang mulai membebani pemikiran. Mulai dari pengerjaan, prioritas, waktu. Terlebih genre dari ketiganya berbeda. Saya percaya manusia selalu berada pada upaya equilibrium. Di satu waktu titik equilibriumnya bisa berbeda dengan di waktu lain. Maka dengan ini saya yakini titik equilibrium saya akan menjadi lebih condong pada penyelesaian pekerjaan. Saya akan lebih memfokuskan pada output berupa penulisan. Ada sekian halaman yang harus saya pacu setiap harinya. Mengingat hal tersebut: saya telah berketetapan untuk lebih banyak berada di rumah dan lebih minimalis jam kerja di kantor.

Lebih banyak berada di rumah tentunya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Rupanya saya merupakan tipe orang yang tidak bisa diganggu dan didistraksi dalam mengerjakan sesuatu secara fokus. Dan pada beberapa bagian, kantor menjadi distraksi. Jalur internet, kekurangan literatur berbentuk buku, menjadi penghambat besar. Terkadang pengetikan saya di kantor bergerak seperti siput. Berbeda kiranya dengan di rumah. Dikarenakan di rumah tiada internet, maka saya terbebas dari ‘godaan berselancar internet’. Disamping itu bahan buku di rumah akan menjadi teman diskusi yang akrab dalam menyelesaikan proyek penulisan. Saya juga dapat bekerja dalam nuansa nyaman bergelora di rumah. Saya dapat menutup pintu kamar. Menyepi. Benar-benar mengoptimalkan waktu terfokus pada pedal gas penulisan. Saya telah berketetapan untuk menempuh jalan dengan porsi waktu pengerjaan di rumah.

Ada asumsi pekerjaan jangan dibawa ke rumah. Namun bagi saya personal, justru dengan membawa pekerjaan ke rumah dan saya bekerja di rumah, malahan mendapatkan produktivitas yang lebih aktif. Menulis bagi saya adalah ekspresi personal. Saya harus mengintimi. Mengakrabi kata dan pemikiran di dalamnya. Ia harus hening terkadang. Berdialog dengan diri dan buku. Bertanya dan menemukan jawaban bersama otak dan buku. Menulis bagi saya bukanlah sosialisasi yang terlampau riuh. Dibincangkan, diperbincangkan bahkan ketika masih menjadi embrio tulisan.

Saya coba untuk menarik garis sejarah mengapa saya begitu bisa ketika menemukan ruang personal dalam penulisan. Ternyata semenjak belajar menulis (dan sekarang juga masih belajar menulis) dulu, saya selalu menyukai kesendirian dan sunyi itu. Menuliskan sesuatu dengan cita rasa personal. Ketika proses pengerjaannya benar-benar saya menekuni secara personal. Kata demi katanya. Kalimat demi kalimatnya. Logika demi logikanya. Barulah ketika telah menurut saya layak saji, dibagikan kepada umum. Ternyata saya selalu menarik garis personal dalam karya penulisan. Katakanlah ketika saya berada di tempat ramai dan menulis, maka saya akan membawa kesadaran saya pada dimensi yang berbeda. Dimensi saya.

Ketika dulu di Fisip UI saya juga mendapati keberlanjutan dari gaya proses penciptaan tersebut. Saya akan sibuk sendiri dalam sunyi. Mengobrak-abrik beberapa literatur, mengingat-ingat bacaan yang pernah dibaca, mencoba menyusun jembatan logika. Ketika ada makalah kelompok pun saya biasanya mengerjakan untuk kelompok secara keseluruhan, ataupun mengerjakan di bagian tertentu. Terlampau memperbincangkan tentang seperti apa nantinya tulisan sebisa mungkin saya hindari. Nyatanya menulis adalah proses yang benar-benar menjadi aku. Segala distraksi, fokus lainnya harus meluruh, maka semesta yang melingkupi waktu adalah menulis.

Pengalaman menulis juga memberikan amunisi tambahan dan confidence untuk menghadapi ragam cabaran tulisan. Di waktu lalu, saya pernah menyelesaikan puluhan halaman dalam durasi yang hanya hitungan hari. Itu membuktikan saya mampu. Saya juga percaya saya yang kini merupakan sosok yang lebih memiliki jam terbang dalam menulis. Jam terbang itu memberikan pengetahuan dan keyakinan untuk mencoba mencari cara menyelesaikan problem penulisan. Bekerja di Rakyat Merdeka Books harus saya akui meningkatkan kompetensi dan aktualisasi saya dalam menulis. Latihan terbaik menulis adalah dengan menulis. Dan itu telah saya alami.

