Posted in Aku, Buku, Essai, Sosial Budaya

Cinta Adalah Memberi

Berikut ini akan saya resumekan buah pemikiran dari Anis Matta. Seorang intelektual muslim Indonesia yang memiliki spektrum ilmu luas serta mumpuni. Saya pikir buah pemikiran ini berguna adanya untuk menakar perasaan dan menata hati. Semoga tiada lagi berduka hati dan merawankan pemikiran. Selamat membaca.

(Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 20)
“Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan ‘efek samping’ sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati. Menyelesaikan masalah dengan membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekadar kekuatan fisik.” (Cinta, Seksualitas, Matriarki, Gender; 291; 2002).

(Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 42-43)
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai di sana. “Apabila ada cinta di hati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “sebab tangan yang satu takkan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain.” Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.

Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung:mencintai.

Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya:”Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.

Jadi kita hanya patah atau hancur karena kita lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita?

(Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 49)
Jika cinta adalah tindakan memberi, maka dari sanalah datangnya semua kebajikan dalam diri seorang penguasa: mendengar, melayani, membagi, melindungi, adil dan menyejahterakan. Jadi hanya dalam genggaman cinta kekuasaan berubah jadi alat untuk melindungi, melayani dan menyejahterakan. Di sana sang Aku bukan lagi kuda liar yang setiap saat bisa melompat dari kandang dengan energi kekuasaan. Sang Aku dalam genggaman cinta adalah mata air kebajikan yang pada suatu saat bertemu dengan hujan deras kekuasaan, maka jadilah ia banjir: kebajikan melimpah ruah dalam muara masyarakat manusia.

(Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 50-52)
Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi, dan tindakan. Gagasannya adalah tentang bagaimana membuat orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik, dan berbahagia karenanya. Ia juga emosi yang penuh kehangatan dan gelora karena seluruh isinya adalah semata-mata keinginan baik. Tapi ia harus mengejawantah dalam tindakan nyata. Sebab gagasan dan emosi tidak merubah apa pun dalam kehidupan kita kecuali setelah ia menjelma jadi aksi.

Cinta dalam pengertian yang luas inilah yang menjamin bahwa suatu hubungan dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Tidak ada hubungan yang dapat dipertahankan – dalam jangka panjang – jika kita tidak mempunyai suatu gagasan tentang bagaimana membuatnya menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kebosanan dalam hubungan suami istri, misalnya, sering terjadi karena keduanya secara personal sama-sama tidak berkembang. Mereka sama-sama mengalami “penyusutan” kualitas kepribadian bersama perjalanan umur. Karenanya mereka sama-sama membosankan.

Mencintai –dengan begitu- adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan kepribadian. Maka para pecinta sejati selalu mengembangkan kepribadian mereka secara terus menerus. Sebab hanya dengan begitu mereka dapat mengembangkan kemampuan mereka mencintai. Cinta dan kepribadian adalah dua kata yang tumbuh bersama dan sejajar. Makin kuat kepribadian kita makin mampu kita mencintai dengan kuat. Mengandalkan perasaan saja dalam mencintai hanya akan melahirkan para pembual yang menguasai hanya satu keterampilan:menebar janji.

(Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 55-56)
Para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga.

Rencana memberi yang terus terealisasi menciptakan ketergantungan. Seperti pohon tergantung dari siraman air dan cahaya matahari. Itu ketergantungan produktif. Ketergantungan yang menghidupkan. Di garis hakikat ini, cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup. Karena itu kehidupan yang mereka bangun seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang menikmatinya. Tapi begitu sang pemberi pergi, mereka segera merasakan kehilangan yang menyayat hati. Tiba-tiba ada ruang besar yang kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang.

Barangkali suatu saat kamu tergoda untuk menguji dirimu sendiri. Apakah kamu seorang pencinta sejati atau pencinta palsu. Caranya sederhana. Simak dulu pesan Umar bin Khattab ini: hanya ada satu dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat: merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung.

