Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Buah Kreativitas

Bahwa dulu Kho, Nasroen, sampai generasi Taguan Hardjo dan Yan Mintaraga belajar dari komik luar negeri, tapi apa yang dilahirkan masih berbau Indonesia, dan menginjakkan kaki dengan bumi persoalan yang Indonesia. Wajah tokoh-tokoh yang ditampilkan masih bau keringat kita juga, dan anak-anak yang mulai mengenali ketika dewasa tetap mempunyai idiom itu, bukan yang tak bisa dikenali dari mana asal-usulnya, dan dianggap itu satu-satunya yang terbaik.

Masak, sih, untuk berkhayal saja kita didikte negara lain?

-Arswendo Atmowiloto-

Kutipan kalimat dari Arswendo tersebut melambungkan tanya, jangan-jangan pelaku kreatif di Indonesia sudah sebegitu terjajahnya. Dari pola, ide, patokan nilai, penilaian, telah begitu berhamba pada negara-negara maju kreatif. Tengok saja bagaimana ‘pencurian’ terjadi dalam panggung hiburan. Mulai dari musik. Bagaimana bisa tidak mencuri, jika melodi yang muncul begitu serupa? Simak pula cerita di sinetron Indonesia yang terlalu mirip temanya dengan drama di luar negeri.

There’s nothing new under the sun. Saya cukup percaya dengan quotes tersebut. Bahwasanya kreativitas pun terbentuk dari aneka ragam konsumsi. Lalu kreator mengolah konsumsi-konsumsi yang diserapnya menjadi produksi. Konsumsi merupakan referensi dan inspirasi. Namun di tangan orang yang malas, maka terjadilah alih nama kreativitas. Dalam dunia akademik, kita mengenalnya dengan plagiarisme. Dalam lingkup kreativitas, kita mendapatinya pada sejumlah karya yang dengan serampangan menyaplok buah pemikiran orang lain.

Alasan apa yang terkemuka? Bisnis, kesempitan waktu, menjadi sumbu apologi. Bisnis, karena dalam kreativitas bertemu dengan logika untung-rugi. Jikalau mencomot kreativitas di negeri lain, maka secara kualitas telah teruji dan memungkinkan untuk merengguk untung disini. Kesempitan waktu, karena sejatinya proses kreativitas dan menghasilkan membutuhkan waktu. Riset, pemantapan ide cerita, pematangan konsep, merupakan titik-titik yang menghubungkan kreativitas dengan waktu. Contohnya ialah serial Omar yang memerlukan riset tahunan terkait cerita para sahabat Rasulullah, pembangunan setting Timur Tengah di masa berbilang abad yang lalu, dan sebagainya.

Pragmatisme, instan, rupanya menjadi salah satu akar dari kreativitas yang tumpul. Dan kalau mau salah menyalahkan, pelaku kreatif tidak seutuhnya layak menjadi tertuduh 100%. Masyarakat Indonesia sebagai konsumen juga layak didedahkan ikut membentuk pelaku kreatif yang gemar mencomot buah karya orang lain. Pembajakan yang marak di negeri ini merupakan poinnya. Bagaimana akibat dari pembajakan membuat industri musik Indonesia melesu. Tentu saja serta merta berkorelasi pada kreativitas dan produk yang dihasilkan. Seberapa besar penghargaan dari masyarakat Indonesia terhadap kreativitas? Seberapa mau membayar untuk karya kreatif?

Pendidikan Kreativitas

Kreativitas sendiri bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia dapat terpelihara dalam pembiasaan dan komunitas yang menghasilkan. Sebut saja dalam sistem pendidikan. Bagaimana sistem pendidikan Indonesia membelenggu kreativitas dan malahan menyokong pencontekan. Sebut saja dalam pelajaran menggambar. Siswa diajarkan untuk melakukan modelling terhadap contoh gambar yang telah ada. Meniru dalam pelajaran menggambar memang perlu untuk mengasah kemampuan dan memindahkan antara apa yang dilihat menjadi karya. Namun jika dosisnya terlampau banyak akan menyebabkan insting dan naluri kreativitas akan terluruhkan dan terkuburkan.

