Posted in Essai, Musik

Tentang Suara Lainnya

Bebas bersyaratnya Ariel dari rutan Kebon Waru pada tanggal 23 Juli 2012 menandai fase baru bagi Ariel, Uki, Lukman, Reza, David. Keriuhan menyambut hari baru yang cerah untuk kemudian menyambut album baru dengan nama baru. Kini band eks Peterpan tersebut telah kembali mengharu biru blantika permusikan. Musikalitas dan lirik mereka mengisi hari-hari jutaan manusia. Terlahir dengan nama baru untuk membuat sejarah. NOAH menjadi nama yang dipilih Ariel, Uki, Lukman, Reza, David untuk mengarungi samudera persaingan musikalitas negeri ini.

Menarik adanya sebelum meluncurkan album Seperti Seharusnya pada tanggal 16 September 2012, mereka meluncurkan buku Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012 yang berintikan catatan para personel band fenomenal tersebut selama kurun waktu 2010-2012. Seperti dituturkan oleh Ariel dalam kata pertama & terima kasih (Ariel dkk., Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012, hlm. IX):

Maka, penerbitan buku ini jauh dari maksud mengenang kebesaran masa lalu atau membicarakan hal-hal “sepele” tentang keberadaan saya dan teman-teman sekarang. Buku ini bukan pula “pertanda” bahwa Peterpan sudah lelah berkarya di bidang musik. Bukan, bukan itu.

Saya menulis untuk menyampaikan sesuatu yang hanya bisa disuarakan lewat buku.

Jembatan lainnya antara karya Peterpan menuju NOAH adalah single Dara dan album Suara Lainnya. Lagu Dara diselesaikan Ariel ketika dirinya mendekam di rutan Kebon Waru. Sosok flamboyan kelahiran Pangkalan Brandan ini melakukan take vocal lagu di ruangan Bimker Kebon Waru. Lagu Dara sendiri bagi Ariel merupakan lagu dimana dirinya dominan dari hulu-hilir pembuatan lagu. “Lagu ini adalah bentuk ekspresi saya”, begitu tutur Ariel. Lagu Dara memiliki akor yang sangat sederhana dengan terdiri dari dua kunci saja.

suara lainnya 1

Pada album Suara Lainnya boleh dikatakan merupakan eksplorasi dan ekstensifikasi dari musikalitas Ariel cs. Bagaimana band ini meng-explore lagu mereka secara instrumental. Bagaimana brass, string, karinding, celempung, celempung renteng, goong tiup, suling, saluang, perkusi, biola, cello menjadi instrumen alat musik yang turut mewarnai album yang berisi 11 track ini.

Bagi Uki, album Suara Lainnya adalah album yang paling berkesan. Berikut tuturan dari Uki mengenai album Suara Lainnya (Ariel dkk., Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012, hlm. 179):

Melewati perjalanan panjang, Suara Lainnya adalah album yang paling berkesan bagi saya. Banyak sekali kejadian di album ini yang tidak terlupakan. Saya mendapat kepuasan batin dalam proses pengerjaannya. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat dari album ini, yang membuat saya semakin mencintai musik, hidup saya, dan personel lainnya.

Karya album Suara Lainnya semula sempat memantik keraguan bagi seorang Ariel. Seperti dituturkan oleh Ariel mengenai skeptismenya (Ariel dkk., Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012, hlm. 163):

Musica Studio’s menyatakan setuju dengan gagasan saya tersebut. Memang saya sempat bertanya juga, “Siapa yang akan mendengar dan membeli album macam itu?” Tidak seperti di negara lain, di mana apresiasi musik masyarakatnya sudah tinggi, di Tanah Air album macam ini masih belum mendapat tempat.

Melalui album Suara Lainnya boleh dikatakan Ariel dkk. Memberikan arah baru bagi musikalitas Indonesia. Musik instrumental yang selama ini kurang mendapat tempat secara luas boleh dikatakan agak tergeser pendulumnya selepas Ariel cs melepas album instrumental. Apa pasal? Mereka adalah trendsetter bermusik Indonesia. Yang memungkinkan bagi banyak follower-nya untuk mengikuti. Dari sisi pemain musik, hal tersebut akan menimbulkan semangat lebih untuk berkarya di jalur instrumental. Bagi pihak industri musik hendak kiranya untuk menimbang seksama menelurkan album instrumental. Bagi publik, album Suara Lainnya memberikan alternatif musikalitas. Sesuatu yang selama ini mungkin asing bagi publik dan tidak dilirik.

suara lainnya 2

Kehadiran album Suara Lainnya memberikan referensi berharga bagi dunia musik tanah air. Boleh dikata itu adalah blessing in disquise dari terparkirnya Ariel di penjara selama 2 tahun lebih. Bahwasanya lini karya lainnya dari Ariel cs dapat terhadirkan. Dan aktualisasi karya tersebut akan menggerakkan roda kreativitas bagi musik yang selama ini kurang dilirik publik. Tengok saja Karinding Attack yang mendapatkan berkah dari album yang dirilis pada 29 Mei 2012 ini. Karinding Attack sendiri turut mengisi di lagu “Sahabat”. Bagaimana musik tradisional yang dimainkan secara modern dapat tercermin dalam instrumental lagu “Sahabat”.

Album Suara Lainnya sendiri tampil dalam dua format seperti dituturkan oleh Uki sebagai berikut (Ariel dkk., Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012, hlm. 180):

Musica Studio’s sendiri, seakan tak mau setengah-setengah, melangkah lebih jauh lagi. Album Suara Lainnya itu dikemas dalam dua format. Pertama, format CD biasa, seperti yang selama ini dipasarkan. Format berikutnya berupa CD yang lebih mahal, yang masuk dalam kategori audiophile. Format macam ini tidak terlalu banyak ditemui di Tanah Air. Selain karena harganya jauh lebih mahal, pangsa pasarnya sangat terbatas. Namun format CD audiophile menjanjikan hasil yang jauh berbeda daripada CD biasa. Dengan kedua format macam itu, mau tidak mau biaya produksi pun bertambah besar. Jumlahnya makin besar bila biaya mixing ikut dimasukkan.