(Anis Matta, Serial Cinta, hlm. 71-72)
Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, “Aku mencintaimu,” kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

Advertisements
Posted in puisi, sastra

Balon Warna Warni

Ada begitu banyak tanya yang ingin kupertanyakan padamu
Ada begitu banyak pintu perasaanmu yang ingin kuketuk
Menghadirkan balon warna warni ke beranda jiwamu
Membawamu pergi dari nelangsa dunia

Ada begitu banyak aksara yang ingin kudiktekan kepadamu
Pelan-pelan mengartikan warna cerita
Semua langkah dalam pertemuan
Semua keberanian yang menyemut dalam hati
Satu langkah lebih dekat

Ada begitu banyak panel hitam putihmu yang ingin kupelangikan
Menarik energi luka dari episentrum jiwamu

Karena kaulah jawaban atas segala penantianku
Bergabung dalam balon udara yang kuberi nama harapan
Tinggi melenting
Mengudara
Menghangatkan perasaan
Dan seketika bumi mengecil
Duniaku menjadi sederhana

Keindahan menemukan definisinya
Rasa menemukan definisinya
Cinta menemukan definisinya
Definisinya bermuara pada satu kata: Kamu

Posted in Buku, Essai, Musik, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Soekarno dan Raja Negeriku

NOAH menggebrak dengan album terbarunya yang berjudul Seperti Seharusnya. Tercatat melalui konser di 5 negara 2 benua dalam satu hari, grup band yang diawaki oleh Ariel, Uki, Lukman, Reza, David ini terlahir untuk membuat sejarah. Sejarah memang akrab dengan band ini semenjak masih bernama Peterpan. Mulai dari breaking record tampil di enam kota selama 24 jam dalam rangka launching album Bintang di Surga, album terlaris di Indonesia melalui album Bintang di Surga, dan tentu saja yang ter-gress ialah bagaimana band ini melintasi 6.903 mil untuk menandai kembali eksistensinya dengan album serta nama baru.

Menarik adanya di album barunya terdapat beberapa eksplorasi dalam musikalitas dan tema lagu. Pada lagu pembuka disuguhkan lagu bertema kebangsaan yakni Raja Negeriku. Lagu ciptaan Ariel dan Uki ini tampil dengan megah dan grande. Tak mengherankan dikarenakan terdapat gemuruh suara dari 200 orang penghuni lembaga pemasyarakatan Kebon Waru. Kebon Waru sendiri sempat menjadi hotel prodeo bagi Ariel dikarenakan skandal video seks yang menerpanya. Lagu Raja Negeriku juga disisipi oleh suara Soekarno pada beberapa bagian lagu. Pada intro digunakan Pidato sebulan setelah dekrit Presiden. Pada reff digunakan 63 genta suara revolusi. Pada coda digunakan Kembali ke NKRI.

Dalam wawancara via formspring, ketika ditanya tentang kategori buku yang paling senang dibaca oleh Ariel, sang frontman ini menyatakan bahwa dia menyukai buku Cindy Adams yang berjudul Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Soekarno memang mempesona dengan segala geloranya. Soekarno menurut Herbert Feith merupakan tipe pembentuk solidaritas. Soekarno menciptakan simbol dan menekankan kembali tuntutan mesianis serta janji-janji Revolusi. Seorang “pembentuk solidaritas” bicara dengan hati bergelora tentang rakyat – tentu saja “rakyat” bukan sebagai kenyataan yang terbagi-bagi, melainkan suatu keutuhan, suatu daya, suatu gairah (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 479). Dalam laju perjuangannya Soekarno juga lebih mementingkan untuk menggalang massa dan menggerakkannya. Berbeda kiranya dengan Hatta dan Sjahrir yang lebih memilih mendidik dan membentuk kader.

Soekarno memang telah meninggal pada 21 Juni 1970, namun gaung dan pesonanya tetap bergema hingga kini. Kemenangan PDIP pada pemilu 1999 tidak dapat dilepaskan dari marketing romantisme terhadap Soekarno. Gambar Soekarno ikut menjadi ‘juru kampanye’ dari PDIP pada pemilu pertama pasca Orde Baru tersebut. Belum lagi nuansa terzalimi terhadap Soekarno yang berhasil menjadi vote getters. Kerinduan terhadap sosok yang mandiri dan tegas juga turut mendulang melejitnya perolehan suara dari PDIP yang melekatkan diri pada sosok Soekarno. Namun Megawati Soekarnoputri bukanlah Soekarno. Pun begitu dengan Surya Paloh yang dengan menggebu-gebu menduplikasi orasi dari sang proklamator.

