Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis Dari yang Mudah

Salah satu parameter kemajuan dari suatu peradaban ialah kemampuannya untuk meninggalkan jejak sejarah. Jejak sejarah itu memiliki banyak ragam. Maka terperangahlah kita dengan keindahan bangunan-bangunan peninggalan masa lampau di dunia. Borobudur, Menara Eifel, menara Pisa, The Great Wall di China, istana Taj Mahal, dan sebagainya. Namun jangan lupakan peninggalan peradaban bukan hanya dalam bentuk arsitektur yang maha. Ada pula peninggalan ilmu pengetahuan dalam bentuk literasi. Diantaranya hal tersebut terlacak dan terkodifikasikan oleh Andrew Taylor dengan bukunya yang bertitel buku-buku yang mengubah dunia.

Tulisan sendiri merupakan upaya untuk merekam peristiwa dan makna. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini medium merekam memang menjadi lebih luas lagi derivasinya. Tulisan pun pada beberapa kalangan telah mengalami reduksi dari keseharian. Dunia baca pada beberapa aspek juga melakukan evolusi. Mulai dari kepadatan alinea, bantuan dari infografis, karikatur, untuk membantu menjelaskan tulisan. Namun saya percaya lini tulisan tidak akan termusnahkan secanggih apapun perkembangan teknologi.

Menulis dengan demikian akan selalu omni present dalam kehidupan. Bahkan dengan kemajuan teknologi maka tulisan dapat lebih berdiaspora. Selain itu kuantitas tulisan dapat lebih membengkak. Sehingga dikenal dengan istilah luberan informasi. Kini dengan sosial media yang ada maka sebaran informasi dapat lebih cepat dan lebih menyebar. Melalui medium internet juga memungkinkan daya jangkau tulisan yang lebih luas. Menulis pun meluaskan rangkulannya. Tidak hanya wartawan ataupun penulis, namun setiap warga dunia kini mendapatkan ruang lebih lapang untuk menulis. Ada blog personal yang memungkinkan seseorang untuk menyalurkan pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya. Tampilan blog juga sudah beragam seperti misalnya dengan munculnya microblogging seperti tumblr.

Mengapa menulis? Sepertinya pertanyaan akar tersebut dapat menjadi raison d’etre dalam menulis. Raison d’etre yang akan menyalakan semangat untuk menulis. Pramoedya Ananta Toer pernah menyatakan bahwa sepintar apapun orang itu, jika ia tidak menulis maka ia akan hilang dari sejarah. Menulis dengan demikian merupakan jejak sejarah. Bukti kehadiran manusia di muka bumi. Bukti dari sebuah peradaban. Dengan menulis memungkinkan untuk mengkonstruksi makna versi diri sendiri.

Menurut hemat saya menulis itu penting adanya bagi berbagai kalangan. Tak mesti harus mereka yang berprofesi formal sebagai wartawan ataupun penulis untuk menjadi penulis. Setiap warga dunia dapat menuliskan apa-apa yang dipandangnya penting. Alangkah semaraknya jagat penulisan apabila dari ragam profesi formal yang dijalani manusia itu dapat berbuah menjadi tulisan. Ilmu pengetahuan akan lebih menggeliat dan bersinar. Ada pewarisan nilai disana. Maka tidak hanya berbicara tentang kontemporer melainkan manfaat daya guna di masa mendatang.

Menulis dapat dimulai darimana? Sayangnya menurut hemat saya sistem pendidikan Indonesia kurang konstruktif dalam membentuk milleu budaya membaca dan menulis. Yang ada adalah budaya menghafal pelajaran. Seolah-olah didiktekan kebenaran yang harus dihafal dan di-beo-kan kembali dalam jawaban soal. Semoga kurikurulum 2013 nanti dapat lebih aspiratif lagi terhadap budaya menulis.