Menulis memang terkait dengan faktor teknis dan non teknis. Menulis juga membutuhkan energi. Disinilah dibutuhkan asupan. Asupan fisik dapat berupa makanan dan minuman. Menulis merupakan pekerjaan yang melelahkan juga. Saya jadi ingat bagaimana Kugy (novel Perahu Kertas) yang begitu lahap makannya setelah menyelesaikan tulisan. Saya juga dengan demikian harus membuat lumbung makanan dan minuman. Disamping itu makan dan minum secara berkala. Jangan sampai beban pekerjaan ini semakin meyusutkan kilogram di tubuh dan membuat saya sakit.

Sedangkan soal asupan lainnya, yakni asupan pemikiran. Hal ini dapat ditempuh melalui studi literatur dan wawancara. Terus terang pada pekerjaan panel ketiga, saya cukup bersemangat mengerjakannya dikarenakan sifat welcome dari klien dan ada mentoring pengetahuan yang diberikannya bisa jadi secara mingguan. Saya juga akan mewawancara sejumlah nama yang cukup termasyhur. Bagi saya ini adalah momentum pembelajaran yang akan dapat mengungkit daya intelektual saya. Transfer ilmu saya percaya melalui para pemikir dapat memiliki tingkat kederasan yang epik.

Menantang diri sendiri. Saya pikir itulah yang akan saya hadapi. Ini adalah tantangan bagi saya untuk lebih serius, tekun dalam pekerjaan formal. Ini adalah percabangan yang harus saya lalui. Sementara secara sisi finansial jika semua tiga sisi pekerjaan ini terselesaikan sesuai waktu maka insya Allah kantung saya akan menggelembung secara signifikan. Saya pikir harus ditanamkan di diri saya: menjadi kapitalis itu baik. Kapitalis yang bagaimana memanfaatkan ilmu untuk disubtitusi menjadi uang. Marilah jujur saya memang membutuhkan luberan uang untuk menuju rencana-rencana kontemporer dan masa mendatang.

Baiklah kiranya melalui tulisan ini saya berharap dapat menjadi sarana pengingat tentang arah yang harus saya tuju. Mengurangi ragam kegiatan yang tidak konstruktif bagi fokus pekerjaan. Lebih optimal lagi dalam waktu. Saya percaya workaholic dapat ditempuh. Hidup memang harus memilih: menjadi pecundang, biasa-biasa saja, atau menjadi yang top. Tentu saja banyak yang akan mau menjadi yang top. Namun seberapa banyak yang sedia menjalani peluh, sakit, rumit, sulitnya? Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah karya. Dan saya siap membayarnya dengan fokus yang utuh.

Posted in puisi, sastra

Lara

Tidakkah kau sadari selama ini?
Bagaimanaku menyerap lukamu
Laramu menjadi laraku

Suara hatimu yang tak terungkapkan kepada dunia
Suara hatimu yang teredam
Kanal lukamu yang tersimpan

Aku di sisimu
Sesering apapun kau terjatuh
Sesering apapun kau didera

Tidakkah kau sadari selama ini?
Aku pahamimu
Tanpa perlu kau pahami aku

Puisi ‘Lara’ merupakan modifikasi dari lirik lagu Separuh Aku oleh NOAH. Berikut lirik lagu Separuh Aku

Separuh Aku

Dan terjadi lagi
kisah lama yang terulang kembali
kau terluka lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani

Aku ingin kau merasa
kamu mengerti aku mengerti kamu
aku ingin kau sadari/pahami
Cintamu bukanlah dia

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku dirimu

Ku ada di sini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karena aku selalu
Di dekatmu saat engkau terjatuh

Dengar laraku
Suara hati ini memanggil namamu
Karena separuh aku
menyentuh laramu
Semua lukamu telah menjadi milikku
karena separuh aku dirimu