Album Suara Lainnya sendiri di kemudian hari, dalam bentuk format CD biasa diberikan sebagai insert bonus ketika membeli buku Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012. Adapun album Suara Lainnya dengan format CD audiophile dibanderol dengan harga Rp 100.000 di pasaran.

Album Suara Lainnya memberikan pembelajaran untuk tetap berkreativitas dan berkarya seberat apapun cobaan yang menghadang. Boleh dikata vonis 3,5 tahun penjara bagi Ariel telah melambungkan tanya bagi eksistensi band Peterpan ke depannya. Namun mereka menghadapi badai tersebut dengan tetap berkarya dan menghasilkan sesuatu yang istimewa bagi masyarakat. Cobaan tidak memadamkan semangat mereka dan nyala kreativitas mereka dalam bermusik.

Sebagai penutup artikel ini, tuturan dari Uki mampu menjadi perwakilan kata (Ariel dkk., Kisah Lainnya: Catatan 2010-2012, hlm. 180):

Tahun 2010 adalah dark chapter dalam sejarah bermusik kami. Kami berada dalam titik terendah dalam karier. Banyak sekali spekulasi yang mengatakan kalau band ini sudah tidak akan bisa jalan lagi. Ada juga yang bilang sebaiknya bubar saja. Album Suara Lainnya adalah jawaban bagi mereka yang meragukan kami.

Posted in puisi, sastra

Teduh

Dan kulihat wajahmu teduhkan laraku
Senyummu sembunyikan lukaku
Dan ku terpangku di titik senja
Mengamatimu terterpa sinar mentari

Keindahan yang menyatu dalam dirimu
Mozaik warna genapi gembiraku
Semenjak kamu hadir di taman hati
Semenjak kamu celotehkan setapak perjalanan

Karena serapuhku
Kini terkuatkan
Kini tertopang

Semburat jiwa yang kau bagi
Selepas rencana yang kau titi

Dan kita duduk berdampingan
Dalam senyap
Tanpa kata
Hanya mengerti
Dan saling tahu kuat rasa perasaan masing-masing

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi

Setelah Karya Besar (1)

Pada hari Ahad 18 Desember 2012 saya pergi ke Gramedia Pondok Indah. Maksud hati ingin membeli buku The Time Keeper karya Mitch Albom. Keterdesakan waktu dalam menjalani kehidupan keseharian membuat saya berpikir sepertinya novel tersebut layak menambah koleksi buku saya. Perihal novel bertemakan waktu saya menyarankan sidang pembaca sekalian untuk membaca novel berjudul Momo. Novel yang sederhana dan indah. Novel Momo juga mengguratkan pelajaran mengenai ketergesaan, bagaimana keterdesakan orang dewasa dengan waktu, kegembiraan yang hilang, dan arti dari waktu.

Awal mula meniatkan untuk membeli novel The Time Keeper, namun ketika sampai di Gramedia Pondok Indah Mall, saya mendapati novel The Casual Vacancy edisi Indonesia telah terbit. The Casual Vacancy sendiri merupakan novel pertama J.K.Rowling untuk pembaca dewasa. Tentu saja Rowling telah termasyhur dengan serial Harry Potter-nya yang legendaris. Seri bestseller Harry Potter yang dipublikasikan sejak 1997 sampai 2007 itu telah terjual lebih dari 450 juta kopi di seluruh dunia dan dipasarkan di lebih dari 200 negara, diterjemahkan dalam 73 bahasa, juga diadaptasi dalam 8 film blockbuster. Maka menarik adanya untuk menimbang novel The Casual Vacancy ini selepas keberhasilan Rowling membius jutaan manusia melalui petualangan penyihir Harry Potter cs.

Akhirnya saya berbalik kompas alokasi uang. Uang yang semula untuk membeli novel The Time Keeper, jadilah saya alihkan untuk membeli novel The Casual Vacancy. Setiba di rumah saya pun langsung membaca The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong) dengan ekspektasi besar terhadap daya ceritanya. Dari kilasan bacaan awal saya yang baru mencapai halaman ke 30, saya mendapat kesan ada nuansa berbeda yang ditawarkan oleh J.K. Rowling. Novel ini untuk sementara saya verdict lebih berat secara diksi dan penceritaan dibandingkan novel Harry Potter.

The Casual Vacancy

Cuplikan sinopsis dari The Casual Vacancy adalah sebagai berikut:

Ketika Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru awal empat puluhan, penduduk kota Pagford sangat terkejut.

Dari luar, Pagford terlihat seperti kota kecil yang damai khas Inggris, dengan Alun-Alun, jalanan berbatu, dan biara kuno. Tetapi, di balik wajah nan indah itu, tersembunyi perang yang berkecamuk.

Si kaya melawan si miskin, remaja melawan orangtua, istri melawan suami, guru melawan murid … Pagford tak seindah yang terlihat dari luar.

Dan kursi kosong yang ditinggalkan Barry di jajaran Dewan Kota menjadi pemicu perang terdahsyat yang pernah terjadi di kota kecil itu. Siapakah yang akan menang dalam pemilihan anggota dewan yang dikotori oleh nafsu, penipuan, dan pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga ini?

