Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Jalan-Jalan, Sosial Budaya

Merayakan Perbedaan

Hari Kamis kemarin saya menghadiri gathering world mythology community (wmc). Terus terang cakrawala pengetahuan saya tentang mitologi tidak seberapa banyak. Disamping itu dari segi peminatan saya tidak terlampau terpikat dengan mitologi. Ambil sampel dalam melihat Troy, saya jauh lebih berkenan dengan film Troy (2004) yang dibintangi oleh Brad Pitt dan Erick Bana dibandingkan dengan versi buku cerita yang menggambarkan urun rembug para dewa dewi dalam kancah peperangan. Saya lebih menyukai struggle dari manusia dibandingkan kekuatan maha dari dewa dewi.

Tema yang diangkat pada gathering wmc ialah tentang Yokai & Yurei in Japanese Folklore. Ada banyak slide dan penjelasan yang terasa asing bagi saya yang newbie. Saya pun mengikuti acara sambil mencatat di beberapa titik. Rupanya pekerjaan formal saya sebagai jurnalis berpengaruh pada profil saya. Menjadi jurnalis memungkinkan saya bertemu dengan orang orang-orang baru, lingkup ilmu yang baru. Sebagai contoh saya pernah kedapatan tugas untuk menulis tentang energi terbarukan dan dinamika bbm. Dalam menulis hal tersebut banyak saya temui frasa, konsep baru. Saya belajar dari situ.

Rupanya menjadi jurnalis menjadikan saya sebagai khittah manusia pembelajar. Banyak kiranya kepingan pengetahuan yang tiada saya ketahui. Semangat belajar, rasa ingin tahu, akselerasi upaya dapat menjadi daya yang luar biasa dalam mereguk ilmu. Saya pun belajar dari gathering wmc tersebut. Saya mencatat dan saya bertanya. Saya bertanya dua poin, adakah hubungan saling pengaruh mempengaruhi dalam lakon hantu Jepang dan Indonesia dikarenakan penjajahan Jepang dalam interval waktu 1942-1945. Pertanyaan berikutnya ialah adakah pengaruh dari barat dalam kisah hantu Jepang?

Kedua pertanyaan tersebut men-deja vu-kan saya pada masa kuliah. Saya adalah penanya yang memberatkan narasumber. Bahkan pernah dalam salah satu kelas, satu kelompok meminta saya untuk tidak bertanya. Pertanyaan dari saya sukar dijawab, alasan mereka. Pertanyaan, dari situlah kunci ilmu pengetahuan akan terbuka. Bahkan Anda dapat mengetahui kualitas intelektualitas seseorang dari pertanyaan yang diajukan. Hidup tanpa mempertanyakan adalah hidup yang telah selesai.

Sikap mempertanyakan dan keingintahuan kiranya yang dapat membuat terjadi quantum keilmuan. Itulah kiranya yang membuat saya berfilosofi Kaldera Fantasi (Kalfa) memiliki ragam distrik. Terdapat buku, film, anime, games, komik, yang memungkinkan masing-masing individu saling belajar dan pengaruh mempengaruhi dalam semesta Kaldera. Saya sendiri bukanlah expert dalam beberapa distrik, namun saya memiliki passion untuk belajar, memiliki passion untuk berbagi apa yang saya tahu. Seperti dituturkan dalam surat Al-Hujurat ayat 13, “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”

Saya bersyukur melalui Kalfa cakrawala pengetahuan saya tentang fiksi fantasi dapat membentang. Saya memperoleh ragam pengetahuan baru. Saya memperoleh teman-teman baru. Tentunya pada beberapa hal, Kalfa tidak seperti ekspektasi beberapa orang. Sebagai pendiri dan admin, saya minta maaf atas eksepektasi yang tidak tergapai. Itu teramat mungkin karena masih belum optimalnya pengetahuan saya tentang fantasi yang terentang luas. Besar harapan saya Kalfa dapat menjadi medium pembelajaran. Disini kita dapat merayakan perbedaan.

Disini kita dapat mengungkapkan buah pemikiran dengan nyaman. Membiasakan mengutarakan buah pemikiran dengan toleransi perlu adanya. Seperti istilah Perancis, du chocs des opinions jaillit la verite, dari benturan berbagai opini akan muncul sebuah kebenaran. Ataupun seperti dinarasikan Natsir, “hendaknya merupakan satu “sanctuary” yakni tempat aman di mana dapat diadakan konfrontasi antara ide dan ide, pendirian dengan pendirian, yang walaupun berlaku secara tajam dan bebas sebagai pembawaaan dari tugas kita itu, tetap di dalam suasana ibarat sebuah pulau yang aman tenteram di tengah-tengah gelombang” (Deliar Noer, Partai Islam di Pentas Nasional, hlm. 141-142). Dialektika pemikiran dan keinginan untuk belajar inilah yang sya percaya akan menjadi basis nilai yang berguna untuk ragam habitat kehidupan. Belajarlah hal-hal yang baru. Selami dunia yang begitu luas adanya dan bervariasi. Hiduplah dengan sebenar-benar hidup. Seperti kata Ralph Waldo Emerson, “And in the end, it’s not the years in your life that count. It’s the life in your years.” Saya percaya seberapa vitalitas daya hidup cukup ditentukan oleh hasrat belajar hal-hal yang baru.

Perbedaaan ada bukan untuk dibenturkan. Perbedaan ada untuk menjadi harmoni. Mari merayakan perbedaan.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s