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, sastra

Mimpi Perahu Kertas

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada diantara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Begitulah kiranya potongan lirik dari lagu perahu kertas. Berlayarnya film Perahu Kertas di bioskop semenjak 16 Agustus 2012 sendiri merupakan sebuah proses yang panjang dan berliku. Film Perahu Kertas sendiri diadaptasi dari novel best seller karangan Dewi Lestari. Dewi Lestari merupakan novelis terkemuka di Indonesia. Sejumlah karyanya telah mendapatkan apresiasi baik dalam segi penjualan dan penghargaan karya sastra. Simak saja keberhasilan Supernova 1: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh menjadi nominator dalam Khatulistiwa Literary Award. Simak pula sanjungan yang diberikan oleh Arswendo Atmowilito dalam endorsement buku Filosofi Kopi, “Kalau kemarin panitia Nobel Sastra masih maju mundur dengan nama Pramoedya, sekarang bisa memaknai kembali, melalui karya-karya ini.”

Film Perahu Kertas sendiri langsung dikawal oleh Dewi Lestari sebagai penulis skenarionya. Hal ini memungkinkan alur dan penjiwaan versi filmnya memiliki benang merah yang sama dengan versi novelnya. Adapun sutradara dari film Perahu Kertas dipercayakan kepada Hanung Bramantyo. Hanung Bramantyo sendiri merupakan sutradara yang telah sukses dalam sejumlah sineas. Sebut saja film Jomblo, Ayat-Ayat Cinta, Brownies, Catatan Akhir Sekolah, Get Married, Sang Pencerah, Tanda Tanya, yang merupakan sederetan dari buah tangan dingin sutradara muda ini. Jika dikomparasi dengan rekam jejak sebelumnya, maka Hanung merupakan sosok yang tepat. Secara novel, Perahu Kertas memiliki kemiripan gaya dan tema dengan film Jomblo. Ada persahabatan, cinta, sisi drama yang ingin diungkap. Sedangkan dalam versi adaptasi dari versi novel, sebelumnya Hanung Bramantyo telah membuktikan dengan 3,6 juta penonton bioskop yang menyaksikan film Ayat-Ayat Cinta. Ayat-Ayat Cinta sendiri awalnya merupakan novel best seller karangan Habiburrahman El Shirazy yang menyegarkan kembali sastra Islam.

Film Perahu Kertas memadukan sejumlah nama muda dan nama senior dalam deretan pemainnya. Tengok saja bagaimana August Melasz sang aktor langganan antagonis yang kedapatan menjadi Adri (ayah Keenan), Tio Pakusadewo yang menjadi cinta masa lalu dari ibu Keenan (Wayan), Titi Dwijayanti (ibu dari Kugy). Sedangkan sejumlah nama muda yang hadir merupakan sosok yang telah memiliki reputasi mumpuni. Reza Rahadian yang mendapatkan penghargaan dari Festival Film Indonesia untuk aktor pendukung terbaik (2009), dan aktor terbaik (2010), kedapatan peran sebagai Remi (pacar dari Kugy). Sedangkan dua tokoh utama ditempati oleh Maudy Ayunda (Kugy) dan Adipati Dolken (Keenan). Maudy Ayunda sebelumnya telah dikenal sebagai pemeran Zakiah Nurmala dalam film Sang Pemimpi, serta sebagai pemeran Indah dalam film Tendangan dari Langit. Maudy Ayunda tidak hanya piawai beradu karakter, melainkan juga memiliki kemampuan vokal yang menawan. Ia sebelumnya telah melemparkan album dengan single Tiba-Tiba Cinta Datang. Tak berlebihan jika dalam film Perahu Kertas, original soundtrack-nya diisi oleh suara jernih Maudy Ayunda.

Film Perahu Kertas berintikan pada dua tokoh utama yakni Kugy dan Keenan. Kugy digambarkan sebagai sosok mungil, pengkhayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Tokoh yang satu lagi adalah Keenan. Keenan merupakan seorang yang cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujudkan lukisan-lukisan magis. Mereka berhadapan dengan hamparan misteri dan rintangan tentang hidup. Pertanyaan besarnya ialah akankah dongeng dan lukisan itu bersatu? Akankah hati dan impian mereka bertemu?