The Casual Vacany sebagai sebuah karya menurut hemat saya akan dikomparasikan dengan serial Harry Potter. Ini adalah karya Rowling yang akan menjadi titik bifurkasi bagi dirinya. Bisa jadi akan ada banyak pihak yang terkecewakan. Bisa jadi Rowling akan dipuji dan mendapatkan pangsa pasar pembaca baru. Setelah karya besar memang merupakan sebuah pertanyaan agung. Ada yang turun pamor, ada pula yang tetap berada di puncak popularitas. Rumusan yang tidak hanya berlaku bagi penulis besar macam J.K. Rowling.

Dalam sampel kasus lainnya, secara personal saya sendiri menyatakan bahwa The Bartimaeus Trilogy adalah serial yang mengagumkan. Karya besar dari Jonathan Stroud. Selepas saya membaca The Bartimaeus Trilogy, saya tanpa ragu membeli karya Stroud lainnya yakni The Leap (Lompatan), The Last Siege (Pengepungan Terakhir), Heroes of the Valley (Sang Pahlawan). The Leap dan The Last Siege baru bagian awal saya baca dan belum tamat. Sedangkan Heroes of the Valley telah saya tamatkan. Di The Leap dan The Last Siege sejauh pembacaan awal yang saya lakukan, maka ekspektasi kualitas dari karya Stroud tidak terpenuhi.

Adapun Heroes of the Valley merupakan karya yang terbit pada tahun 2009, sedangkan The Bartimaeus Trilogy rampung seri terakhirnya di tahun 2005. The Bartimaeus Trilogy sendiri telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa dan terjual 5 juta copy lebih di seluruh dunia. Maka Heroes of the Valley adalah bifurkasi tanya bagi Stroud. Mampukah dirinya untuk tetap berada di pucuk atas pengarang fiksi fantasi? Secara umum dalam penilaian saya Heroes of the Valley merupakan novel yang cukup menarik. Saya merekomendasikan Anda untuk membacanya. Namun jika dikomparasikan dengan The Bartimaeus Trilogy harus secara jujur saya akui bahwa kisah petualangan Bartimaeus bersama Nathaniel memiliki kualitas yang lebih baik.

The Ring Of Solomon

Stroud dalam pandangan saya juga masih menulis di bawah bayang-bayang kejayaan The Bartimaeus Trilogy. Praktis resep yang digunakan jika diteliti memiliki rumusan yang sama. Tokoh utamanya Halli merupakan gabungan karakter antara Nathaniel dengan Bartimaeus. Sedangkan Aud bagaikan replika dari Kitty. Plot yang dipakai juga memiliki begitu banyak kesamaan. Bagaimana Halli yang diremehkan dan ingin membuktikan diri, dendam dari Halli, maka Heroes of the Valley bagaikan pemadatan dari The Bartimaeus Trilogy.

The Ring of Solomon (Cincin Solomon) merupakan karya terbaru dari penulis kelahiran Inggris tahun 1970 ini. Jonathan Stroud rupanya kembali ‘menghidupkan’ karakter Bartimaeus. Bagi saya itu merupakan sebuah warta menggembirakan. Selepas epik dari membaca The Bartimaeus Trilogy, kemudian harapan yang agak meleset ketika membaca bagian awal dari The Leap dan The Last Siege, maka rajutan kisah baru dari Bartimaeus melambungkan asa saya kembali. Bartimaeus dalam kisah terbarunya mengambil setting waktu 950 SM. Bartimaeus ketika menjalani tugas di era kekuasaan raja Solomon. Novel Bartimaeus dan Cincin Solomon sejauh ini berhasil memikat saya. Memang belum tuntas saya baca novel tersebut. Namun sepanjang pembacaan yang saya lakukan hingga hari ini mencapai halaman 411, boleh dikata sentuhan Stroud dalam menggubah karya kembali istimewa dan memikat.

Celetukan khas Bartimaeus, kecerdikan, daya humornya, kembali mewarnai hari saya. Diksi yang kuat, kritik satire kemanusiaan, menjadi bumbu yang lagi-lagi membenderangkan novel karya Stroud.

(Bersambung)

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Aku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Tulisan Yang Belum Selesai

Semalam saya me-review berbagai tulisan lawas yang ada di flash disk. Maksud hati untuk menyelesaikan beberapa tulisan yang katakanlah tertunda. Nyatanya banyak artikel saya belum tersempurnakan. Di sisi lain saya juga mendapati luasnya range tulisan yang pernah saya coba gubahkan. Saya mensyukuri memiliki kompetensi dan mengalokasikan waktu untuk menulis. Membidik rangkaian pemikiran dan peristiwa, mengabadikannya bersama kata. Bayangkan apabila saya melepas saja semua itu. Maka pemikiran, peristiwa akan bisa terlenyapkan. Menulis rupanya memiliki fungsi merawat ingatan. Tentunya bukan maksud hati untuk terlena di masa lalu. Benar adanya kenangan dapat berfungsi untuk masa kontemporer dan masa depan.

Berbagai tulisan yang belum terselesaikan itu mengingatkan saya untuk sebisa mungkin tidak menunda-nunda penulisan. Rampungnya penulisan dari hulu sampai hilir, boleh dikatakan bukan perkara yang mudah. Itulah adanya yang membuat saya sewot, tersinggung, marah hati dengan orang yang menyepelekan penulis. Menulis dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan simpel. Menulis juga dianggap sebagai pekerjaan yang dapat begitu cepat dikerjakan. Biasanya orang-orang yang menyepelekan tersebut dalam radar pengamatan saya tidak memiliki kemampuan menulis, memiliki permasalahan mental dalam menghargai orang lain.

