Posted in Aku, Essai

Kucing Diantara Rolling Door

Kisahnya dimulai di hari Ahad malam kemarin. Tak lama setelah sobat saya pamit pulang, saya pun merapatkan rolling door rumah. Alangkah terkejutnya saya ketika ada suara raungan kucing. Langsung mekanisme pikiran saya bekerja. Jangan-jangan ada kucing yang tergencet di rolling door. Wah alangkah celakanya bila benar terjadi. Saya bisa secara tak sengaja menjadi pembunuh kucing. Saya pun melongok ke arah titik terjauh rolling door. Semula tidak terlihat adanya. Namun pada sapuan mata berikutnya ternyata ada kucing di titik jauh pojok rolling door. Saya pun mengambil senter. Untuk kemudian mengarahkan cahaya agar benderang adanya.

Semula saya pikir secara tidak sengaja saya telah mematahkan kaki si kucing karena tarikan rolling door yang saya lakukan. Namun ternyata setelah seksama melihat dengan bantuan senter, ada space di pojok rolling door bagi kucing tersebut. Kelegaan pun menyeruak di diri saya. Saya bukanlah pembunuh kucing dan tidak mematahkan kaki si kucing. Yang harus saya lakukan berikutnya ialah membujuk kucing tersebut agar keluar dari pojok rolling door. Nada membujuk dengan menirukan suara kucing saya lakukan, membunyikan suara melalui pergerakan jari saya lakukan, dan si kucing tetap tidak bergeming dari tempatnya.

Saya memutuskan untuk memancing si kucing dengan makanan. Soto ayam yang belum lunas saya habiskan menjadi jalan pancingan tersebut. Saya suwir ayamnya untuk kemudian saya bujuk si kucing. Si kucing masih tetap teguh di tempatnya. Akhirnya saya lemparkan suwiran ayam tersebut menuju arahnya. Barulah bergerak si kucing menyantapnya. Meski begitu saya tetap belum mampu memindahkan si kucing ke area aman. Hanya ada bentang jarak yang sempit antara rolling door, tembok, dan pintu rumah saya. Bentang jarak yang tak dapat disusupi manusia. Jadilah pancingan suwiran ayam hanya berhasil memindahkan sejenak si kucing dari titik pojok rolling door.

Di hari Ahad malam sampai Senin dinihari si kucing gagal terpindahkan. Akhirnya beristirahatlah si kucing di sudut tersebut. Hari Senin pagi, si kucing berpindah ke sisi kiri rolling door. Kali ini saya mencoba berkolaborasi dengan pembantu di rumah saya. Dengan cara yang lebih teror (menggedor-gedor rolling door dengan gerakan tangan), pembantu saya mencoba mengenyahkan si kucing dari rolling door. Ah iya saya terangkan sekilas soal pemetaan ruangnya. Jadi rumah saya terdapat rolling door dan pintu. Diantara rolling door itu memang ada jarak yang sempit. Jarak yang tidak memungkinkan manusia untuk menyisipkan tubuhnya. Adapun jika rolling door didorong sampai mentok ada kekhawatiran si kucing bakalan tergencet. Lumayan dilematis bukan?

Masih di hari Senin, setelah pembantu saya mencoba untuk memindahkan si kucing hasilnya belum tertemui. Malahan si kucing semakin syahdu meringkuk di pojokan. Tak bergeming. Kembali saya berpikir untuk menggunakan taktik jebakan makanan. Kali ini dengan ikan. Pikir saya, memancing si kucing agar bergerak dari pojok, lalu pembantu saya akan menggondol si kucing. Hmm..kelihatan menjanjikan rencana saya. Namun dalam implementasinya menemui kendala berarti. Rupanya akibat cara yang agak teror dari pembantu saya sebelumnya, bahkan lemparan ikan tidak digubris oleh si kucing. Alhasil gagal kembali tertemui. Saya pun harus berangkat kerja ke kantor.

Pada sorenya kucing itu masih tetap di pojokan. Ia mengeluarkan suaranya berkali-kali. Kucing itu pasti butuh makan dan minum. Maka infinitum nihil berarti si kucing di pojokan. Seperti hukum hidup, stagnasi tidak akan terjadi selamanya. Kehidupan itu bergerak. Kehidupan itu berpindah. Si kucing saya percaya akan keluar dari pojok rolling door. Untuk mencari makan dan minum, untuk survive. Selang waktu malam, saya memutuskan untuk kembali memberikan ikan yang tadi pagi (pada waktu jam makan siang, saya melemparkan beberapa suiran ikan ke arah si kucing. Tenang saja saudara pembaca, saya memiliki perikekucingan).

Di waktu malam itulah saya memberi makan si kucing. Ketika saya membuka pintu rumah ternyata si kucing baru keluar dari luar, dan segera kembali ke titik pojok rolling door. Itu sekaligus menunjukkan kebenaran teorema saya bahwa si kucing tidak akan stuck terus-terusan disitu. Ia akan berpindah. Memberikan makan bagi si kucing dan melihatnya lahap memakan memberikan kepuasan tersendiri bagi saya. Inilah nikmatnya memberi dan berbagi. Sejenak saya lupakan urusan pindah memindahkan si kucing dari pojok rolling door. Ada koneksi tertentu rupanya antara saya dan si kucing setelah berbilang jam.

Bagi saya pertautan antara saya dan si kucing memiliki beberapa spektrum pembelajaran. Bahwa hidup tidak stagnan. Bahwa setiap makhluk hidup memiliki daya untuk survive. Bahwa hidup itu harus memberi dan berbagi. Bahwasanya hidup terkadang tiada terkomunikasikan dengan sempurna antara yang satu dengan yang lain. Bahwa hidup berisikan jebakan dan pancingan. Ilusi yang dapat menipu.

Di waktu Selasa pagi saya dapati bahwa si kucing telah tidak ada di pojok rolling door. Konon kata si pembantu saya, si kucing berhasil dikeluarkan oleh tukang jahit dari belakang rumah saya. Seperti halnya pertemuan, perpisahan adalah takdir. Mungkin korelasi saya dengan si kucing hanya berbilang jam. Tapi saya percaya hidup ini bukan seberapa panjang, seberapa lama waktu yang dilalui. Tetapi bagaimana mengambil pembelajaran dari segala peristiwa. Bagaimana untuk benar-benar hidup dalam hidup. Dan kucing diantara rolling door telah memberikan saya pasokan kebermaknaan. Terima kasih si kucing.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s