Posted in Aku

Me Time dan Menuliskan

Akhirnya weekend kemarin saya dapat menikmati hari dengan penuh membaca. Desakan pekerjaan membuat beberapa hal yang personal bergeser. Salah satunya adalah kebiasaan membaca. Dalam sehari semula saya memiliki target untuk membaca 4 buku. Dimana 1 buku saya membaca 15 halaman. Dengan demikian secara akumulasi saya membaca 60 halaman buku per hari. Saya juga mentargetkan membaca 40 halaman majalah. Hal tersebut terbagi pada 30 halaman majalah Tempo dan 10 halaman majalah Animonstar. Saya juga mentargetkan untuk rampung membaca koran Republika. Satu lagi ialah terkait dengan tadarus sebanyak 1 juz.

Dari 4 lini pembacaan tersebut membutuhkan waktu beberapa jam. Dan dengan tumpukan pekerjaan dan manajemen waktu saya yang belum optimal menyebabkan saya kewalahan untuk memenuhi target membaca tersebut. Jadilah saya menyiasatinya kini dengan memangkas jumlah bacaan. Kini tadarus tetap 1 juz, koran Republika tetap rampung, buku jadi tinggal 2 buku, majalah 20 halaman. Dengan pengurangan jumlah akumulasi total bacaan, saya berharap dapat lebih trengginas lagi dalam menulis. Rupanya pada kenyataannya daya menulis saya untuk pekerjaan formal agak ‘merindu’ dengan sejumlah proyek personal. Saya tak dapat pungkiri muncul kerinduan untuk menulis teruntuk blog ini, membuat puisi, cerpen, ataupun novel. Rupanya ada sisi kemerdekaan, independensi dalam menulis di dalam perspektif saya. Ada dimensi dalam menulis yang tidak dapat terkapitalisasi.

Maka dengan ini saya akan kembali menekuni sejumlah proyek personal. Saya tidak akan meninggalkan dan menafikannya. Kuncinya adalah pada waktu. Betapa saya benar-benar harus dapat bergelut dengan waktu untuk menyelesaikan semua targetan yang ada. Benar kiranya istilah kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Dan benar adanya rangkaian pesan yang terujarkan dalam novel The Time Keeper karya Mitch Albom. Pantas saja Islam begitu mewanti-wanti waktu. Waktu memang dapat menebas dan menjadi manfaat tergantung si pemakai.

Sesekali melakukan me time saya pikir akan sangat menyehatkan. Sejenak mengambil jarak dari pekerjaan formal. Sejenak mengambil jeda. Menemukan definisi diri yang selama ini agak terkaburkan dan terlupakan. Senang rasanya dapat memperbaharui blog ini dengan tulisan ini. Membagi kisah dapat menyehatkan dan menjadi terapi jiwa. Seperti yang dialami oleh Habibie pasca meninggalnya Ainun. Ada 4 opsi ketika itu seperti diungkap Habibie dalam acara Just Alvin yang diputar Metro Tv hari Ahad 27 Januari 2013. Opsi pertama masuk rumah sakit jiwa. Opsi kedua dirawat di rumah dengan dokter-dokter yang siap membantu. Opsi ketiga ialah curhat perihal kisah kehidupan Habibie kepada tim psikolog. Opsi keempat ialah dengan menuliskan kisah hidupnya. Dan Habibie menuliskan opsi keempat yakni menulis. Saya percaya setiap kita memiliki cerita. Setiap kita memiliki hikayat. Mungkin Anda mengira kisah Anda biasa-biasa saja, tak menarik adanya. Benarkah? Saya percaya sejarah tidak hanya disusun oleh orang-orang besar. Sejarah juga disokong oleh ‘orang-orang kecil’, ‘orang-orang biasa’. Mungkin Anda dan saya pada akhirnya akan dipandang sebagai ‘orang biasa’. Namun upaya untuk merekamnya melalui tulisan merupakan sebuah jejak sejarah kehidupan. Mencatatkan kisah hidup dari sudut pandang orang pertama. Sebuah bibliografi bebas. Dan saya dan Anda memiliki kemampuan untuk membuatnya. Tinggal pertanyaannya maukah melakukannya?