Film Perahu Kertas merupakan kisah tentang para pemimpi. Keenan memiliki mimpi besar sebagai pelukis. Namun mimpinya ini terbentur dengan keinginan ayahnya yang menginginkan si sulung ini menjadi penerusnya di perusahaan trading yang dibangunnya. Sedangkan Kugy memiliki ekspektasi sebagai juru dongeng. Sebuah profesi yang kiranya sukar untuk mendapatkan imbalan finansial yang memadai. Seperti diungkap dalam potongan dialog berikut:”Asal kamu tahu, di negara ini, cuma segegilintir penulis yang bisa cari makan dari nulis tok. Kebanyakan dari mereka punya pekerjaan lain, jadi wartawan kek, dosen kek, copy writer di biro iklan kek. Apalagi kalau mau jadi penulis dongeng! Sekalipun aku serius mencintai dongeng, tapi penulis dongeng bukan pekerjaan ‘serius’. Nggak bisa makan.”

Perjalanan menggapai mimpi memang bukanlah sebuah perjalanan yang mudah. Ada rintangan, cabaran yang harus dilalui. Tantangan itulah kiranya yang membentuk karakter dan sekaligus menguji kesungguhan para pemimpi untuk mewujudkan harapannya. Keenan sendiri dalam mewujudkan mimpinya harus ‘patah’ terlebih dahulu. Ia memilih mengundurkan diri dari jurusan Manajemen sekalipun indeks prestasi yang didapatkannya tertinggi di angkatannya selama dua semester. Keenan juga sempat ‘patah’ dan seakan terselaput mendung dari inspirasi begitu mengetahui bahwa lukisannya yang terjual sesungguhnya hanya dibeli oleh satu nama yakni Wanda. Wanda sendiri pernah menjadi pacar Keenan dan terobsesi sangat pada Keenan.

Kugy dalam perjalanannya meniti mimpi juga mendapatkan rintangan tak kalah peliknya. Mulai dari kisah cintanya yang rumit dengan Keenan, goyahnya persahabatannya dengan Noni teman dari masa kecilnya. Kugy sendiri sempat seakan melepas mimpinya menjadi juru dongeng setelah menjadi prodigy di dunia periklanan.

Orang muda yang suka berkarya, begitulah kiranya frasa yang tepat untuk menggambarkan Keenan dan Kugy. Keenan dengan lukisannya dan Kugy dengan dongengnya. Hal tersebut kiranya yang layak untuk diduplikasi oleh segenap kalangan muda Indonesia. Untuk tiada terjebak dalam arus komersialisme, konsumsi en sich. Bagaimana melalui dua sosok Kugy dan Keenan rangkaian karya kreatif tercipta. Kombinasi antara dua talenta ini sendiri tersuguh melalui karya kolaobrasi dimana Kugy menuliskan cerita dongeng dan Keenan membuat ilustrasinya. Melalui medium karya inilah cinta dua insan ini menemui kanalnya secara nyata. Simaklah suara hati nan puitis dari Kugy berikut:

Hari ini aku bermimpi.
Aku bermimpi menuliskan buku dongeng pertamaku.
Sejak kamu membuatkanku ilustrasi-ilustrasi ini, aku merasa mimpiku semakin dekat.
Belum pernah sedekat ini.
Hari ini aku juga bermimpi.
Aku bermimpi bisa selamanya menulis dongeng.
Aku bermimpi bisa berbagi dunia itu bersama kamu dan ilustrasimu.
Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi.
Bersama kamu, aku ingin memberi judul bagi buku ini.
Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.
Selamat Ulang Tahun.

Di tengah kepungan pragmatisme dan instanisme yang ada, banyak kiranya manusia yang mengibarkan bendera putih pada mimpi yang dimilikinya. Menyerah dengan realitas yang dihadapi dalam siklus keseharian. Padahal seperti diungkap oleh Albert Einstein, bahwa imajinasi lebih berharga dari sekadar ilmu pasti. Melalui imajinasi para pemimpi yang diturunkan ke bumi inilah terjadi inovasi, kreativitas, karya yang monumental. Mimpi memberikan cakrawala, visi yang jauh ke depan, harapan.