Budaya menulis menurut hemat saya dapat terkondisikan dengan lingkungan. Misalnya dalam sistem pendidikan dengan memberikan tugas berupa paper. Maka dengan paper ini daya tulis akan terasah. Menulis sendiri bukan keahlian yang ujug-ujug. Melainkan normalnya harus ditempa dan dilatih. Disinilah peran dari pendidikan untuk memberikan ruang leluasa bagi tumbuh kembangnya budaya menulis. Saya sendiri ketika di tahun-tahun awal kuliah di Fisip UI merasakan betul bagaimana banyak mahasiswa yang kedodoran dan mengeluh dengan sistem pendidikan di kampus yang mengharuskan untuk membuat laporan tertulis dalam berbagai mata kuliah. Logika sederhananya yang kuliah di Fisip UI dimana notabenenya telah terseleksi sebagai mahasiswa unggulan, apalagi dengan berbagai mahasiswa lainnya di universitas lain.

Untuk membuat menulis menjadi budaya menurut hemat saya juga harus melalui pola pembelajaran yang benar. Menulis hal-hal yang disukai oleh masing-masing peserta didik contohnya. Menulis sesuatu yang disukai peserta didik akan menjadi entry point agar kegiatan menulis menjadi ritme kehidupan. Saya percaya dengan menuliskan sesuatu yang disukai, kecepatan, ketepatan penulisan akan lebih berdaya. Yang ditumbuhkan mula-mula adalah kegemaran menulis. Setelah kegemaran menulis terbentuk, bisalah adanya untuk membuat tulisan yang tematik dan ilmiah.

Sayangnya dunia pendidikan Indonesia yang saya alami ialah lini penulisan yang telah mengkerangkeng imajinasi. Dalam menulis di bangku sekolah dasar telah ditentukan temanya. Tema yang belum tentu akrab dengan peserta didik. Belum lagi dengan konstruksi menulis yang seakan menjadi resep wajib yakni ‘berlibur ke rumah nenek’. Resep wajib ‘berlibur ke rumah nenek’ memiliki paralelisme dengan menggambar ‘gunung beserta jalan dan matahari yang bersinar’. Sejak belia fondasi kepenulisan telah salah kaprah. Padahal saya percaya bibit-bibit penulis handal di negeri ini amat banyak bertebaran.

Bibit-bibit penulis yang dapat tersabit dikarenakan pembelajaran bahasa yang kaku menurut kaidah tata bahasa. Alangkah menulis menjadi sebuah beban. Mulai dari tema yang dicangkokkan, aturan tata bahasa. Padahal menulis merupakan kegiatan yang menyenangkan. Coba saja dengan menulis diary. Saya percaya masing-masing dari kita akan lancar berkutat dengan aksara apabila menulis diary. Mengapa? Karena ada kemerdekaan disana dan tema yang disukai oleh diri.

Dalam acara Idenesia, penulis Alberthiene Endah pernah membagi pengalamannya mengajar menulis di mahasiswa Fisip UI. Dalam sesi tersebut Alberthiene Endah memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menulis apa saja dalam 5 menit di kertas kosong. Apa hasilnya? Menurut Endah, alangkah banyaknya tulisan yang bagus yang terlahir dari sesi tersebut. Rupanya salah satu benturan dalam menulis ialah tirani, paranoid di kepala masing-masing. Ada ketakutan tertentu terhadap menulis, mulai dari tata bahasa, bagus atau tidak, dan sebagainya.

Apabila Anda belum tergerak untuk menulis pikirkanlah kembali tentang manfaat menulis. Anda dapat membagi pengetahuan dan dunia Anda dengan menulis. Dengan menulis Anda dapat membuat jejak sejarah. Jangan lupakan bahwa ilmu dapat lebih bermanfaat ketika disebarkan. Jika belum menulis, maka bisa meminjam konsep AA Gym. Konsep 3 M yakni mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang. Saya percaya setiap dari kita bisa dan mampu. Selamat mengasah pena.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s