Asvi Warman Adam dalam bukunya Membedah Tokoh Sejarah menyatakan bahwa biografi penting kiranya untuk menangkap dan menguraikan jalan hidup tokoh dengan lingkungan sosial-historis yang mengitarinya. Tujuan kedua biografi adalah memberi baju “baru” kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah, hlm. X-XII). Membaca kembali Soekarno akan beda kiranya antara era Orde Baru dengan era reformasi. Pada era Orde Baru Soekarno bahkan ‘dimatikan’ dengan berbagai cara. Simak buku Asvi Warman Adam, Bung Karno Dibunuh Tiga Kali?, untuk mendapatkan khazanah sosial politik dan sejarah terkait dengan sang putra fajar.

NOAH dengan menghadirkan cuplikan pidato Soekarno memberikan nafas baru dan menyegarkan kembali ingatan terhadap Soekarno. Soekarno tertampilkan dalam balutan musikalitas grup band yang memiliki basis massa penggemar signifikan. Indonesia sendiri layak berbangga memiliki presiden pertama yang pada masa mudanya telah melakukan penjelajahan intelektual terhadap karya Gladston, Beatrice Webb, Mazzini, Cavour, Garibaldi, Otto Beuer, Karl Marx, Frederich Engels, Lenin, Jean Jacques Rousseau, Jean Jaures, Danton dan Voltaire (Ahmad Suhelmi, Soekarno Versus Natsir, hlm. 14). Sosok Soekarno yang tegas dan berani berkata go to hell with your aid. Sosok yang merupakan tokoh di balik lahirnya Gerakan Non Blok ketika dunia tengah berkecamuk diantara dua kutub besar pertentangan.

Di lain sisi, kita juga harus jujur dan menempatkan Soekarno sebagai tokoh sejarah yang dapat keliru dan salah. Menempatkan Soekarno dalam pendulum mitologi dan mengagungkannya secara berlebihan akan mengaburkan makna dari sosok ini. Jangan lupakan Soekarno pernah berpidato Marilah Kita Kubur Partai-partai pada 28 Oktober 1956 (Herbert Feith dan Lance Castles, Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, hlm. 62). Sebuah konsep yang kiranya mengubur demokrasi, perbedaan dan akan membawa negeri ini ke arah diktator. Natsir diantaranya mengkritisi yang akan berdiri di atas kuburan partai-partai adalah diktator. Mohammad Hatta juga menunjukkan penolakan akan arah kebijakan si bung ini.

Soekarno juga terjerembab dengan terminologi revolusi belum selesai. Revolusi yang belum selesai ini kerap dinarasikan dalam berbagai pidato-pidatonya. Inilah kiranya salah satu pasal Soekarno dan Hatta berpisah jalan. Hatta lebih menghendaki pembangunan ekonomi, upaya pemakmuran rakyat. Sedangkan Soekarno masih begitu terpesona dengan jargon revolusi belum selesai. Si pemimpin besar revolusi ini lalu menuangkan pemikirannya dalam sejumlah proyek mercusuar yang hingga kini masih kita temui jejaknya. Bundaran Hotel Indonesia, Hotel Indonesia, Masjid Istiqlal, Monas, kompleks olahraga Senayan, merupakan mozaik nyata dari ide revolusi belum selesai.

Dalam literatur ilmu politik terdapat istilah the king can do no wrong. Dalam hadits juga terdapat istilah yang terkait dengan kerajaan yakni Mulkan ‘Aadhan (Penguasa yang Menggigit) dan Mulkan Jabariyyan (Penguasa yang Menindas). Peran dari kerajaan di berbagai belahan dunia juga telah semakin menyusut. Raja lebih sebagai simbol budaya dan sejarah. Hal tersebut tak terlepas dari kesadaran kolektif bahwa toh raja hanya manusia biasa yang bisa salah dan lupa. Penempatan pola pikir tersebut memungkinkan terjadinya kritik dan berbeda pendapat. Saya pribadi berharap diksi raja negeriku dalam lagu NOAH lebih merupakan keindahan sastrawi dibandingkan kembali menunggu pemimpin yang kuat dan bertindak seperti raja.

