Posted in Aku, Essai

Kembali Menulis Proyek Personal

Proyek pekerjaan formal dan proyek personal terkadang dapat saling berkelindan dan salip menyalip di tikungan waktu. Ada kata prioritas, tekad, mimpi, ekspektasi. Proyek pekerjaan formal yang saya maksudkan disini ialah terkait dengan pekerjaan yang menghasilkan uang. Saya memiliki dua lini proyek. Yang pertama ialah proyek pekerjaan formal. Sedangkan yang kedua ialah proyek personal. Kedua lini tersebut diikat oleh tali simpul yang sama: menulis. Saya bersyukur luar biasa pekerjaan formal yang saya jalani sekarang ialah menulis. Sebuah hobi, passion dari diri saya. Disamping itu selama berkuliah di Fisip UI, menulis adalah menu wajib yang terus diasah dalam mata kuliah yang diambil.

Proyek pekerjaan formal saya terkait dengan pengerjaan penulisan via kantor. Disamping itu ada satu klien prioritas yang hitung-hitung lumayanlah untuk menambah pundi-pundi uang. Syukurnya ialah proyek penulisan saya terus bergerak dan tiada sepi. Saya lebih suka bertumpuk pekerjaan dibandingkan defisit pekerjaan. Dengan bertumpuk pekerjaan, ada targetan dan kerja yang harus dicapai. Ragam pendekatan dan tema yang saya olah dalam pekerjaan formal ini. Hal tersebut membuat saya harus menjelajahi berbagai literatur yang berbeda. Proyek yang berbeda terkadang memerlukan pendekatan penulisan yang berbeda.

Sedangkan pada proyek personal saya ialah terkait mimpi saya untuk menjadi penulis fiksi fantasi dan sastrawan. Ada berbagai produk tulisan yang saya hasilkan di lini ini. Ada puisi, cerpen, dan novel. Disamping itu proyek personal ini juga mendapatkan dua panel tambahan yang saya namakan Blogger dan Kaldera Fantasi. Blogger adalah segala tulisan lepas saya untuk memotret rupa-rupa hal yang saya pikir menarik untuk diangkat. Sementara Kaldera Fantasi merupakan karya intelektual yang terkait dengan komunitas fiksi fantasi yang saya kelola.

Pada komunitas Kaldera Fantasi saya memang ingin memberikan sentuhan intelektual pada fiksi fantasi. Dan jikalau mau boleh curhat colongan, dokumen yang bertumpuk di notes Kaldera Fantasi (Kalfa) lebih banyak diisi oleh hasil buah pena saya. Saya sebagai pendiri dan admin memang telah bertekad untuk terus menginvasi melalui tulisan. Bagi saya ini merupakan upaya untuk mengikis budaya baca yang masih lemah di negeri ini. Selain itu memberikan perspektif yang berbeda terkait dengan fiksi fantasi. Bahwasanya fiksi fantasi jikalau dibedah dari segi keilmuan memiliki makna baru dan memiliki filosofi yang lebih mendalam.

Proyek pekerjaan formal dan proyek personal memang harus dimanajemeni dengan apik. Jangan sampai saling menerkam satu sama lain. Jika meminjam narasi dari novel Perahu Kertas, bagaimana Kugy yang akhirnya terbengkalai pekerjaan formalnya di Avocado dikarenakan sibuk membuat cerita dongeng di waktu kantor. Saya percaya benturan macam begini mungkin terjadi pada siapa saja. Antara sisi personal dan sisi pekerjaan formal. Saya sendiri mengakui di beberapa termin waktu kantor masih memberikan ruang untuk pengerjaan proyek personal. Namun jika boleh berapologi, di luar jam kantor saya mengerjakan pekerjaan formal.