Menulis sendiri bagi saya seperti karya seni. Sekuat daya saya mencoba untuk menghasilkan karya terbaik dari tulisan yang saya buat. Itulah kiranya yang membuat saya harus memilah dan memilih. Mulai dari diksi, alur, konsep pemikiran yang dipakai. Menulis bagi saya bukanlah pekerjaan yang sekali jadi. Sebelum mementaskan tulisan, saya biasanya membaca lagi tulisan sebanyak beberapa kali. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar tulisan yang saya buat dapat memuaskan. Saya juga kerap memberikan jeda waktu pembacaan tulisan. Dengan demikian ada jarak emosional antara tulisan tersebut selesai dengan pembacaan ulang. Hal tersebut memungkinkan saya untuk melihat sisi lain dari tulisan yang saya buat.

Penulisan yang belum selesai juga biasanya terkait dengan data yang mesti dilengkapi. Data yang dilengkapi ini terkadang memeningkan saya. Sebut saja beberapa tulisan yang harus membuat saya membongkar literatur. Dan boleh dikata mencocokkan literatur membutuhkan kesabaran dan ketekunan tertentu. Dan hal itu harus dilakukan untuk memastikan bobot tulisan dan ketepatan tulisan. Tulisan dengan akurasi yang semrawut akan membuat tulisan tidak dapat dipertanggungjawabkan dari sisi ilmiah.

under construction

Penulisan yang belum selesai biasanya juga saya temui dalam tulisan serial. Biasanya maksud hati saya menuliskan dalam tulisan yang agak panjang. Namun seiring waktu, kesibukan, mood, kerap terjadi serial tulisan tersebut pupus di tengah jalan. Seiring waktu terkadang saya sudah kurang berselera untuk melanjutkan serial tulisan tersebut. Ada emosi yang harus saya bangun lagi, pengetahuan yang harus saya dedahkan lagi, mood yang harus saya aktifkan lagi, kira-kira itulah hambatannya.

Penulisan yang belum selesai banyak pula saya temui pada fragmen novel yang belum usai. Mumpung ini adalah akhir tahun 2012, dan akan memasuki tahun 2013, bolehlah saya berefleksi dan beresolusi. Melalui rubrik kali ini, saya berjanji untuk menseriusi pekerjaan novel saya. Rangkaian ide dan konsep itu akan mangkrak bersama waktu jika saya tidak selesaikan. Memang dibutuhkan konsistensi dalam menulis. Dan pengerjaan novel nampaknya akan berkorelasi dengan jadwal menulis saya. Terus terang saya terpicu ketika membaca kicauan di twitter mengenai writing habbit dari Haruki Murakami.

Berikut writing habbit dari Haruki Murakami:

‘As for Murakami, when he writes a novel, he gets up at 4am and works 5 to 6 hours; runs for 10 km/swim for 1.500 m; then goes to bed at 9pm.’

Writing habbit lainnya yang pernah saya baca lainnya ialah yang dilakukan oleh Jules Verne. Ia selalu menulis selepas waktu subuh. Dalam writing habbit, saya sendiri telah mencanangkan tekad untuk menulis 6 jam/hari. Saya percaya kemampuan akan semakin terlatih seiring waktu yang tertempuh. Hal ini pernah disinggung oleh Djenar Maesa Ayu bahwa resep menulis adalah dengan menulis. Dan saya percaya itu betul adanya. Menulis adalah keahlian yang harus ditempuh oleh manusia secara personal. Menulis ibaratnya perjalanan personal. Anda harus menjalaninya sendiri. Merasakan sendiri. Melalui ngarai rintangannya.

Itulah kiranya yang membuat saya tak dapat memberikan resep pasti ketika sahabat saya curhat tentang writer block. Saya hanya mengatakan bahwa writer block itu mungkin perlu. Sekali waktu perlu adanya untuk jeda dari penulisan. Saya sendiri tentu pernah mengalami writer block dengan berbagai macam akar penyebab. Dan cara mengatasi writer block tersebut juga bagi saya personal memiliki beberapa jalan. Itulah kiranya yang membuat saya merasa tak dapat menakarkan resep pasti mengatasi writer block pada sahabat saya itu. Menulis adalah perjalanan personal. Saya hanya dapat mereka-reka dan menerka resepnya untuk teman saya tersebut. Namun pada akhirnya ia harus menjalaninya sendiri.

Tulisan yang belum selesai menyentil saya terkait waktu. Nampaknya saya bukan hanya harus menghafal pesan ingat 5 perkara sebelum 5 perkara. Yang terpenting adalah mengamalkan pesan utama dari perintah agama tersebut. Waktu, itulah kuncinya. Bagaimana pemanfaatan waktu untuk dikonversikan menjadi tulisan. Percayalah tak ada waktu yang sempurna. Percayalah untuk tidak menunggu waktu yang sempurna. Kerjakan saja dan kejarlah kesempurnaan itu.

Tulisan yang belum selesai mengingatkan saya akan prioritas dan penjadwalan tulisan. Hendak kiranya membuat deadline. Dengan variasi karya tulis yang saya ciptakan, semoga tidak terbengkalai tulisan yang dikreasi. Tulisan yang belum selesai ibarat keindahan yang belum tertuntaskan. Ia menunggu peluh pikiran untuk menyempurnakannya. Sebagai penutup, izinkan saya bertanya kepada Anda, apa kabar tulisan yang Anda buat?

Posted in Aku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis 6 Jam/Hari

Harus saya akui di penghujung tahun ini begitu banyak tumpukan tulisan yang harus saya kerjakan. Beberapa klien lawas kembali bersua dan membuat saya harus sekilasan membaca dan menuliskan lagi. Selain itu klien baru siap menanti dengan timeline yang memburu. Waktu yang 24 jam seakan begitu cepat berdetak. Waktu..dan waktu..itulah adanya yang harus saya upayakan untuk menghasilkan karya. Disamping itu kantor juga berharap agar speed tulisan dapat lebih cepat lagi. Itulah kiranya poin evaluasi terhadap kinerja tim redaksi di kantor saya.