Benar kiranya kini Indonesia sedang mengalami kepemimpinan nasional yang tidak kuat. Amat lumrah muncul kerinduan terhadap masa lalu. Ada yang rindu kepada sosok Soekarno, ada yang rindu terhadap sosok Soeharto. Sisi positif dari kedua presiden Indonesia tersebut tentu saja benar adanya, namun jangan lupakan sisi negatif dari kepemimpinan mereka. Menakar dengan objektif akan membawa kita arif menyikapi masa lalu untuk bertindak di kontemporer teruntuk masa mendatang.

Vedi Hadiz dalam buku Sjahrir: Peran Besar Bung Kecil menuturkan bahwa ide sosial demokrat Sjahrir tak begitu populer pada 1950-an, dikarenakan belum munculnya kelas menengah yang kukuh, suatu golongan masyarakat yang melek dan berpendidikan (Tim Tempo, Sjahrir:Peran Besar Bung Kecil, hlm. 106). Ia menyakini bahwa ide brilyan Sjahrir akan dapat berjalan jika dilajukan oleh kelas menengah yang kini semakin gemuk jumlahnya. Kelas menengah ditenggarai sebagai harapan sekaligus nestapa bagi bangsa. Simak saja potongan dialog dari novel Supernova 1:Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh berikut:

“Di bawah empat puluh tahunlah. Aku ingin tokoh-tokoh kita semuanya muda, usia produktif, urban, metropolis, punya akses teknologi dan informasi yang baik. Percuma pakai tokoh gelandangan atau setting desa dengan sok-sok pakai aksesori kebudayaan daerah. Pada kenyataaannya para yuppies tadi yang bakal jadi corong bangsa, yang mampu membangun sekaligus paling potensial untuk merusak.”

Tentu saja kelas menengah yang layak menjadi harapan bukanlah kelas menengah konsumtif, pragmatis, dan egois. Bukan pula kelas menengah yang sekadar menggerutu dan bawel tanpa solusi. Yang dibutuhkan adalah kelas menengah yang mengutip lirik lagu NOAH – Raja Negeriku:

Berikan terang untuk masa depan
Berpegangan, semua saudara
tegar berdiri, dalam mimpi yang satu
Perubahan
Untuk tanahmu, tanah lahirmu
Untuk negeri dan mimpi bangsamu

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Jalan-Jalan, Sosial Budaya

Merayakan Perbedaan

Hari Kamis kemarin saya menghadiri gathering world mythology community (wmc). Terus terang cakrawala pengetahuan saya tentang mitologi tidak seberapa banyak. Disamping itu dari segi peminatan saya tidak terlampau terpikat dengan mitologi. Ambil sampel dalam melihat Troy, saya jauh lebih berkenan dengan film Troy (2004) yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Erick Bana dibandingkan dengan versi buku cerita yang menggambarkan urun rembug para dewa dewi dalam kancah peperangan. Saya lebih menyukai struggle dari manusia dibandingkan kekuatan maha dari dewa dewi.

Tema yang diangkat pada gathering wmc ialah tentang Yokai & Yurei in Japanese Folklore. Ada banyak slide dan penjelasan yang terasa asing bagi saya yang newbie. Saya pun mengikuti acara sambil mencatat di beberapa titik. Rupanya pekerjaan formal saya sebagai jurnalis berpengaruh pada profil saya. Menjadi jurnalis memungkinkan saya bertemu dengan orang orang-orang baru, lingkup ilmu yang baru. Sebagai contoh saya pernah kedapatan tugas untuk menulis tentang energi terbarukan dan dinamika bbm. Dalam menulis hal tersebut banyak saya temui frasa, konsep baru. Saya belajar dari situ.

Rupanya menjadi jurnalis menjadikan saya sebagai khittah manusia pembelajar. Banyak kiranya kepingan pengetahuan yang tiada saya ketahui. Semangat belajar, rasa ingin tahu, akselerasi upaya dapat menjadi daya yang luar biasa dalam mereguk ilmu. Saya pun belajar dari gathering wmc tersebut. Saya mencatat dan saya bertanya. Saya bertanya dua poin, adakah hubungan saling pengaruh mempengaruhi dalam lakon hantu Jepang dan Indonesia dikarenakan penjajahan Jepang dalam interval waktu 1942-1945. Pertanyaan berikutnya ialah adakah pengaruh dari barat dalam kisah hantu Jepang?