Kreativitas yang menemui titik senjanya juga dapat ditemui dalam mata pelajaran lainnya. Bagaimana siswa diajarkan untuk menghafal seperti apa yang tertera di buku pelajaran. Seperti there is no alternative. Termasuk dalam informasi dan pengetahuan. Banyaknya porsi pilihan ganda dalam ujian juga mengkerangkeng kreativitas. Jawaban benar hanya satu diantara opsi yang ada. Coba bandingkan dengan metode pembelajaran di Amerika Serikat dimana siswanya lebih ditekankan untuk membuat essai. Hal ini memberikan ruang lebih luas bagi alternatif lainnya. Memberikan ruang bagi kreativitas yang lebih luas. Essai juga memungkinkan hidupnya budaya riset.

Dalam kenang-kenangan belajar ke Amerika, HB Jassin mengisahkan bahwa dia harus membuat makalah untuk kemudian mempresentasikannya. Sistem pembelajaran yang lebih menghasilkan karya seperti diterapkan Amerika Serikat ini membentuk milleu kreativitas dan manusia yang memiliki ritme produktif.

Kreativitas dan Riset

Apa yang ada di isi kepala orang kreatif? Jika menilik pemikiran dari majalah Concept edisi September 2011, maka akan terdapati panel work, play, bersosialisasi, istirahat. Work- porsi ini mengambil bagian paling besar dalam otak manusia kreatif. “Kerja, kerja, kerja”, itulah yang ada di pikiran mereka. Bagaimana mereka memutar otak agar bisa menghasilkan karya yang berbeda dari yang lain. Mereka memang workaholic. Play- selain gila kerja, mereka juga gila bermain. Bagi mereka, bekerja dan bermain harus beriringan dan seimbang untuk mengelakkan diri dari rasa jenuh yang dapat muncul sewaktu-waktu. Maka tak heran, play mengambil bagian cukup besar setelah work. Bersosialisasi- inilah resep kreativitas mereka. Orang kreatif selalu senang bersosialisasi, bergaul dengan banyak orang dengan latar belakang berbeda-beda agar selalu mendapatkan informasi baru setiap saat. Istirahat- orang kreatif bukan manusia super. Mereka tetap manusia biasa yang butuh istirahat agar tenaga terisi kembali. Istirahat meliputi tidur, makan, atau sekadar bengong-bengong di depan kantor.

Saya percaya orang kreatif merupakan penyerap yang baik dari berbagai ‘konsumsi pikiran’ yang ada. Orang kreatif ketika misalkan menonton film akan berusaha menjadikannya sebagai amunisi kreativitas. Tidak berhenti sebagai konsumsi en sich, melainkan sebagai bahan baku kreativitas.

Kreativitas dengan demikian tidak bergerak dari ruang hampa. Kontemplasi ada tentu saja. Inspirasi yang diambil dari karya lain juga telah melalui saringan dan tidak dijiplak mentah-mentah. Inspirasi karya lainnya bagaikan bahan-bahan yang nantinya diracik menjadi senyawa baru.

Contoh nyatanya ialah para komikus Indonesia seperti Djair Warni yang mengakui bahwa dirinya terinspirasi dari komik-komik Marvel. Lalu bagaimana dengan hasil gubahannya? Lihatlah bagaimana Jaka Sembung kuat dengan nuansa keindonesiaan. Mulai dari goretan gambar, ornamen pendukung, penceritaan. Dengan demikian Djair Warni bukan kreator yang kehilangan arah dan sekadar turut arus dari apa yang dikonsumsinya. Ia mampu menunjukkan karakternya. Karena dengan berkarya maka ia menunjukkan karakternya pada dunia.

Kreativitas dan riset bisa ditemui pada sebut saja film Jurassic Park dan Avatar. Untuk membuat bahasa kaum Na’vi, Spielberg menggandeng ahli linguistik. Sedangkan untuk menghadirkan presisi dari dinosaurus yang wara-wiri di film Jurassic Park tentunya dibutuhkan riset komprehensif. Mulai dari tendensi, ukuran badan, pergerakan dari dinosaurus, dan sebagainya.

Lapuknya peradaban ataupun entitas dapat disebabkan oleh defisit dari minoritas kreatif. Seperti dituturkan oleh Arnold Toynbee bahwa creative minority merupakan tenaga yang menggerakkan dan menjadi daya hidup. Dibutuhkan jawaban-jawaban kreatif atas belitan permasalahan dan pertanyaan yang membelit dalam tantangan kehidupan. Jadi bagaimana kabar kreativitas Anda hari ini?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s