Saya pun mencoba mencari akar dan berusaha mengurai benang permasalahannya. Ada beberapa variabel yang membuat daya tulis saya dalam speed yang tidak begitu optimal. Variabel itu adalah terlalu fokus membaca. Dalam keseharian, saya merasa sebagai manusia yang lapar ilmu. Hingga saya lebih mendahulukan melahap banyak-banyak ragam bacaan. Eksesnya ceruk waktu lebih banyak habis untuk membaca dibandingkan menulis. Akar lainnya ialah saya ternyata tidak begitu menikmati mengerjakan tulisan di kantor. Baiklah ada internet di kantor. Namun internet malahan setelah saya telaah dapat menjadi sumber masalah. Saya menjadi terdistraksi dengan sosial media, berita, ataupun youtube.

Menulis di kantor rupanya mereduksi ruang ekspresi personal saya. Terus terang dalam menulis, saya lebih suka menyepi, menyendiri, dengan minimalisasi gangguan. Tentu saja kantor dengan adanya beberapa orang dan ragam suara, tidak paralel dengan budaya kredo menulis saya. Lalu apa solusinya untuk mendongkrak performa daya tulis saya? Saya pun memutuskan untuk melakukan langkah berikut: saya akan memberikan porsi waktu 6 jam sehari untuk menulis. Dengan kuota jam tersebut, maka saya memaksakan diri untuk menulis.

Perlu sidang pembaca ketahui selain pekerjaan formal redaksi, saya pun memiliki kanal-kanal lain yang terkait dengan dunia tulis menulis. Bagi saya ketika ekspresi penulisan saya hanya ter-domain pada pekerjaan formal, maka akan mereduksi kemampuan menulis saya. Menulis di kanal lainnya saya istilahkan dengan proyek personal. Proyek personal itu meliputi penulisan puisi, cerpen, novel, kaldera, blogger. Kaldera merupakan buah tulisan yang terkait dengan fiksi fantasi. Dimana saya menjadi pendiri dan admin dari Kaldera Fantasi (Kalfa). Dan saya sudah bertekad untuk membedah, memberikan perspektif berbeda dalam melihat fiksi fantasi. Sedangkan Blogger merupakan tulisan untuk mengisi blog personal saya. Di Blogger ada banyak rentangan keterusikan pikiran yang ingin saya elaborasi.

Pencanangan program menulis 6 jam/hari sendiri baru saya tetapkan pada hari Selasa 18 Desember 2012. Pada hari pertama saya berhasil memenuhinya. Saya berharap hari-hari ke depannya tetap mampu memenuhinya. Saya harap hal tersebut dapat menjadi ritme hidup. Dengan alokasi waktu tersebut saya percaya output tulisan saya akan lebih banyak secara kuantitas. Soal kualitas, insya Allah akan terjadi peningkatan seiring waktu. Dengan terus menerus bergulat dengan aksara dan pemikiran, saya percaya akan semakin mahir mengartikulasikan kata.

Bagi saya menulis 6 jam/hari merupakan proses pemaksaan diri. Beberapa hal memang harus dipaksakan untuk dapat mereguk manfaatnya. Saya pikir ketika memutuskan menjadi penulis, maka rentang waktu menulis pun harus lebih intens. Saya percaya dengan alokasi waktu yang saya berikan, maka tumpukan pekerjaan kantor akan terselesaikan di beberapa titik. Untuk memenuhi kuota 6 jam, saya sendiri merasa harus pandai-pandai mensiasati waktu. Seperti pada hari Selasa tanggal 18 Desember 2012, saya memilih untuk mengerjakan penulisan di rumah selama 3,5 jam. Kebetulan jarak rumah saya dengan kantor hanya selemparan batu. Disamping itu kantor juga tidak mengekang untuk terus-terusan berada di areal kantor dari jam 9 pagi-5 sore. Yang menjadi parameternya ialah selesainya pekerjaan dengan baik.

Pada hari Selasa tersebut, sisa 2,5 jam pengerjaan tulisan, saya kerjakan di rumah dari jam 21.30-24.00. Di siang dan sore harinya saya menemui klien, sehingga praktis tak dapat mengerjakan penulisan. Sedangkan pada hari Rabu 19 Desember 2012, saya memilih untuk menggunakan opsi maraton penulisan. Saya berangkat semenjak pagi karena ada janji temu dengan klien di Depok. Setelah bertemu klien, saya baru dapat menginjakkan kaki di kantor di sekitar jam 2 siang. Praktis hanya 1 jam yang dapat saya konversi menjadi penulisan di hari Rabu. Maka saya pun memutuskan untuk maraton menulis dari jam 19-24.

Saya percaya konsep menulis per hari selama 6 jam ini apabila tekun saya kerjakan akan menjadi pola hidup saya. Manusia selalu berusaha untuk menemukan titik equilibriumnya. Dan saya berharap equilibrium yang saya dapati nantinya adalah dengan memiliki waktu penulisan yang ajeg. Setelah saya pikir-pikir juga dengan memiliki porsi waktu menulis yang panjang, akan menantang diri saya sendiri untuk lebih produktif menghasilkan. Segala yang saya baca, dengar, lihat, rasakan, akan sekuat daya saya konversikan menjadi karya tulis. Di hari-hari sebelumnya saya merasa seperti memupuk bacaan, menumpuk ide, merencanakan banyak tulisan, namun dalam eksekusinya menjadi karya tulis relatif belum optimal.