Kedua pertanyaan tersebut men-deja vu-kan saya pada masa kuliah. Saya adalah penanya yang memberatkan narasumber. Bahkan pernah dalam salah satu kelas, satu kelompok meminta saya untuk tidak bertanya. Pertanyaan dari saya sukar dijawab, alasan mereka. Pertanyaan, dari situlah kunci ilmu pengetahuan akan terbuka. Bahkan Anda dapat mengetahui kualitas intelektualitas seseorang dari pertanyaan yang diajukan. Hidup tanpa mempertanyakan adalah hidup yang telah selesai.

Sikap mempertanyakan dan keingintahuan kiranya yang dapat membuat terjadi quantum keilmuan. Itulah kiranya yang membuat saya berfilosofi Kaldera Fantasi (Kalfa) memiliki ragam distrik. Terdapat buku, film, anime, games, komik, yang memungkinkan masing-masing individu saling belajar dan pengaruh mempengaruhi dalam semesta Kaldera. Saya sendiri bukanlah expert dalam beberapa distrik, namun saya memiliki passion untuk belajar, memiliki passion untuk berbagi apa yang saya tahu. Seperti dituturkan dalam surat Al-Hujurat ayat 13, “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Saya bersyukur melalui Kalfa cakrawala pengetahuan saya tentang fiksi fantasi dapat membentang. Saya memperoleh ragam pengetahuan baru. Saya memperoleh teman-teman baru. Tentunya pada beberapa hal, Kalfa tidak seperti ekspektasi beberapa orang. Sebagai pendiri dan admin, saya minta maaf atas eksepektasi yang tidak tergapai. Itu teramat mungkin karena masih belum optimalnya pengetahuan saya tentang fantasi yang terentang luas. Besar harapan saya Kalfa dapat menjadi medium pembelajaran. Disini kita dapat merayakan perbedaan.

Disini kita dapat mengungkapkan buah pemikiran dengan nyaman. Membiasakan mengutarakan buah pemikiran dengan toleransi perlu adanya. Seperti istilah Perancis, du chocs des opinions jaillit la verite, dari benturan berbagai opini akan muncul sebuah kebenaran. Ataupun seperti dinarasikan Natsir, “hendaknya merupakan satu “sanctuary” yakni tempat aman di mana dapat diadakan konfrontasi antara ide dan ide, pendirian dengan pendirian, yang walaupun berlaku secara tajam dan bebas sebagai pembawaaan dari tugas kita itu, tetap di dalam suasana ibarat sebuah pulau yang aman tenteram di tengah-tengah gelombang” (Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hlm. 141-142). Dialektika pemikiran dan keinginan untuk belajar inilah yang sya percaya akan menjadi basis nilai yang berguna untuk ragam habitat kehidupan. Belajarlah hal-hal yang baru. Selami dunia yang begitu luas adanya dan bervariasi. Hiduplah dengan sebenar-benar hidup. Seperti kata Ralph Waldo Emerson, “And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.” Saya percaya seberapa vitalitas daya hidup cukup ditentukan oleh hasrat belajar hal-hal yang baru.

Perbedaaan ada bukan untuk dibenturkan. Perbedaan ada untuk menjadi harmoni. Mari merayakan perbedaan.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in puisi, sastra

Luka di Kota Mati

Habiskan terang di genggaman
Binari yang berpelangi muram
Radius luka dalam genggaman
Terang sudah anyaman

Dan pagi adalah kata-kata yang sepi
Sembunyi

Sejauh apa aku dapat berlari
Telusuri semua ini
Panel-panel yang merapuh dan membisu

Sengkarut kota ini
Bangunannya runtuh
Jiwanya lumpuh
Ada sesak luka bersama udara

Wajah-wajah penuh dilema
Berat wahai bangun dari puing yang mengepung
Deru campur mesiu
Mereka yang tertinggalkan

Pagi, ketika bangun sendiri
Hampa berkelanjutan
Sensasi rasa tanpa nama
Luka di kota mati

Posted in Aku, Essai

Kembali Menulis Proyek Personal

Proyek pekerjaan formal dan proyek personal terkadang dapat saling berkelindan dan salip menyalip di tikungan waktu. Ada kata prioritas, tekad, mimpi, ekspektasi. Proyek pekerjaan formal yang saya maksudkan disini ialah terkait dengan pekerjaan yang menghasilkan uang. Saya memiliki dua lini proyek. Yang pertama ialah proyek pekerjaan formal. Sedangkan yang kedua ialah proyek personal. Kedua lini tersebut diikat oleh tali simpul yang sama: menulis. Saya bersyukur luar biasa pekerjaan formal yang saya jalani sekarang ialah menulis. Sebuah hobi, passion dari diri saya. Disamping itu selama berkuliah di Fisip UI, menulis adalah menu wajib yang terus diasah dalam mata kuliah yang diambil.

