Posted in Aku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis 6 Jam/Hari

Harus saya akui di penghujung tahun ini begitu banyak tumpukan tulisan yang harus saya kerjakan. Beberapa klien lawas kembali bersua dan membuat saya harus sekilasan membaca dan menuliskan lagi. Selain itu klien baru siap menanti dengan timeline yang memburu. Waktu yang 24 jam seakan begitu cepat berdetak. Waktu..dan waktu..itulah adanya yang harus saya upayakan untuk menghasilkan karya. Disamping itu kantor juga berharap agar speed tulisan dapat lebih cepat lagi. Itulah kiranya poin evaluasi terhadap kinerja tim redaksi di kantor saya.

Saya pun mencoba mencari akar dan berusaha mengurai benang permasalahannya. Ada beberapa variabel yang membuat daya tulis saya dalam speed yang tidak begitu optimal. Variabel itu adalah terlalu fokus membaca. Dalam keseharian, saya merasa sebagai manusia yang lapar ilmu. Hingga saya lebih mendahulukan melahap banyak-banyak ragam bacaan. Eksesnya ceruk waktu lebih banyak habis untuk membaca dibandingkan menulis. Akar lainnya ialah saya ternyata tidak begitu menikmati mengerjakan tulisan di kantor. Baiklah ada internet di kantor. Namun internet malahan setelah saya telaah dapat menjadi sumber masalah. Saya menjadi terdistraksi dengan sosial media, berita, ataupun youtube.

Menulis di kantor rupanya mereduksi ruang ekspresi personal saya. Terus terang dalam menulis, saya lebih suka menyepi, menyendiri, dengan minimalisasi gangguan. Tentu saja kantor dengan adanya beberapa orang dan ragam suara, tidak paralel dengan budaya kredo menulis saya. Lalu apa solusinya untuk mendongkrak performa daya tulis saya? Saya pun memutuskan untuk melakukan langkah berikut: saya akan memberikan porsi waktu 6 jam sehari untuk menulis. Dengan kuota jam tersebut, maka saya memaksakan diri untuk menulis.

Perlu sidang pembaca ketahui selain pekerjaan formal redaksi, saya pun memiliki kanal-kanal lain yang terkait dengan dunia tulis menulis. Bagi saya ketika ekspresi penulisan saya hanya ter-domain pada pekerjaan formal, maka akan mereduksi kemampuan menulis saya. Menulis di kanal lainnya saya istilahkan dengan proyek personal. Proyek personal itu meliputi penulisan puisi, cerpen, novel, kaldera, blogger. Kaldera merupakan buah tulisan yang terkait dengan fiksi fantasi. Dimana saya menjadi pendiri dan admin dari Kaldera Fantasi (Kalfa). Dan saya sudah bertekad untuk membedah, memberikan perspektif berbeda dalam melihat fiksi fantasi. Sedangkan Blogger merupakan tulisan untuk mengisi blog personal saya. Di Blogger ada banyak rentangan keterusikan pikiran yang ingin saya elaborasi.

Pencanangan program menulis 6 jam/hari sendiri baru saya tetapkan pada hari Selasa 18 Desember 2012. Pada hari pertama saya berhasil memenuhinya. Saya berharap hari-hari ke depannya tetap mampu memenuhinya. Saya harap hal tersebut dapat menjadi ritme hidup. Dengan alokasi waktu tersebut saya percaya output tulisan saya akan lebih banyak secara kuantitas. Soal kualitas, insya Allah akan terjadi peningkatan seiring waktu. Dengan terus menerus bergulat dengan aksara dan pemikiran, saya percaya akan semakin mahir mengartikulasikan kata.

Bagi saya menulis 6 jam/hari merupakan proses pemaksaan diri. Beberapa hal memang harus dipaksakan untuk dapat mereguk manfaatnya. Saya pikir ketika memutuskan menjadi penulis, maka rentang waktu menulis pun harus lebih intens. Saya percaya dengan alokasi waktu yang saya berikan, maka tumpukan pekerjaan kantor akan terselesaikan di beberapa titik. Untuk memenuhi kuota 6 jam, saya sendiri merasa harus pandai-pandai mensiasati waktu. Seperti pada hari Selasa tanggal 18 Desember 2012, saya memilih untuk mengerjakan penulisan di rumah selama 3,5 jam. Kebetulan jarak rumah saya dengan kantor hanya selemparan batu. Disamping itu kantor juga tidak mengekang untuk terus-terusan berada di areal kantor dari jam 9 pagi-5 sore. Yang menjadi parameternya ialah selesainya pekerjaan dengan baik.