Pola 6 jam/hari inilah yang saya percaya akan meningkatkan potensi, upaya, kreativitas dalam diri. Sudah saatnya bagi saya untuk naik level ke kemampuan menulis yang lebih cepat, lebih baik, lebih berkualitas. Porsi waktu untuk sesuatu yang lebih banyak saya percaya mungkin pernah Anda alami. Semisal ketika dulu menghadapi ujian-ujian yang menentukan. Ujian seperti ketika berada di kelas 6 SD, 3 SMP, 3 SMA, ujian masuk perguruan tinggi. Ada upaya yang lebih intens di titik-titik waktu tersebut. Dan mungkin Anda akan kaget sendiri, ternyata bisa menjalani waktu belajar yang begitu panjang. Ada mimpi di waktu itu yang bertemu dengan upaya manusiawi.

Ada seorang teman saya yang berpendapat untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah. Kerja cukup di kantor. Rupanya pendapat teman saya tersebut tak mengena bagi saya. Saya justru harus membawa pekerjaan di rumah. Bahkan saya merasa kekuatan menulis saya jauh lebih dahsyat di rumah. Saya benar-benar memiliki kemerdekaan dan praktis tidak terusik dalam mengerjakan penulisan. Saya dapat mengakrabi tulisan, ketika mengerjakannya di rumah. Mengerjakan tulisan di rumah, saya benar-benar merasa mampu memberikan ekspresi personal yang utuh. Selain itu di rumah, saya memiliki koleksi buku yang memungkinkan saya untuk membangun tata kelola pemikiran.

Menulis 6 jam/hari ibarat melatih otot. Bukankah otot yang dilatih akan menjadi sehat? Bukankah otot yang dilatih akan menjadi kuat? Keahlian yang terus diasah tiap harinya akan meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Dan menurut hemat saya sistem pendidikan di Indonesia harus mempertimbangkan tentang seberapa mampu untuk mengkreasi lingkungan yang produktif menghasilkan. Misalnya jikalau mahasiswa, berapa banyak paper yang dapat dihasilkan selama menjalani kuliah. Dengan demikian bangsa ini akan memiliki mental pencipta. Mental pencipta inilah yang akan membentuk karakter.

Jikalau olahragawan menghabiskan waktu sekian jam untuk berlatih. Jikalau musikus menghabiskan waktu sekian jam untuk berlatih melodi. Maka biarlah saya menghabiskan waktu sekian jam pula untuk menulis. Lalu bagaimana dengan Anda? Sudahkah berketetapan hati mau memilih profesi apa? Telahkah menghabiskan waktu sedemikian panjang untuk menjadi yang terdepan di profesi Anda?

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis Dari yang Mudah

Salah satu parameter kemajuan dari suatu peradaban ialah kemampuannya untuk meninggalkan jejak sejarah. Jejak sejarah itu memiliki banyak ragam. Maka terperangahlah kita dengan keindahan bangunan-bangunan peninggalan masa lampau di dunia. Borobudur, Menara Eifel, menara Pisa, The Great Wall di China, istana Taj Mahal, dan sebagainya. Namun jangan lupakan peninggalan peradaban bukan hanya dalam bentuk arsitektur yang maha. Ada pula peninggalan ilmu pengetahuan dalam bentuk literasi. Diantaranya hal tersebut terlacak dan terkodifikasikan oleh Andrew Taylor dengan bukunya yang bertitel buku-buku yang mengubah dunia.

Tulisan sendiri merupakan upaya untuk merekam peristiwa dan makna. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini medium merekam memang menjadi lebih luas lagi derivasinya. Tulisan pun pada beberapa kalangan telah mengalami reduksi dari keseharian. Dunia baca pada beberapa aspek juga melakukan evolusi. Mulai dari kepadatan alinea, bantuan dari infografis, karikatur, untuk membantu menjelaskan tulisan. Namun saya percaya lini tulisan tidak akan termusnahkan secanggih apapun perkembangan teknologi.

Menulis dengan demikian akan selalu omni present dalam kehidupan. Bahkan dengan kemajuan teknologi maka tulisan dapat lebih berdiaspora. Selain itu kuantitas tulisan dapat lebih membengkak. Sehingga dikenal dengan istilah luberan informasi. Kini dengan sosial media yang ada maka sebaran informasi dapat lebih cepat dan lebih menyebar. Melalui medium internet juga memungkinkan daya jangkau tulisan yang lebih luas. Menulis pun meluaskan rangkulannya. Tidak hanya wartawan ataupun penulis, namun setiap warga dunia kini mendapatkan ruang lebih lapang untuk menulis. Ada blog personal yang memungkinkan seseorang untuk menyalurkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Tampilan blog juga sudah beragam seperti misalnya dengan munculnya microblogging seperti tumblr.

Mengapa menulis? Sepertinya pertanyaan akar tersebut dapat menjadi raison d’etre dalam menulis. Raison d’etre yang akan menyalakan semangat untuk menulis. Pramoedya Ananta Toer pernah menyatakan bahwa sepintar apapun orang itu, jika ia tidak menulis maka ia akan hilang dari sejarah. Menulis dengan demikian merupakan jejak sejarah. Bukti kehadiran manusia di muka bumi. Bukti dari sebuah peradaban. Dengan menulis memungkinkan untuk mengkonstruksi makna versi diri sendiri.

Menurut hemat saya menulis itu penting adanya bagi berbagai kalangan. Tak mesti harus mereka yang berprofesi formal sebagai wartawan ataupun penulis untuk menjadi penulis. Setiap warga dunia dapat menuliskan apa-apa yang dipandangnya penting. Alangkah semaraknya jagat penulisan apabila dari ragam profesi formal yang dijalani manusia itu dapat berbuah menjadi tulisan. Ilmu pengetahuan akan lebih menggeliat dan bersinar. Ada pewarisan nilai disana. Maka tidak hanya berbicara tentang kontemporer melainkan manfaat daya guna di masa mendatang.