Proyek pekerjaan formal saya terkait dengan pengerjaan penulisan via kantor. Disamping itu ada satu klien prioritas yang hitung-hitung lumayanlah untuk menambah pundi-pundi uang. Syukurnya ialah proyek penulisan saya terus bergerak dan tiada sepi. Saya lebih suka bertumpuk pekerjaan dibandingkan defisit pekerjaan. Dengan bertumpuk pekerjaan, ada targetan dan kerja yang harus dicapai. Ragam pendekatan dan tema yang saya olah dalam pekerjaan formal ini. Hal tersebut membuat saya harus menjelajahi berbagai literatur yang berbeda. Proyek yang berbeda terkadang memerlukan pendekatan penulisan yang berbeda.

Sedangkan pada proyek personal saya ialah terkait mimpi saya untuk menjadi penulis fiksi fantasi dan sastrawan. Ada berbagai produk tulisan yang saya hasilkan di lini ini. Ada puisi, cerpen, dan novel. Disamping itu proyek personal ini juga mendapatkan dua panel tambahan yang saya namakan Blogger dan Kaldera Fantasi. Blogger adalah segala tulisan lepas saya untuk memotret rupa-rupa hal yang saya pikir menarik untuk diangkat. Sementara Kaldera Fantasi merupakan karya intelektual yang terkait dengan komunitas fiksi fantasi yang saya kelola.

Pada komunitas Kaldera Fantasi saya memang ingin memberikan sentuhan intelektual pada fiksi fantasi. Dan jikalau mau boleh curhat colongan, dokumen yang bertumpuk di notes Kaldera Fantasi (Kalfa) lebih banyak diisi oleh hasil buah pena saya. Saya sebagai pendiri dan admin memang telah bertekad untuk terus menginvasi melalui tulisan. Bagi saya ini merupakan upaya untuk mengikis budaya baca yang masih lemah di negeri ini. Selain itu memberikan perspektif yang berbeda terkait dengan fiksi fantasi. Bahwasanya fiksi fantasi jikalau dibedah dari segi keilmuan memiliki makna baru dan memiliki filosofi yang lebih mendalam.

Proyek pekerjaan formal dan proyek personal memang harus dimanajemeni dengan apik. Jangan sampai saling menerkam satu sama lain. Jika meminjam narasi dari novel Perahu Kertas, bagaimana Kugy yang akhirnya terbengkalai pekerjaan formalnya di Avocado dikarenakan sibuk membuat cerita dongeng di waktu kantor. Saya percaya benturan macam begini mungkin terjadi pada siapa saja. Antara sisi personal dan sisi pekerjaan formal. Saya sendiri mengakui di beberapa termin waktu kantor masih memberikan ruang untuk pengerjaan proyek personal. Namun jika boleh berapologi, di luar jam kantor saya mengerjakan pekerjaan formal.

Waktu, itulah kiranya yang penting harus dicamkan. Manajemen waktu. Terlebih proyek pekerjaan formal dan proyek personal saya memiliki satu nafas yang sama yakni menulis. Saya akui terkadang di depan komputer/laptop saya dihadapkan pada opsi mau mengerjakan pekerjaan formal atau mengerjakan proyek personal. Maka salah satu kunci untuk mengatasi dilema macam begini ialah deadline. Deadline terutama penting untuk pekerjaan formal. Hal tersebut dikarenakan terkait dengan logika kantor, sisi finansial. Jikalau saya gagal merampungkan tulisan di pekerjaan formal akan menyebabkan ekses yang tidak hanya saya terima secara personal, namun juga bagi rekan lainnya dan kantor. Maka itu dalam pekerjaan formal, saya membuat time schedule pengerjaan dan deadline.

