Posted in Aku, Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film

Aku dan The Lord of the Rings

Novel yang mempesona. Film yang memorable. Rupanya kalimat itulah yang dapat menggambarkan The Lord of the Rings. Novel The Lord of the Rings dikreasi oleh J.R.R. Tolkien. Sedangkan trilogi The Lord of the Rings disutradarai oleh Peter Jackson. Beruntunglah manusia yang mencicipi masa milenium ini. Dikarenakan dalam hidupnya berkesempatan untuk membaca narasi detail versi novel dari The Lord of the Rings. Keindahan dalam novel dapat dipadukan dengan visualisasi, drama, aksi dari versi trilogi filmnya. Unsur yang saling menguatkan antara versi novel dan versi filmnya.

Dalam esai kali ini boleh dikata saya ingin membagi pengalaman personal saya dengan The Lord of the Rings. Awal mula saya mengetahui serial ini adalah melalui film di bioskop. Ketika itu The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring (2001) menjadi gerbang perkenalan saya dengan dunia para hobbit ini. Di serial pertama ini, saya tidak menonton langsung di bioskop. Namun saya tahu selintasan ada film The Lord of the Rings. Irisan persentuhan kemudian berlanjut ketika ada pameran buku di Istora Senayan tahun 2002. Saat itu saya memutuskan untuk membeli novel The Lord of the Rings: Sembilan Pembawa Cincin. Novel tersebut terbeli karena saya memintanya pada bapak saya.

Di masa tersebut budaya membaca buku saya belum sekokoh sekarang. Awal saya membaca novel The Lord of the Rings yang saya dapati adalah pening dan saya pikir terlalu bertele-tele. Bagaimana segala hal dijelaskan dengan perincian. Bahkan sampai menggunakan footnote. Stempel verdict saya ketika itu adalah novel yang membosankan.

LOTR

Barulah pada seri kedua The Lord of the Rings: The Two Towers saya menonton langsung filmnya di bioskop. Dan kesan saya: wow. Film yang benar-benar komplet. Saya pun jatuh cinta pada film The Lord of the Rings dan bertekad untuk menonton seri pamungkasnya di waktu mendatang. Timbul penyesalan pula. Mengapa yang edisi pertamanya, saya tidak menonton langsung di bioskop. Demi mengurangi gulana itu, saya membeli cd The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring. Dan rasa cinta saya terhadap Frodo cs semakin membumbung pasca menonton seri pertamanya.

Saya memiliki kesempatan untuk mengintip inti ceritanya dengan membaca novel trilogi gubahan Tolkien. Namun saya memutuskan untuk menerbitkan sisi enigma dari menonton film seri ketiganya. Saya pun memilih untuk belum membaca novelnya. Akhirnya seri terakhir dari trilogi The Lord of the Rings keluar pada tahun 2003. Sebuah konklusi yang sangat indah, memikat, dramatik. Saya menikmati setiap menit dari ceritanya. Dan beruntungnya lagi saya tidak mengetahui tentang akan kemana ujung cerita ini. Saya mendapatkan unsur wow dan kejutan dari menonton The lord of the Rings: The Return of the King.

Berbilang waktu pasca saya telah menonton seri terakhir The Lord of the Rings, barulah kembali saya membaca novel pertamanya yakni The Lord of the Rings :Sembilan Pembawa Cincin. Kini di lapis memori kepala saya telah terdapat narasi cerita dan imajinasi yang filmis. Kali ini saya benar-benar jatuh cinta dengan novel The Lord of the Rings seri pertama tersebut. Sebabnya mungkin karena daya baca saya relatif telah lebih termapankan. Dan versi novelnya memberikan keindahan dalam dimensi yang lain dari peta besar The Lord of the Rings. Ada sisi-sisi yang tematik, mendetail, rincian yang tentu saja tidak dapat ter-cover dalam sekian menit film di bioskop.

Selepas membaca buku pertamanya, saya pun melanjutkan dengan buku kedua dan ketiga. Kini serial The Lord of the Rings menjadi salah satu buku favorit saya dengan verdict: recommended. Bagaimana ketika membaca novel itu saya benar-benar merasakan bahwa dunia dalam The Lord of the Rings itu benar adanya. Bagaimana Tolkien dengan amat telaten membuat pohon keluarga. Bagaimana peta waktu yang mengulas siklus kehidupan di middle earth. Dan hebatnya dari novel ialah memberikan kebebasan mengepakkan sayap bagi masing-masing pembacanya untuk bereksplorasi dengan imajinasi personalnya. Dan Tolkien menghadirkan dunia imajinatif yang benar-benar hidup dan menyata.

Desember 2012 menjadi fase baru bagi lembaran baru dari visualisasi karya Tolkien. Buku The Hobbit diadaptasi menjadi trilogi. Dan saya akan menjadikan filmnya di bioskop sebagai top list untuk ditonton. Saya sendiri belum membaca novel The Hobbit. Dan sepertinya saya akan kembali ber-deja vu terkait dengan film dan novel. Saya akan menyaksikan versi filmnya hingga tuntas terlebih dahulu, barulah nanti membaca novelnya. Enigma itulah unsur yang saya cari. Maka saya ucapkan selamat datang kembali wahai hobbit. Terima kasih telah memberikan warna dalam hidup saya, dan saya percaya hidup Anda pula.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s