Para pemimpi adalah orang-orang biasa, namun keinginannya untuk memenuhi mimpinya melebihi rata-rata orang biasa. Hal yang terkonfirmasi dalam film Perahu Kertas, bagaimana keteguhan hati dari Keenan dan Kugy untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Gagal, kecewa, ‘patah’, terhempas, pernah mereka alami dalam skema perjalanan menuju ekspektasi. Namun lihatlah bagaimana ketegaran dan keteguhan hati yang mereka miliki. Sehingga meminjam istilah Paulo Coelho, ‘Jika kamu berkeinginan, maka alam semesta akan membantumu’. Berlayarlah perahu kertas ke laut lepas kehidupan. Selamat berlayar dan memperjuangkan mimpi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sejarah, Sosial Budaya

Sekolah

Berikut ini akan saya kutipkan tulisan berbilangan waktu 3 Juli 1982 dari seorang Goenawan Mohamad (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 244-245). Selamat menikmati.

Dulu, konon orang menyebut sekolah dari kata schole bahasa Yunani. Konon pula kata itu berarti semacam waktu senggang, kesempatan sang guru dan sang murid saling bertemu, memberi dan menerima. Kini, waktu senggang justru semacam pengkhianatan terhadap sekolah. Di seluruh dunia orang tidak tahu lagi kata schole seperti itu. Orang Jepang menyebut masa testing sebagai shiken jigoku, “neraka ujian”. Tiap tahun 700.000 murid mencoba menerobos ke universitas, tentu saja memperebutkan yang top. Tapi di Todai, Universitas Tokyo, hanya ada 14.000 tempat.

Persaingan itu, anakku, memang mengerikan. Sejak umur enam tahun anak-anak Jepang harus menghadapi pelajaran tujuh jam sehari – dan selama 12 tahun mereka harus demikian. Mereka belajar tak putus-putusnya, dan menambah jam yang mencekik itu dengan les tambahan dalam juku.

Di waktu malam, ada anak-anak yang karena takut mengantuk, membiarkan diri diguyur air dingin di kepala. Mereka tak boleh terlalu enak beristirahat. Mereka harus siap untuk sekolah tinggi yang baik, yang berarti jabatan di perusahaan yang baik. Mereka harus keras.

Pernah ada sebuah universitas yang mengirim surat penolakan kepada seorang calon mahasiswa yang gagal: “Anda tak dapat terus hidup kalau anda tidak tangguh.” Tak heran bila di Jepang sana dari tiap 100.000 anak remaja terdapat 17 kasus bunuh diri.

Tapi, nak, barangkali itulah bayaran bagi Jepang. Inilah negeri yang kini disebut No. 1….

Tapi tidakkah itu juga negeri para robot, makhluk cetakan yang hanya disiapkan untuk perusahaan raksasa? Bukankah pendidikan ialah untuk menumbuhkan kepribadian, memperkaya rohani, melatih akal budi dan penalaran? Memelihara terusnya peradaban manusia?

Sekolah pun jadi semacam pabrik, dan sekaligus alat penyaring. Masyarakat, kata orang, mencari mereka yang paling produktif dan paling sanggup meningkatkan pertumbuhan baru. Mereka membuka pintu untuk mendapatkan suatu lapisan terpilih.

Maka ketika kian banyak tenaga yang datang berduyun-duyun mau melewati pintu yang sempit itu, makin banyak pula rintangan dipasang. Dulu tak ada ujian SKALU. Dulu tiap ijazah hampir berarti jaminan ke sekolah yang lebih tinggi. Kini semua itu tak berlaku lagi. Alat-alat penapis baru disiapkan. Tentu saja untuk itu biaya bertambah: masyarakat harus membayar ekstra – sementara tak berarti bahwa tenaga yang lolos akan lebih produktif akibatnya. Tapi mereka tak mengeluh juga rupanya.

Karena pilihan masih lebih luas dari sekedar atau – jadi – robot – atau – hara-kiri, anakku. Dan itu berarti harapan, mungkin setelah kegagalan. Setidaknya itulah doaku, anakku, dan rasa syukurku….

Berikut ini akan saya kutipkan tulisan dari seorang Onghokham (Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo 15 Tahun (1971-1986), hlm. 163-164). Selamat menikmati.

