Posted in puisi, sastra

Mampuslah Pujangga Jiwa Sunyi

Aku menulis kata di ujung lelahku
Tentang ujung dunia yang terdistorsi muram
Samar, Aku menanti kata
Samar, Aku bersama nadi luka

Kelir warna warni di tangan yang pilu

Kemana gerangan wahai jiwa pemimpi?
Kemana larinya api yang membuatku tekun mendingini malam,
Menelusuri bijak bestari para filsuf
Yang ada hanya kosong
Tinta yang menjadi sunyi
Perkamen yang tenang tanpa guratan

Aku kehilangan percayaku
Menulis bukan sekedar huruf-huruf yang berdempetan
Ada nyawa dalam setiap kata
Ada resah yang ingin kubagi
Harapan yang bersimpul dengan huruf

Loker memori,
Kecamuk pikiran,
Pengalaman di perjalanan petang,
Menumpulnya pena untuk bertutur
Dan langit menua
Meluruhkan kata

Senjakala sepi
Termenung di pinggir jendela
Kemana gerangan jiwa pemacu kata,
Imajinasi yang meluap-luap,
Meletup-letup,
Membarakan waktu
Menghidupkan hidup
Membuatku lebih berarti

Perkamen itu masih sunyi tanpa barisan kata yang berbaris sembarang
Tinta masih utuh adanya
Aku berkata kepada Aku: “Mampuslah pujangga jiwa sunyi.”

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s