Pada hari Selasa tersebut, sisa 2,5 jam pengerjaan tulisan, saya kerjakan di rumah dari jam 21.30-24.00. Di siang dan sore harinya saya menemui klien, sehingga praktis tak dapat mengerjakan penulisan. Sedangkan pada hari Rabu 19 Desember 2012, saya memilih untuk menggunakan opsi maraton penulisan. Saya berangkat semenjak pagi karena ada janji temu dengan klien di Depok. Setelah bertemu klien, saya baru dapat menginjakkan kaki di kantor di sekitar jam 2 siang. Praktis hanya 1 jam yang dapat saya konversi menjadi penulisan di hari Rabu. Maka saya pun memutuskan untuk maraton menulis dari jam 19-24.

Saya percaya konsep menulis per hari selama 6 jam ini apabila tekun saya kerjakan akan menjadi pola hidup saya. Manusia selalu berusaha untuk menemukan titik equilibriumnya. Dan saya berharap equilibrium yang saya dapati nantinya adalah dengan memiliki waktu penulisan yang ajeg. Setelah saya pikir-pikir juga dengan memiliki porsi waktu menulis yang panjang, akan menantang diri saya sendiri untuk lebih produktif menghasilkan. Segala yang saya baca, dengar, lihat, rasakan, akan sekuat daya saya konversikan menjadi karya tulis. Di hari-hari sebelumnya saya merasa seperti memupuk bacaan, menumpuk ide, merencanakan banyak tulisan, namun dalam eksekusinya menjadi karya tulis relatif belum optimal.

Pola 6 jam/hari inilah yang saya percaya akan meningkatkan potensi, upaya, kreativitas dalam diri. Sudah saatnya bagi saya untuk naik level ke kemampuan menulis yang lebih cepat, lebih baik, lebih berkualitas. Porsi waktu untuk sesuatu yang lebih banyak saya percaya mungkin pernah Anda alami. Semisal ketika dulu menghadapi ujian-ujian yang menentukan. Ujian seperti ketika berada di kelas 6 SD, 3 SMP, 3 SMA, ujian masuk perguruan tinggi. Ada upaya yang lebih intens di titik-titik waktu tersebut. Dan mungkin Anda akan kaget sendiri, ternyata bisa menjalani waktu belajar yang begitu panjang. Ada mimpi di waktu itu yang bertemu dengan upaya manusiawi.

Ada seorang teman saya yang berpendapat untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah. Kerja cukup di kantor. Rupanya pendapat teman saya tersebut tak mengena bagi saya. Saya justru harus membawa pekerjaan di rumah. Bahkan saya merasa kekuatan menulis saya jauh lebih dahsyat di rumah. Saya benar-benar memiliki kemerdekaan dan praktis tidak terusik dalam mengerjakan penulisan. Saya dapat mengakrabi tulisan, ketika mengerjakannya di rumah. Mengerjakan tulisan di rumah, saya benar-benar merasa mampu memberikan ekspresi personal yang utuh. Selain itu di rumah, saya memiliki koleksi buku yang memungkinkan saya untuk membangun tata kelola pemikiran.

Menulis 6 jam/hari ibarat melatih otot. Bukankah otot yang dilatih akan menjadi sehat? Bukankah otot yang dilatih akan menjadi kuat? Keahlian yang terus diasah tiap harinya akan meningkatkan kompetensi yang dimiliki. Dan menurut hemat saya sistem pendidikan di Indonesia harus mempertimbangkan tentang seberapa mampu untuk mengkreasi lingkungan yang produktif menghasilkan. Misalnya jikalau mahasiswa, berapa banyak paper yang dapat dihasilkan selama menjalani kuliah. Dengan demikian bangsa ini akan memiliki mental pencipta. Mental pencipta inilah yang akan membentuk karakter.

Jikalau olahragawan menghabiskan waktu sekian jam untuk berlatih. Jikalau musikus menghabiskan waktu sekian jam untuk berlatih melodi. Maka biarlah saya menghabiskan waktu sekian jam pula untuk menulis. Lalu bagaimana dengan Anda? Sudahkah berketetapan hati mau memilih profesi apa? Telahkah menghabiskan waktu sedemikian panjang untuk menjadi yang terdepan di profesi Anda?

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Menulis 6 Jam/Hari

  1. Mas bro emang kerja dimana?
    Ya wajar kalau pesan ‘ jangan bawa kerjaan ke rumah’ tidak berlaku bagi mas-nya, karena memang sesuai dengan passionnya. lha kalau denger kerjaannya pengen teriak macam saya, pasti ogah banget, jangankan bawa ke rumah, selangkah dari kantor aja udah ogah banget ngomongin masalah kerjaan.. #hahha – curhat dadakan.:mrgreen:

    Btw bagus juga program 6 jam/hari-nya, bagus buat ditiru..hahhha😀 semoga sukses.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s