Baru-baru ini saya mengakui harus menafikan berbagai proyek personal. Sebabnya ialah ada satu panel pengerjaan tulisan terkait pekerjaan yang menuntut energi lebih. Tidak sekadar proyek personal yang saya agak pinggirkan, namun juga jam membaca pula ikut terkena imbasnya. Alhamdulillah panel pekerjaan formal tersebut berhasil saya penuhi deadline-nya. Dan sekarang saya lebih longgar dalam pekerjaan formal. Berarti dengan demikian saya ingin mengucapkan selamat datang kembali wahai segenap proyek personal.

Menulis proyek personal bagi saya adalah pembebasan. Idealisme, kemerdekaan, saya dapatkan dalam proyek personal. Melalui proyek personal saya juga dapat berbagi. Saya harap kanal pemikiran saya bermanfaat adanya. Bukankah sebaik-baik muslim adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Mengecek lumbung tulisan yang belum selesai di proyek personal divisi Blogger dan Kaldera Fantasi sebenarnya saya memiliki 30-an tulisan yang belum rampung 100%. Tentu saja lumbung itu suatu waktu akan saya sempurnakan dan naik pangkat menjadi tulisan yang laik baca.

Mengerjakan proyek personal bagi saya juga membuat saya lebih berarti. Kompetensi menulis saya tidak hanya terkonversi menjadi deretan rupiah. Melalui proyek personal saya merdeka secara finansial. Sejauh ini proyek personal memang belum terkapitalisasi menjadi tambahan kocek bagi saya. Hal itu juga dikarenakan saya memang belum secara serius untuk mengkomersilkan proyek personal saya. Sebut saja blog saya. Ketika membaca beberapa artikel, blog ternyata dapat menjadi pemasukan tambahan bagi si empunya blog. Begitu pun dengan puisi, cerpen, novel, yang sejauh ini belum saya konversikan menjadi uang. Mungkin di suatu waktu segala proyek personal ini bisa jadi menjadi beralih ke proyek pekerjaan formal atau sekurangnya vitamin tambahan bagi finansial saya. Namun sejauh ini saya menikmati betul proyek personal ini yang untouchable oleh uang.

Terus terang saya agak senewen dengan materialisme yang menjangkiti masyarakat. Benar kita butuh uang, tapi jangan sampai sebegitunyalah. Benar butuh uang, tapi jangan sampai mendewakan uang. Uang toh bukan segalanya kok. Ada ragam hal yang tidak tergoyahkan oleh uang.

Mengerjakan proyek personal saya harap akan meningkatkan kemampuan menulis saya. Saya percaya latihan menulis adalah dengan menulis. Dengan target pengerjaan di proyek formal pekerjaan dan proyek personal berarti hari-hari saya akan akrab dengan tulis menulis. Aksara akan menjadi teman saya. Bahan bacaan akan menjadi kerabat saya. Jikalau Mohammad Hatta diistilahkan pacar pertamanya adalah buku, ingin pula saya meniru sosok beliau. Dikarenakan dengan membaca buku akan memberikan energi, inspirasi untuk menulis. Saya percaya dengan menulis saya menjadi berarti. Lalu bagaimana dengan Anda? Apa kabar proyek personal Anda? Dan apa yang membuat Anda menjadi berarti?

Posted in puisi, sastra

Kebijaksanaan Semesta

Konon, waktu dapat mendewasakan
Konon, waktu dapat memulihkan rupa-rupa luka
Aku juga percaya waktu dapat membunuh

Mengantarkan pijaran-pijaran mimpi ke liang lahatnya
Meninabobokan mimpi
Karena waktu telah beranjak melesat dari pagi mengembun

Kita tidak pernah tahu kapan petang akan menjelang
Kita hanya bernafas di sini
Menafsirkan roda peristiwa
Kita menua setiap hari

Ayunan sepi ini
Dermaga bagi kata-kataku
Hibernasi dari runcingan putaran bumi
Menyerap suara-suara hati
Mengupayakan nyala mimpi
Mengupayakan terang bagi turbin-turbin harapan

Bila sepi ini menjemput nadi
Aku ingin disini
Membaca kebijaksanaan semesta
Menuliskan lewat tinta
Tentang dunia yang tak sempurna