Menulis dapat dimulai darimana? Sayangnya menurut hemat saya sistem pendidikan Indonesia kurang konstruktif dalam membentuk milleu budaya membaca dan menulis. Yang ada adalah budaya menghafal pelajaran. Seolah-olah didiktekan kebenaran yang harus dihafal dan di-beo-kan kembali dalam jawaban soal. Semoga kurikurulum 2013 nanti dapat lebih aspiratif lagi terhadap budaya menulis.

Budaya menulis menurut hemat saya dapat terkondisikan dengan lingkungan. Misalnya dalam sistem pendidikan dengan memberikan tugas berupa paper. Maka dengan paper ini daya tulis akan terasah. Menulis sendiri bukan keahlian yang ujug-ujug. Melainkan normalnya harus ditempa dan dilatih. Disinilah peran dari pendidikan untuk memberikan ruang leluasa bagi tumbuh kembangnya budaya menulis. Saya sendiri ketika di tahun-tahun awal kuliah di Fisip UI merasakan betul bagaimana banyak mahasiswa yang kedodoran dan mengeluh dengan sistem pendidikan di kampus yang mengharuskan untuk membuat laporan tertulis dalam berbagai mata kuliah. Logika sederhananya yang kuliah di Fisip UI dimana notabenenya telah terseleksi sebagai mahasiswa unggulan, apalagi dengan berbagai mahasiswa lainnya di universitas lain.

Untuk membuat menulis menjadi budaya menurut hemat saya juga harus melalui pola pembelajaran yang benar. Menulis hal-hal yang disukai oleh masing-masing peserta didik contohnya. Menulis sesuatu yang disukai peserta didik akan menjadi entry point agar kegiatan menulis menjadi ritme kehidupan. Saya percaya dengan menuliskan sesuatu yang disukai, kecepatan, ketepatan penulisan akan lebih berdaya. Yang ditumbuhkan mula-mula adalah kegemaran menulis. Setelah kegemaran menulis terbentuk, bisalah adanya untuk membuat tulisan yang tematik dan ilmiah.

Sayangnya dunia pendidikan Indonesia yang saya alami ialah lini penulisan yang telah mengkerangkeng imajinasi. Dalam menulis di bangku sekolah dasar telah ditentukan temanya. Tema yang belum tentu akrab dengan peserta didik. Belum lagi dengan konstruksi menulis yang seakan menjadi resep wajib yakni ‘berlibur ke rumah nenek’. Resep wajib ‘berlibur ke rumah nenek’ memiliki paralelisme dengan menggambar ‘gunung beserta jalan dan matahari yang bersinar’. Sejak belia fondasi kepenulisan telah salah kaprah. Padahal saya percaya bibit-bibit penulis handal di negeri ini amat banyak bertebaran.

Bibit-bibit penulis yang dapat tersabit dikarenakan pembelajaran bahasa yang kaku menurut kaidah tata bahasa. Alangkah menulis menjadi sebuah beban. Mulai dari tema yang dicangkokkan, aturan tata bahasa. Padahal menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan. Coba saja dengan menulis diary. Saya percaya masing-masing dari kita akan lancar berkutat dengan aksara apabila menulis diary. Mengapa? Karena ada kemerdekaan disana dan tema yang disukai oleh diri.

Dalam acara Idenesia, penulis Alberthiene Endah pernah membagi pengalamannya mengajar menulis di mahasiswa Fisip UI. Dalam sesi tersebut Alberthiene Endah memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menulis apa saja dalam 5 menit di kertas kosong. Apa hasilnya? Menurut Endah, alangkah banyaknya tulisan yang bagus yang terlahir dari sesi tersebut. Rupanya salah satu benturan dalam menulis ialah tirani, paranoid di kepala masing-masing. Ada ketakutan tertentu terhadap menulis, mulai dari tata bahasa, bagus atau tidak, dan sebagainya.

Apabila Anda belum tergerak untuk menulis pikirkanlah kembali tentang manfaat menulis. Anda dapat membagi pengetahuan dan dunia Anda dengan menulis. Dengan menulis Anda dapat membuat jejak sejarah. Jangan lupakan bahwa ilmu dapat lebih bermanfaat ketika disebarkan. Jika belum menulis, maka bisa meminjam konsep AA Gym. Konsep 3 M yakni mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang. Saya percaya setiap dari kita bisa dan mampu. Selamat mengasah pena.

Posted in Anime, Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik

Bintang Sepak Bola Dunia di Komik Tsubasa

Piala Dunia antar klub yang berlangsung di Jepang memanggil memori seorang Fernando Torres akan ingatan masa kecilnya. Torres yang memiliki nama julukan El Nino merupakan penggemar dari anime Tsubasa semenjak dirinya berumur enam tahun. Di Spanyol, anime Tsubasa memiliki titel Oliver Benji. Saat mulai berlatih di Parguet 1984, pengaruh besar Tsubasa mengubah jalan karier Torres untuk selamanya. Awalnya, Torres bermain sebagai penjaga gawang. Namun, dua tahun menjalani pendidikan di Praque 1984, tepatnya saat memasuki usia tujuh tahun, ia berubah pikiran. Ia beralih menjadi penyerang.

Pengaruh dari terus menerus menonton Tsubasa membuat Torres kecil menetapkan pilihan sebagai striker. Sebuah pilihan yang di kemudian hari mengantarkannya sebagai salah seorang predator nomor wahid. Terbukti dengan kiprahnya yang turut membawa Spanyol menjadi juara Piala Eropa tahun 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010.

