Posted in Aku

Menulis 1 Bulan ke Depan

Rapat di kantor pada hari Jumat 14 September 2012 kemarin melabuhkan dan mengevaluasi tentang sejumlah pekerjaan kantor. Dan harus saya akui melihat dan membayangkannya agak jeri juga. Seminimalnya ada tiga tumpukan pekerjaan yang mesti dikerjakan. Saya percaya bahwasanya Allah Swt tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Lalu dengan tiga pekerjaan yang menghadang ini apa yang harus saya lakukan? Pekerjaan pertama semakin berkurang sumbu waktunya. Sementara laju pedal gas penyelesaian masih belum optimal. Pekerjaan kedua merupakan amanah yang kembali disegarkan. Sebenarnya ini terkait dengan klien yang menginstruksikan untuk melambatkan tensi penulisan. Namun logika perusahaan, kali ini mengharuskan saya untuk menggeber dalam satu bulan ke depan. Pekerjaan ketiga merupakan proyek ter-gres yang baru ditanda tangani MOU-nya Senin minggu lalu. Ada lini ekonomi politik yang harus saya kerjakan. Disamping wawancara, studi literatur akan menguras waktu dan tenaga saya.

Bayangan tumpukan tiga pekerjaan itu terus terang mulai membebani pemikiran. Mulai dari pengerjaan, prioritas, waktu. Terlebih genre dari ketiganya berbeda. Saya percaya manusia selalu berada pada upaya equilibrium. Di satu waktu titik equilibriumnya bisa berbeda dengan di waktu lain. Maka dengan ini saya yakini titik equilibrium saya akan menjadi lebih condong pada penyelesaian pekerjaan. Saya akan lebih memfokuskan pada output berupa penulisan. Ada sekian halaman yang harus saya pacu setiap harinya. Mengingat hal tersebut: saya telah berketetapan untuk lebih banyak berada di rumah dan lebih minimalis jam kerja di kantor.

Lebih banyak berada di rumah tentunya untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Rupanya saya merupakan tipe orang yang tidak bisa diganggu dan didistraksi dalam mengerjakan sesuatu secara fokus. Dan pada beberapa bagian, kantor menjadi distraksi. Jalur internet, kekurangan literatur berbentuk buku, menjadi penghambat besar. Terkadang pengetikan saya di kantor bergerak seperti siput. Berbeda kiranya dengan di rumah. Dikarenakan di rumah tiada internet, maka saya terbebas dari ‘godaan berselancar internet’. Disamping itu bahan buku di rumah akan menjadi teman diskusi yang akrab dalam menyelesaikan proyek penulisan. Saya juga dapat bekerja dalam nuansa nyaman bergelora di rumah. Saya dapat menutup pintu kamar. Menyepi. Benar-benar mengoptimalkan waktu terfokus pada pedal gas penulisan. Saya telah berketetapan untuk menempuh jalan dengan porsi waktu pengerjaan di rumah.

Ada asumsi pekerjaan jangan dibawa ke rumah. Namun bagi saya personal, justru dengan membawa pekerjaan ke rumah dan saya bekerja di rumah, malahan mendapatkan produktivitas yang lebih aktif. Menulis bagi saya adalah ekspresi personal. Saya harus mengintimi. Mengakrabi kata dan pemikiran di dalamnya. Ia harus hening terkadang. Berdialog dengan diri dan buku. Bertanya dan menemukan jawaban bersama otak dan buku. Menulis bagi saya bukanlah sosialisasi yang terlampau riuh. Dibincangkan, diperbincangkan bahkan ketika masih menjadi embrio tulisan.

Saya coba untuk menarik garis sejarah mengapa saya begitu bisa ketika menemukan ruang personal dalam penulisan. Ternyata semenjak belajar menulis (dan sekarang juga masih belajar menulis) dulu, saya selalu menyukai kesendirian dan sunyi itu. Menuliskan sesuatu dengan cita rasa personal. Ketika proses pengerjaannya benar-benar saya menekuni secara personal. Kata demi katanya. Kalimat demi kalimatnya. Logika demi logikanya. Barulah ketika telah menurut saya layak saji, dibagikan kepada umum. Ternyata saya selalu menarik garis personal dalam karya penulisan. Katakanlah ketika saya berada di tempat ramai dan menulis, maka saya akan membawa kesadaran saya pada dimensi yang berbeda. Dimensi saya.

