Posted in Aku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Tulisan Yang Belum Selesai

Semalam saya me-review berbagai tulisan lawas yang ada di flash disk. Maksud hati untuk menyelesaikan beberapa tulisan yang katakanlah tertunda. Nyatanya banyak artikel saya belum tersempurnakan. Di sisi lain saya juga mendapati luasnya range tulisan yang pernah saya coba gubahkan. Saya mensyukuri memiliki kompetensi dan mengalokasikan waktu untuk menulis. Membidik rangkaian pemikiran dan peristiwa, mengabadikannya bersama kata. Bayangkan apabila saya melepas saja semua itu. Maka pemikiran, peristiwa akan bisa terlenyapkan. Menulis rupanya memiliki fungsi merawat ingatan. Tentunya bukan maksud hati untuk terlena di masa lalu. Benar adanya kenangan dapat berfungsi untuk masa kontemporer dan masa depan.

Berbagai tulisan yang belum terselesaikan itu mengingatkan saya untuk sebisa mungkin tidak menunda-nunda penulisan. Rampungnya penulisan dari hulu sampai hilir, boleh dikatakan bukan perkara yang mudah. Itulah adanya yang membuat saya sewot, tersinggung, marah hati dengan orang yang menyepelekan penulis. Menulis dianggap sebagai pekerjaan yang mudah dan simpel. Menulis juga dianggap sebagai pekerjaan yang dapat begitu cepat dikerjakan. Biasanya orang-orang yang menyepelekan tersebut dalam radar pengamatan saya tidak memiliki kemampuan menulis, memiliki permasalahan mental dalam menghargai orang lain.

Menulis sendiri bagi saya seperti karya seni. Sekuat daya saya mencoba untuk menghasilkan karya terbaik dari tulisan yang saya buat. Itulah kiranya yang membuat saya harus memilah dan memilih. Mulai dari diksi, alur, konsep pemikiran yang dipakai. Menulis bagi saya bukanlah pekerjaan yang sekali jadi. Sebelum mementaskan tulisan, saya biasanya membaca lagi tulisan sebanyak beberapa kali. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya agar tulisan yang saya buat dapat memuaskan. Saya juga kerap memberikan jeda waktu pembacaan tulisan. Dengan demikian ada jarak emosional antara tulisan tersebut selesai dengan pembacaan ulang. Hal tersebut memungkinkan saya untuk melihat sisi lain dari tulisan yang saya buat.

Penulisan yang belum selesai juga biasanya terkait dengan data yang mesti dilengkapi. Data yang dilengkapi ini terkadang memeningkan saya. Sebut saja beberapa tulisan yang harus membuat saya membongkar literatur. Dan boleh dikata mencocokkan literatur membutuhkan kesabaran dan ketekunan tertentu. Dan hal itu harus dilakukan untuk memastikan bobot tulisan dan ketepatan tulisan. Tulisan dengan akurasi yang semrawut akan membuat tulisan tidak dapat dipertanggungjawabkan dari sisi ilmiah.

under construction

Penulisan yang belum selesai biasanya juga saya temui dalam tulisan serial. Biasanya maksud hati saya menuliskan dalam tulisan yang agak panjang. Namun seiring waktu, kesibukan, mood, kerap terjadi serial tulisan tersebut pupus di tengah jalan. Seiring waktu terkadang saya sudah kurang berselera untuk melanjutkan serial tulisan tersebut. Ada emosi yang harus saya bangun lagi, pengetahuan yang harus saya dedahkan lagi, mood yang harus saya aktifkan lagi, kira-kira itulah hambatannya.

Penulisan yang belum selesai banyak pula saya temui pada fragmen novel yang belum usai. Mumpung ini adalah akhir tahun 2012, dan akan memasuki tahun 2013, bolehlah saya berefleksi dan beresolusi. Melalui rubrik kali ini, saya berjanji untuk menseriusi pekerjaan novel saya. Rangkaian ide dan konsep itu akan mangkrak bersama waktu jika saya tidak selesaikan. Memang dibutuhkan konsistensi dalam menulis. Dan pengerjaan novel nampaknya akan berkorelasi dengan jadwal menulis saya. Terus terang saya terpicu ketika membaca kicauan di twitter mengenai writing habbit dari Haruki Murakami.

Berikut writing habbit dari Haruki Murakami:

‘As for Murakami, when he writes a novel, he gets up at 4am and works 5 to 6 hours; runs for 10 km/swim for 1.500 m; then goes to bed at 9pm.’

Writing habbit lainnya yang pernah saya baca lainnya ialah yang dilakukan oleh Jules Verne. Ia selalu menulis selepas waktu subuh. Dalam writing habbit, saya sendiri telah mencanangkan tekad untuk menulis 6 jam/hari. Saya percaya kemampuan akan semakin terlatih seiring waktu yang tertempuh. Hal ini pernah disinggung oleh Djenar Maesa Ayu bahwa resep menulis adalah dengan menulis. Dan saya percaya itu betul adanya. Menulis adalah keahlian yang harus ditempuh oleh manusia secara personal. Menulis ibaratnya perjalanan personal. Anda harus menjalaninya sendiri. Merasakan sendiri. Melalui ngarai rintangannya.

Itulah kiranya yang membuat saya tak dapat memberikan resep pasti ketika sahabat saya curhat tentang writer block. Saya hanya mengatakan bahwa writer block itu mungkin perlu. Sekali waktu perlu adanya untuk jeda dari penulisan. Saya sendiri tentu pernah mengalami writer block dengan berbagai macam akar penyebab. Dan cara mengatasi writer block tersebut juga bagi saya personal memiliki beberapa jalan. Itulah kiranya yang membuat saya merasa tak dapat menakarkan resep pasti mengatasi writer block pada sahabat saya itu. Menulis adalah perjalanan personal. Saya hanya dapat mereka-reka dan menerka resepnya untuk teman saya tersebut. Namun pada akhirnya ia harus menjalaninya sendiri.

Tulisan yang belum selesai menyentil saya terkait waktu. Nampaknya saya bukan hanya harus menghafal pesan ingat 5 perkara sebelum 5 perkara. Yang terpenting adalah mengamalkan pesan utama dari perintah agama tersebut. Waktu, itulah kuncinya. Bagaimana pemanfaatan waktu untuk dikonversikan menjadi tulisan. Percayalah tak ada waktu yang sempurna. Percayalah untuk tidak menunggu waktu yang sempurna. Kerjakan saja dan kejarlah kesempurnaan itu.

Tulisan yang belum selesai mengingatkan saya akan prioritas dan penjadwalan tulisan. Hendak kiranya membuat deadline. Dengan variasi karya tulis yang saya ciptakan, semoga tidak terbengkalai tulisan yang dikreasi. Tulisan yang belum selesai ibarat keindahan yang belum tertuntaskan. Ia menunggu peluh pikiran untuk menyempurnakannya. Sebagai penutup, izinkan saya bertanya kepada Anda, apa kabar tulisan yang Anda buat?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s