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Jalan-Jalan

Layar Tancep Filmnya The Lord of the Rings

Hari Sabtu 29 Desember 2012 tempo hari saya menonton maraton The Lord of the Rings extended version di 1/15 coffee. Acara nonton bareng tersebut tak terlepas dari jasa komunitas The World Mythology Community, Movies Explorer Club, Eorlingas Indonesia. Sebagai penggemar The Lord of the Rings, saya langsung antusias ketika membaca iklan via facebook perihal nonton bareng The Lord of the Rings extended version. Namun rupanya saya harus lebih detail memperhatikan jam acara. Semula saya pikir acara nobar ini akan berakhir hingga siang hari. Tapi ternyata acaranya selesai sekitar jam 11 malam. Hmm..sebenarnya saya setengah terjebak dengan durasi nobar tersebut. Saya pikir semula cuma memperlihatkan bagian-bagian extended version yang tidak ada di bioskop. Namun ternyata oh ternyata yang diputar adalah full film extended version dari The Fellowship of the Ring sampai The Return of the King.

Pada hari Jumat malamnya tanggal 28 Desember 2012, saya baru menonton The Hobbit. Entah karena saya agak lelah bekerja pada siangnya, dikarenakan saya menonton di jam 21.45, beberapa kali saya menahan kantuk ketika menonton The Hobbit. Dan terus terang The Hobbit meleset dari ekspektasi saya. Dari segi karakter, praktis di The Hobbit hanya Gollum yang mampu tampil luar biasa. Andy Serkis sebagai pemeran Gollum kembali melanjutkan kepiawaiannya memainkan karakter yang memiliki nama lain Smeagol tersebut. Karakter lainnya yang dalam radar saya bermain bagus adalah Thorin (Richard Armitage). Saya mendapatkan kesan keras, kuat kemauan, dan beban luka jiwa dari karakter ini.

Saya akan membuat artikel tersendiri tentang The Hobbit pada lain kesempatan. Marilah kembali mengarahkan haluan pikir ke acara maraton nonton bareng The Lord of the Rings extended version. Acara nobar ini sendiri jika menilik dari daftar absennya maka mencapai lebih dari 100 orang yang ada. Ruangan lantai dua dari 1/15 coffee dipenuhi oleh para penggemar serial yang digubah dari novel J.R.R.Tolkien ini. Nuansa The Lord of the Rings sendiri terdapati pada replika mainan, semacam mading yang ditautkan di tembok, serta spanduk The Lord of the Rings. Beberapa orang penonton dan panitia memakai atribut The Lord of the Rings menambah semarak keriuhan acara.

Acara dimulai sekitar jam 10.30 pagi dengan pemutaran The Fellowship of the Ring. Dalam extended version boleh dikatakan secara filmis memperdalam cerita dan semakin mendekati apa yang dinarasikan di buku. Di The Fellowship of the Ring misalnya di adegan awal terdapat Bilbo yang sedang tekun menuliskan ceritanya. Bagaimana Bilbo dengan tumpukan perkamennya. Diceritakan juga secara singkat mengenai kebiasaan dan budaya dari hobbit.

Extended version mampu menjawab beberapa tanya ketika dulu saya menonton yang versi bioskopnya. Sebut saja dengan kuda Brego (The Two Towers). Selepas Aragorn jatuh dari tebing, dahulu saya bertanya darimana kuda ini tahu dan begitu setia dengan Aragorn. Ternyata Brego yang semula liar berhasil ditundukkan oleh Aragorn dengan menggunakan nyanyian elf. Brego pun menunjukkan kesetiaan yang utuh kepada Aragorn sebagai hasilnya. Maka tak mengherankan selepas Aragorn jatuh dari tebing dan semula dianggap mati, Brego menjemput tuannya, untuk kemudian membawa tuannya ke Helms Deep.

extended version

Extended version juga memberikan pengayaan terhadap Eowyn. Eowyn ternyata bernyanyi di kala pemakaman Theodred. Nuansa kesedihan dan pemakaman yang membuat saya teringat dengan pemakaman Hector di film Troy (2004). Kisah roman Eowyn juga mendapatkan porsi lebih nampol di extended version. Bagaimana Eowyn sekuat daya dan upaya untuk mendapatkan hati Aragorn. Sebutlah pdkt yang dilakukannya di kandang kuda, memberikan sup kepada Aragorn, ‘menyatakan cinta kepada Aragorn’. Pada bagian memberikan sup, dibuatlah tertawa penonton di 1/15 coffee. Rupanya Eowyn gagal parah dalam memasak. Aragorn yang menerima sup, harus bermuka seolah-olah sup tersebut enak. Lalu ketika Eowyn berlalu buru-buru dibuang supnya. Lalu Eowyn kembali lagi, dan dengan sangat terpaksa Aragorn menghabiskan sup yang rasanya gagal parah di depan tatapan mata harap dari Eowyn.

