Posted in Aku, Essai, Musik

Membuat Lagu (1)

Terhitung mulai hari Ahad 23 September 2012 saya memiliki blackberry. Sebelumnya ponsel yang saya miliki bermerek nokia 1650. Sudah cukup lumayan, waktu yang saya habiskan bersama ponsel nokia tersebut. Dari tahun 2008 hingga bulan September 2012 saya menggunakan hand phone nokia. Hand phone nokia itu sendiri masih ada di rumah, anteng-anteng di tempat penyimpanannya. Dan kondisi terakhir dari hand phone nokia itu adalah masih fine-fine saja, terkecuali di nada dering. Pada nada dering, ketika orang menelepon tidak berbunyi nada panggilan masuk. Mengapa saya memulai esai ini dengan berbincang soal telepon seluler? Jawabnya karena melalui medium ponsel saya mendapatkan ruang eksplorasi baru dari kompetensi saya yakni membuat lagu.

Dengan memiliki blackberry kini saya dapat merekam segala lintasan ide materi lagu yang saya kreasi. Sebagai informasi saya adalah seorang gaptek yang aduhai. Atau jangan-jangan sebenarnya nokia 1650 yang saya miliki juga memiliki kemampuan memori untuk merekam segala suara yang dapat menjadi materi lagu? Terus terang hal tersebut baru terpikirkan ketika saya menuliskan artikel ini.

Berbicara tentang daya cipta lagu, rasanya saya harus memutar memori jauh ke bilangan waktu berlalu. Sebenarnya kemampuan itu telah saya miliki semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar. Saya harus berterima kasih kepada grup band Dewa 19 yang menjadi pemicu dan pemacu gaya dan daya musikal saya ketika itu.

Saya pun ketika SD mulai mencoba-coba membuat lagu. Dengan instrumenkah? Tidak. Karena pada dasarnya saya belum memiliki kemampuan dengan alat musik dan partitur melodi not balok. Saya hanya bersenandung mencari-cari nada dan irama. Ketika itu saya mendapatkan beberapa potongan lagu kreasi saya. Lalu ketika usai mengkreasi saya pun menuliskannya di selembar kertas. Namun dikarenakan tiada memiliki alat perekam, jadilah berbilang waktu kemudian saya lupa dengan melodi yang saya ciptakan. Yang tersisa hanyalah untaian lirik.

Daya cipta lagu saya untuk kemudian sekian lama terpendam tidak tersentuh. Selepas SD, saya praktis tidak mengasah kemampuan mencipta lagu ini. Meski begitu saya tetap memiliki kegandrungan terhadap musik. Saya adalah konsumen bagi banyak musik. Ragam musik saya lahap sepanjang masih sesuai dengan parameter kuping. Imajinasi mencipta musik saya baru terbangunkan kembali ketika menginjak bangku kuliah. Pemicunya ialah waktu kosong antara jam kuliah yang satu dengan jam kuliah berikutnya. Selang jeda tersebut membuat saya memiliki momentum untuk melamun dan enaknya membuat apa ya?

Ketika di bangku kuliah saya memiliki walkman. Dan dari walkman itulah sebagai perangkat terciptanya beberapa lagu. Saya merekam senandung melodi dalam kaset. Dan harus saya akui sejauh ini praktis tidak ada alat musik yang saya kuasai. Begitu juga dengan not balok dan teori permusikan. Korelasi dengan alat musik seingat saya mengalami kegagalan ketika dahulu tes bermain suling sewaktu SD. Padahal ketika itu saya hanya memainkan do re mi fa so la si do bolak-balik. Yang muncul adalah suara sember centang perenang. Jika mengingat itu sekarang, saya jadi teringat tokoh Nathaniel dalam kisah The Bartimaeus Trilogy yang kacau balau dalam pelajaran instrumen musik.

Meski tanpa penguasaan instrumen alat musik dan pengetahuan not balok, saya masih memiliki ‘senjata’ lainnya yakni olah vokal. Jika di rumah, saya pede-pede saja menyanyi sedari kecil. Sedangkan untuk lingkup sosial sepertinya keberanian saya untuk mempublikasi suara dengan bernyanyi yakni ketika duduk di bangku SMA. Kemampuan olah vokal ini dulu saya gunakan untuk mendekati seseorang yang saya sukai sewaktu SMA. Deretan lagu Padi saya nyanyikan untuk dirinya. Ketika kuliah, kegemaran saya bernyanyi tetap nyala. Bahkan di awal-awal kuliah saya sempat menjadi vokalis dari band yang anggotanya berintikan mahasiswa jurusan Ilmu Politik angkatan saya. Ketika itu target terdekat band ini ialah tampil dalam acara mahasiswa baru.

Lagu yang rencananya kami bawakan di pentas ialah lagu ciptaan Iwan Fals yakni Pesawat Tempur. Namun segala rencana dan usaha itu kandas di tengah jalan. Alasannya ialah ketika tidak begitu jauh dari hari-H, bapak saya meninggal dunia. Saya pun dalam masa berkabung. Bahkan untuk beberapa ujian ketika itu saya ikut ujian susulan dikarenakan meninggalnya bapak saya terjadi ketika musim ujian di Fisip UI berjalan.

Naluri bermusik saya menggeliat berbilang berapa tahun setelah tahun awal di kuliah itu. Jeda waktu antara mata kuliah membuat saya memiliki rentang masa kreativitas. Saya pun membuat beberapa lagu. Sayangnya kaset rekaman itu telah hilang sekarang. Namun lirik lagunya tetap tersimpan dan saya masih mengingat lagu yang saya buat itu. Tentunya karena pernah direkam dan saya putar berkali-kali memori saya terhadap nada lagu yang saya buat menjadi terdapati.

(Bersambung)

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s