Waktu, itulah kiranya yang penting harus dicamkan. Manajemen waktu. Terlebih proyek pekerjaan formal dan proyek personal saya memiliki satu nafas yang sama yakni menulis. Saya akui terkadang di depan komputer/laptop saya dihadapkan pada opsi mau mengerjakan pekerjaan formal atau mengerjakan proyek personal. Maka salah satu kunci untuk mengatasi dilema macam begini ialah deadline. Deadline terutama penting untuk pekerjaan formal. Hal tersebut dikarenakan terkait dengan logika kantor, sisi finansial. Jikalau saya gagal merampungkan tulisan di pekerjaan formal akan menyebabkan ekses yang tidak hanya saya terima secara personal, namun juga bagi rekan lainnya dan kantor. Maka itu dalam pekerjaan formal, saya membuat time schedule pengerjaan dan deadline.

Baru-baru ini saya mengakui harus menafikan berbagai proyek personal. Sebabnya ialah ada satu panel pengerjaan tulisan terkait pekerjaan yang menuntut energi lebih. Tidak sekadar proyek personal yang saya agak pinggirkan, namun juga jam membaca pula ikut terkena imbasnya. Alhamdulillah panel pekerjaan formal tersebut berhasil saya penuhi deadline-nya. Dan sekarang saya lebih longgar dalam pekerjaan formal. Berarti dengan demikian saya ingin mengucapkan selamat datang kembali wahai segenap proyek personal.

Menulis proyek personal bagi saya adalah pembebasan. Idealisme, kemerdekaan, saya dapatkan dalam proyek personal. Melalui proyek personal saya juga dapat berbagi. Saya harap kanal pemikiran saya bermanfaat adanya. Bukankah sebaik-baik muslim adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Mengecek lumbung tulisan yang belum selesai di proyek personal divisi Blogger dan Kaldera Fantasi sebenarnya saya memiliki 30-an tulisan yang belum rampung 100%. Tentu saja lumbung itu suatu waktu akan saya sempurnakan dan naik pangkat menjadi tulisan yang laik baca.

Mengerjakan proyek personal bagi saya juga membuat saya lebih berarti. Kompetensi menulis saya tidak hanya terkonversi menjadi deretan rupiah. Melalui proyek personal saya merdeka secara finansial. Sejauh ini proyek personal memang belum terkapitalisasi menjadi tambahan kocek bagi saya. Hal itu juga dikarenakan saya memang belum secara serius untuk mengkomersilkan proyek personal saya. Sebut saja blog saya. Ketika membaca beberapa artikel, blog ternyata dapat menjadi pemasukan tambahan bagi si empunya blog. Begitu pun dengan puisi, cerpen, novel, yang sejauh ini belum saya konversikan menjadi uang. Mungkin di suatu waktu segala proyek personal ini bisa jadi menjadi beralih ke proyek pekerjaan formal atau sekurangnya vitamin tambahan bagi finansial saya. Namun sejauh ini saya menikmati betul proyek personal ini yang untouchable oleh uang.

Terus terang saya agak senewen dengan materialisme yang menjangkiti masyarakat. Benar kita butuh uang, tapi jangan sampai sebegitunyalah. Benar butuh uang, tapi jangan sampai mendewakan uang. Uang toh bukan segalanya kok. Ada ragam hal yang tidak tergoyahkan oleh uang.

Mengerjakan proyek personal saya harap akan meningkatkan kemampuan menulis saya. Saya percaya latihan menulis adalah dengan menulis. Dengan target pengerjaan di proyek formal pekerjaan dan proyek personal berarti hari-hari saya akan akrab dengan tulis menulis. Aksara akan menjadi teman saya. Bahan bacaan akan menjadi kerabat saya. Jikalau Mohammad Hatta diistilahkan pacar pertamanya adalah buku, ingin pula saya meniru sosok beliau. Dikarenakan dengan membaca buku akan memberikan energi, inspirasi untuk menulis. Saya percaya dengan menulis saya menjadi berarti. Lalu bagaimana dengan Anda? Apa kabar proyek personal Anda? Dan apa yang membuat Anda menjadi berarti?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s