Para jebolan (drop-out), entah dari SD SLP/SLA atau universitas, kini merupakan suatu soal, dan mengandung konotasi yang jelek. Padahal, sebenarnya banyak pihak swasta yang berhasil adalah para jebolan. Majalah Tempo sendiri mula-mula, adalah kumpulan para jebolan. Goenawan Mohamad jebolan Fakultas Psikologi UI; Fikri Jufri jebolan Fakultas Ekonomi UI; Salim Said waktu bergabung dengan Tempo seorang calon jebolan yang kuat, tapi akhirnya menyelesaikan studinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP UI) dan baru kembali dari Ohio University dengan Ph.D. dalam ilmu politik. Ada beberapa lagi, seperti Isma Sawitri, atau Toeti Kakuailatu-yang sudah selesai dengan studinya dalam ilmu antropologi dan FS UI. Para jebolan itu sangat berhasil dalam mengelola majalah Tempo yang dikatakan terbaik di negara ini. Keberhasilan di swasta sering tidak ada hubungan dengan dunia akademis- biarpun bisa, tentunya. Ini membuktikan bahwa selain di universitas, di samping lembaga pendidikan apa pun kehidupan sendiri dan energi sendiri merupakan suatu bekal pematangan intelektual.

Justru mungkin karena tokoh tokoh Tempo berada di luar universitas, dan tertutupnya karier-karier akademis dan pegawai negeri, mereka harus dapat lebih membuktikan diri daripada orang di dalam karier mapan. Ataukah karier-karier mapan ini demikian memenjarakan orang sehingga pun yang paling berbakat harus hanya mengikuti jenjang kenaikan pangkat atas dasar senioritas tanpa perlu membuktikan karya? Sejarah intelektual dan politik Indonesia tidak dapat dimengerti sepenuhnya tanpa memperhitungkan orang-orang jebolan brilyannya. Contoh utama: Sutan Sjahrir, Soedjatmoko, Soedarpo, dan lain-lain. Orang pergerakan, biarpun menyelesaikan karier akademisnya, seperti Soekarno, Hatta, Sastroamidjojo, dan Sartono, mungkin juga dianggap jebolan dalam karier kepegawaian Hindia Belanda.

Berikut ini akan saya kutipkan tulisan berbilangan waktu 19 Agustus 1978 dari seorang Goenawan Mohamad (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1, hlm. 357-359). Selamat menikmati.

Untuk apa belajar ilmu ukur?

Tapi pak kepala sekolah itu rupanya tahu bahwa anak-anak akan diam. Maka suaranya pun seperti bergumam, ketika ia menyelesaikan sendiri pertanyaan yang ia lontarkan tadi: “Kamu semua belajar ilmu ukur bukan untuk jadi insinyur. Tapi supaya terlatih berpikir logis, yaitu teratur.”

Lalu, dengan antusiasme mengajar yang khas padanya, ia pun menjelaskan. Satu soal misalnya menyebutkan hal-hal yang sudah diketahui dari sebuah bangunan geometri. Ada rumus-rumus yang menyimpulkan pelbagai hubungan dalam bangunan seperti itu. Nah, jika anak-anak diminta membuktikan suatu hal dari dalam soal itu, mereka harus berpikir secara teratur: dari hal-hal yang sudah diketahui sampai kesimpulan bisa ditarik.

Ilusi yang terpokok ialah ilusi tentang pendidikan sekolah serta tujuannya. Sudah tentu salah bahwa tujuan bersekolah di universitas adalah untuk mendapatkan gelar. Tapi tak kurang salahnya untuk mengira bahwa di universitas orang akan menemukan pusat ilmu, ataupun puncak pendidikan keterampilan.

Sebab bak kata Rasul Tuhan, orang harus mencari ilmu dari buaian sampai ke liang lahad. Dewasa ini para pemikir pendidikan juga berbicara tentang “pendidikan seumur hidup”. Dan dalam proses itu, universitas hanyalah sepotong kecil. Seorang doktorandus, seorang PhD, barulah mengambil bekal untuk perjalanan panjang yang sebenarnya. Mereka belum selesai- juga belum selesai bodohnya.

Karena itu seandainya Pak Susman masih hidup, ia pasti akan bilang “Kamu masuk universitas, itu supaya bisa terlatih berpikir ilmiah.” Itu saja, kalau dapat.

Demikianlah isi dari blog saya pada kesempatan ini. Saya tidak berpanjang kata menjelaskan rupa hal terkait frasa ‘sekolah’. Biarlah para pemikir yang saya kutipkan yang membedah dan mendedah tentang kata sekolah. Contekan pemikiran saya demikian adanya. Bagaimana dengan contekan pemikiran Anda?