Ketika dulu di Fisip UI saya juga mendapati keberlanjutan dari gaya proses penciptaan tersebut. Saya akan sibuk sendiri dalam sunyi. Mengobrak-abrik beberapa literatur, mengingat-ingat bacaan yang pernah dibaca, mencoba menyusun jembatan logika. Ketika ada makalah kelompok pun saya biasanya mengerjakan untuk kelompok secara keseluruhan, ataupun mengerjakan di bagian tertentu. Terlampau memperbincangkan tentang seperti apa nantinya tulisan sebisa mungkin saya hindari. Nyatanya menulis adalah proses yang benar-benar menjadi aku. Segala distraksi, fokus lainnya harus meluruh, maka semesta yang melingkupi waktu adalah menulis.

Pengalaman menulis juga memberikan amunisi tambahan dan confidence untuk menghadapi ragam cabaran tulisan. Di waktu lalu, saya pernah menyelesaikan puluhan halaman dalam durasi yang hanya hitungan hari. Itu membuktikan saya mampu. Saya juga percaya saya yang kini merupakan sosok yang lebih memiliki jam terbang dalam menulis. Jam terbang itu memberikan pengetahuan dan keyakinan untuk mencoba mencari cara menyelesaikan problem penulisan. Bekerja di Rakyat Merdeka Books harus saya akui meningkatkan kompetensi dan aktualisasi saya dalam menulis. Latihan terbaik menulis adalah dengan menulis. Dan itu telah saya alami.

Menulis memang terkait dengan faktor teknis dan non teknis. Menulis juga membutuhkan energi. Disinilah dibutuhkan asupan. Asupan fisik dapat berupa makanan dan minuman. Menulis merupakan pekerjaan yang melelahkan juga. Saya jadi ingat bagaimana Kugy (novel Perahu Kertas) yang begitu lahap makannya setelah menyelesaikan tulisan. Saya juga dengan demikian harus membuat lumbung makanan dan minuman. Disamping itu makan dan minum secara berkala. Jangan sampai beban pekerjaan ini semakin meyusutkan kilogram di tubuh dan membuat saya sakit.

Sedangkan soal asupan lainnya, yakni asupan pemikiran. Hal ini dapat ditempuh melalui studi literatur dan wawancara. Terus terang pada pekerjaan panel ketiga, saya cukup bersemangat mengerjakannya dikarenakan sifat welcome dari klien dan ada mentoring pengetahuan yang diberikannya bisa jadi secara mingguan. Saya juga akan mewawancara sejumlah nama yang cukup termasyhur. Bagi saya ini adalah momentum pembelajaran yang akan dapat mengungkit daya intelektual saya. Transfer ilmu saya percaya melalui para pemikir dapat memiliki tingkat kederasan yang epik.

Menantang diri sendiri. Saya pikir itulah yang akan saya hadapi. Ini adalah tantangan bagi saya untuk lebih serius, tekun dalam pekerjaan formal. Ini adalah percabangan yang harus saya lalui. Sementara secara sisi finansial jika semua tiga sisi pekerjaan ini terselesaikan sesuai waktu maka insya Allah kantung saya akan menggelembung secara signifikan. Saya pikir harus ditanamkan di diri saya: menjadi kapitalis itu baik. Kapitalis yang bagaimana memanfaatkan ilmu untuk disubtitusi menjadi uang. Marilah jujur saya memang membutuhkan luberan uang untuk menuju rencana-rencana kontemporer dan masa mendatang.

Baiklah kiranya melalui tulisan ini saya berharap dapat menjadi sarana pengingat tentang arah yang harus saya tuju. Mengurangi ragam kegiatan yang tidak konstruktif bagi fokus pekerjaan. Lebih optimal lagi dalam waktu. Saya percaya workaholic dapat ditempuh. Hidup memang harus memilih: menjadi pecundang, biasa-biasa saja, atau menjadi yang top. Tentu saja banyak yang akan mau menjadi yang top. Namun seberapa banyak yang sedia menjalani peluh, sakit, rumit, sulitnya? Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah karya. Dan saya siap membayarnya dengan fokus yang utuh.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Menulis 1 Bulan ke Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s