Siapa gerangan pria di balik layar dari serial Tsubasa? Yoichi Takahashi merupakan sosok pencipta komik Captain Tsubasa. Sejumlah nama beken dalam dunia sepak bola nyata turut mewarnai komik dari Takahashi. Meski disamarkan namanya, namun secara jeli, kemiripan nama dan klub yang ia bela membuat pembaca mafhum bahwa Takahashi mengilhami karyanya dari dunia sepakbola nyata. Berikut daftar-daftar pemainnya. Dalam penyusunan artikel kali ini saya harus mencantumkan referensi tulisan yakni berasal dari koran Republika edisi Sabtu, 15 Desember 2012 halaman 17.

tsubasa 1

Real Madrid

1. Callusias – Iker Cassilas
Penjaga gawang timnas Spanyol yang bermain untuk Real Madrid ini merupakan tembok terakhir yang kokoh. Cassilas merupakan produk binaan dari akademi sepak bola Real Madrid. Ia merupakan kapten dari timnas Spanyol di Piala Eropa 2008, 2012 dan Piala Dunia 2010.

2. Fago – Luis Figo
Saat ia bermain untuk Real Madrid, banyak penggemar Barcelona yang menyebutnya sebagai pengkhianat. Figo merupakan salah satu pemain yang tergabung dalam Los Galacticos yang dibentuk di era kepemimpinan Florentino Perez.

3. Roberto Carolus – Roberto Carlos
Ia merupakan bek kiri yang juga memiliki naluri serang luar biasa. Aktif overlapping dan cepat kembali meng-cover pertahanan merupakan kelebihan dari pemain plontos ini. Jangan lupakan pula tendangan bebasnya yang membuat jeri kiper lawan.

4. Rali – Raul Gonzales
Ia adalah ikon kebanggaan Real Madrid. Raul tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Champions. Raul, si kidal bernomor punggung tujuh ini merupakan striker asli Spanyol yang turut mengantarkan Real Madrid meraih trofi Liga Champions di tahun 1998, 2000, 2002.

Barcelona

1. Rivaul – Rivaldo
Pesepakbola Brasil peraih gelar Pemain Terbaik Dunia Fifa, Ballon d’or, dan Pemain Terbaik Eropa pada 1999. Teknik tinggi, determinasi, umpan akurat, serta finishing berkelas menjadi kelebihan dari pemain yang turut mengantarkan Brasil meraih gelar Piala Dunia yang kelima pada tahun 2002.

2. Valtes – Victor Valdes
Di timnas Spanyol Valdes boleh saja berada di bawah bayang-bayang Casillas. Namun di Barcelona, sosok Valdes adalah pilihan nomor satu dalam menjaga gawang tim Catalan ini.

3. Payol – Carles Puyol
Kokoh dalam bertahan, piawai dalam duel udara merupakan kelebihan dari pemain berambut kribo ini. Dirinya merupakan sosok tangguh di lini pertahanan yang menjamin stabilitas dari gempuran serangan rival.

4. Neto’o – Samuel Eto’o
Laga Final Liga Champions tahun 2006 dan 2009 menjadi panggung kebolehan dari pemain asal Kamerun ini. Predator di depan gawang yang cerdik dan memiliki killing insting mumpuni.

5. Xavii – Xavi Hernandes
Gelandang kreatif yang berperan besar dalam skema tiki taka yang berjalan apik di Barcelona dan timnas Spanyol. Akurasi umpannya benar-benar memanjakan rekan satu timnya untuk mengkonversi menjadi gol.

tsubasa 3

Parma

1. Buhon – Gianluigi Buffon
Sosok tak tergantikan di bawah mistar timnas Italia. Turut membawa negeri spaghetti merengkuh gelar Piala Dunia pada tahun 2006. Ketenangan, penyelamatan ‘edan’ merupakan kelebihan dari kiper yang kini membela Juventus ini.

2. Cannavaru- Fabio Cannavaro
Satu-satunya defender yang pernah mendapat gelar pemain terbaik dunia versi Fifa. Kapten timnas Italia di Piala Dunia 2006 ini merupakan sosok liat, gigih, dan taktis mematikan pergerakan striker lawan.

3. Thoram – Lilian Thuram
Turut mengantarkan Perancis merengkuh trofi Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 ini merupakan sosok yang lugas dalam menghentikan pergerakan lawan.

tsubasa 2

Juventus

1. Zedane – Zinedine Zidane
Ia adalah arsitek kreativitas dari permainan Perancis yang membawa negerinya mencicipi kejayaan di tahun 1998 dan 2000. Dua tandukannya di Piala Dunia 1998 membawa negerinya untuk pertama kalinya merayakan gelar juara dunia. Tandukan pula yang merupakan aksi perpisahan dari pemain ini pada gelaran Piala Dunia 2006. Maestro sepakbola yang pernah mengenakan nomor punggung 21, 5, dan 10 ini merupakan sumbu kreativitas bagi Juventus, Real Madrid, dan timnas Perancis.

2. Alesandro Delpi – Alesandro Del Piero
Awal kemunculannya secara reguler di tim utama Juventus berhasil menyingkirkan Roberto Baggio yang telah mantap sebagai striker handal di Piala Dunia 1994. Teknik tinggi, sepakan akurat free kick, umpan yang memanjakan, partner yang menguatkan dengan ragam striker di Juventus, merupakan nilai lebih dari Del Piero.

3. Fillipo Inzars – Fillipo Inzaghi
Duetnya bersama Del Piero menghasilkan kolaborasi yang menakutkan di Serie A dan Liga Champions. Del-Pippo merupakan julukan dari duet gahar tersebut. Inzaghi sendiri merupakan finisher cerdik yang memiliki speed, intelegensi, dan positioning numero uno.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa