Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi

Setelah Karya Besar (1)

Pada hari Ahad 18 Desember 2012 saya pergi ke Gramedia Pondok Indah. Maksud hati ingin membeli buku The Time Keeper karya Mitch Albom. Keterdesakan waktu dalam menjalani kehidupan keseharian membuat saya berpikir sepertinya novel tersebut layak menambah koleksi buku saya. Perihal novel bertemakan waktu saya menyarankan sidang pembaca sekalian untuk membaca novel berjudul Momo. Novel yang sederhana dan indah. Novel Momo juga mengguratkan pelajaran mengenai ketergesaan, bagaimana keterdesakan orang dewasa dengan waktu, kegembiraan yang hilang, dan arti dari waktu.

Awal mula meniatkan untuk membeli novel The Time Keeper, namun ketika sampai di Gramedia Pondok Indah Mall, saya mendapati novel The Casual Vacancy edisi Indonesia telah terbit. The Casual Vacancy sendiri merupakan novel pertama J.K.Rowling untuk pembaca dewasa. Tentu saja Rowling telah termasyhur dengan serial Harry Potter-nya yang legendaris. Seri bestseller Harry Potter yang dipublikasikan sejak 1997 sampai 2007 itu telah terjual lebih dari 450 juta kopi di seluruh dunia dan dipasarkan di lebih dari 200 negara, diterjemahkan dalam 73 bahasa, juga diadaptasi dalam 8 film blockbuster. Maka menarik adanya untuk menimbang novel The Casual Vacancy ini selepas keberhasilan Rowling membius jutaan manusia melalui petualangan penyihir Harry Potter cs.

Akhirnya saya berbalik kompas alokasi uang. Uang yang semula untuk membeli novel The Time Keeper, jadilah saya alihkan untuk membeli novel The Casual Vacancy. Setiba di rumah saya pun langsung membaca The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong) dengan ekspektasi besar terhadap daya ceritanya. Dari kilasan bacaan awal saya yang baru mencapai halaman ke 30, saya mendapat kesan ada nuansa berbeda yang ditawarkan oleh J.K. Rowling. Novel ini untuk sementara saya verdict lebih berat secara diksi dan penceritaan dibandingkan novel Harry Potter.

The Casual Vacancy

Cuplikan sinopsis dari The Casual Vacancy adalah sebagai berikut:

Ketika Barry Fairbrother meninggal di usianya yang baru awal empat puluhan, penduduk kota Pagford sangat terkejut.

Dari luar, Pagford terlihat seperti kota kecil yang damai khas Inggris, dengan Alun-Alun, jalanan berbatu, dan biara kuno. Tetapi, di balik wajah nan indah itu, tersembunyi perang yang berkecamuk.

Si kaya melawan si miskin, remaja melawan orangtua, istri melawan suami, guru melawan murid … Pagford tak seindah yang terlihat dari luar.

Dan kursi kosong yang ditinggalkan Barry di jajaran Dewan Kota menjadi pemicu perang terdahsyat yang pernah terjadi di kota kecil itu. Siapakah yang akan menang dalam pemilihan anggota dewan yang dikotori oleh nafsu, penipuan, dan pengungkapan rahasia-rahasia tak terduga ini?

The Casual Vacany sebagai sebuah karya menurut hemat saya akan dikomparasikan dengan serial Harry Potter. Ini adalah karya Rowling yang akan menjadi titik bifurkasi bagi dirinya. Bisa jadi akan ada banyak pihak yang terkecewakan. Bisa jadi Rowling akan dipuji dan mendapatkan pangsa pasar pembaca baru. Setelah karya besar memang merupakan sebuah pertanyaan agung. Ada yang turun pamor, ada pula yang tetap berada di puncak popularitas. Rumusan yang tidak hanya berlaku bagi penulis besar macam J.K. Rowling.

Dalam sampel kasus lainnya, secara personal saya sendiri menyatakan bahwa The Bartimaeus Trilogy adalah serial yang mengagumkan. Karya besar dari Jonathan Stroud. Selepas saya membaca The Bartimaeus Trilogy, saya tanpa ragu membeli karya Stroud lainnya yakni The Leap (Lompatan), The Last Siege (Pengepungan Terakhir), Heroes of the Valley (Sang Pahlawan). The Leap dan The Last Siege baru bagian awal saya baca dan belum tamat. Sedangkan Heroes of the Valley telah saya tamatkan. Di The Leap dan The Last Siege sejauh pembacaan awal yang saya lakukan, maka ekspektasi kualitas dari karya Stroud tidak terpenuhi.

Adapun Heroes of the Valley merupakan karya yang terbit pada tahun 2009, sedangkan The Bartimaeus Trilogy rampung seri terakhirnya di tahun 2005. The Bartimaeus Trilogy sendiri telah diterjemahkan ke dalam 35 bahasa dan terjual 5 juta copy lebih di seluruh dunia. Maka Heroes of the Valley adalah bifurkasi tanya bagi Stroud. Mampukah dirinya untuk tetap berada di pucuk atas pengarang fiksi fantasi? Secara umum dalam penilaian saya Heroes of the Valley merupakan novel yang cukup menarik. Saya merekomendasikan Anda untuk membacanya. Namun jika dikomparasikan dengan The Bartimaeus Trilogy harus secara jujur saya akui bahwa kisah petualangan Bartimaeus bersama Nathaniel memiliki kualitas yang lebih baik.

The Ring Of Solomon

Stroud dalam pandangan saya juga masih menulis di bawah bayang-bayang kejayaan The Bartimaeus Trilogy. Praktis resep yang digunakan jika diteliti memiliki rumusan yang sama. Tokoh utamanya Halli merupakan gabungan karakter antara Nathaniel dengan Bartimaeus. Sedangkan Aud bagaikan replika dari Kitty. Plot yang dipakai juga memiliki begitu banyak kesamaan. Bagaimana Halli yang diremehkan dan ingin membuktikan diri, dendam dari Halli, maka Heroes of the Valley bagaikan pemadatan dari The Bartimaeus Trilogy.

The Ring of Solomon (Cincin Solomon) merupakan karya terbaru dari penulis kelahiran Inggris tahun 1970 ini. Jonathan Stroud rupanya kembali ‘menghidupkan’ karakter Bartimaeus. Bagi saya itu merupakan sebuah warta menggembirakan. Selepas epik dari membaca The Bartimaeus Trilogy, kemudian harapan yang agak meleset ketika membaca bagian awal dari The Leap dan The Last Siege, maka rajutan kisah baru dari Bartimaeus melambungkan asa saya kembali. Bartimaeus dalam kisah terbarunya mengambil setting waktu 950 SM. Bartimaeus ketika menjalani tugas di era kekuasaan raja Solomon. Novel Bartimaeus dan Cincin Solomon sejauh ini berhasil memikat saya. Memang belum tuntas saya baca novel tersebut. Namun sepanjang pembacaan yang saya lakukan hingga hari ini mencapai halaman 411, boleh dikata sentuhan Stroud dalam menggubah karya kembali istimewa dan memikat.

Celetukan khas Bartimaeus, kecerdikan, daya humornya, kembali mewarnai hari saya. Diksi yang kuat, kritik satire kemanusiaan, menjadi bumbu yang lagi-lagi membenderangkan novel karya Stroud.

(Bersambung)

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s