Trilogi The Lord of the Rings extended version memberi humor yang lebih menggigit bagi Gimli. Sebut saja ketika dwarf ini adu banyak-banyakan menjatuhkan lawan dengan Legolas. Pada penghitungan terakhir, Gimli yang sedang menduduki musuh menyatakan bahwa dirinya telah mengalahkan 43 musuh. Sedangkan Legolas baru mencapai 42 musuh. Dengan segera Legolas mengambil busurnya, memanah, dan memastikan musuh yang sedang diduduki Gimli mati. Total musuh yang dikalahkan Legolas menjadi 43. Dan alangkah lucunya ekspresi berang dari Gimli. Humor dari Gimli lainnya terdapat ketika dirinya ikut menuju the Dead Men of Dunharrow, dimana Aragorn menggunakan garis darahnya untuk memanggil mereka kembali bertarung. Bagaimana bayangan asap yang mencoba menggapai tubuh si dwarf ditiup-tiup oleh Gimli. Gimli pun tidak mematuhi perintah Aragorn untuk tidak melihat ke bawah. Alhasil Gimli melihat tempat yang diinjaknya ialah tengkorak, serta plus lagi suara krak dari sepatunya yang bertumpu pada tengkorak-tengkorak tersebut. Menyaksikan ekspresi kengerian dari Gimli putra Gloin menerbitkan tawa di acara nobar.

Suasana nobar The Lord of the Rings extended version menurut hemat saya menyerupai menonton layar tancep dengan filmnya The Lord of the Rings. Bagaimana celetukan kerap terjadi. Bagaimana potongan dialog yang diujarkan oleh penonton sebelum si penutur dalam film mengutarakannya. Bagaimana kekaguman para penonton perempuan terhadap sosok Legolas. Terkait dengan celetukan, hal tersebut misalnya terlihat dari romansa Eowyn yang mendapatkan tanggapan riuh. Bagaimana para penonton menanggapi Eowyn yang ‘menyatakan cinta’ bagaimana penonton menanggapi Eowyn yang ditolak, bagaimana penonton menanggapi Eowyn yang akhirnya menemukan tambatan hati pada sosok Faramir.

Nuansa celetukan ramai inilah yang menambah suasana nobar menjadi tambah seru. Bagaimana momen-momen tertentu menjadi lebih riuh rendah. Selain Eowyn, Legolas menjadi perhatian penonton. Barulah saya tersadar bahwasanya Orlando Bloom (pemeran Legolas) ternyata benar-benar membetot perhatian penonton dari kaum hawa. Ketika Legolas pertama kali muncul, penonton perempuan langsung ramai mengagumi. Pun begitu dengan momen lainnya dimana Legolas nampak bersinar dengan ketampanannya ataupun daya aksinya yang tangguh.

Acara yang selesai pada kisaran jam 11 malam tersebut, semakin membuat saya jatuh cinta pada serial trilogi The Lord of the Rings. Extended version yang ada semakin membuat imajinasi saya dari hasil membaca novelnya menemui kenyataan dalam sinematografi. Dan meski saya sudah menonton trilogi The Lord of the Rings berkali-kali, kekaguman, emosi, saat jatuh harapan, saat harapan bersinar lagi, tetap saya rasakan dengan kuat. Sebuah karya yang komplet.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Kaleidoskop Film Tahun 2012 Versi Saya

Tahun 2012 mencatatkan beberapa film yang layak dikenang. Berikut adalah sejumlah film yang mampir di bioskop dimana saya berkesempatan untuk menyaksikannya:

John Carter
Acting standar dan heroisme ala Amerika menjadikan adonan dalam film John Carter ini kurang menarik untuk disajikan. Meski harus diakui nuansa yang diciptakan melalui teknologi komputer cukup menarik dan memikat, namun penghayatan karakter dan cita rasa pahlawan ala Amerika membuat verdict akhir saya terhadap film ini yah lumayan

Negeri 5 Menara
Diangkat dari novel best seller. Sayangnya film ini praktis hanya berhasil hingga ayah Alif mengantarkan Alif ke pondok pesantren Gontor. Selepas itu relatif datar dan dengan sentuhan drama yang mudah ditebak. Meski begitu film Negeri 5 Menara ini mampu menyajikan Indonesia yang berbeda dari keseharian lalu lintas televisi kita. Indonesia yang tidak sekedar sosok tampan dan cantik dengan kekayaan yang meluap-luap. Indonesia yang lebih dekat dengan keseharian dan realitas.

Hugo
Baca novel karangan Brian Selznick, tonton filmnya. Sebuah film epik yang memanjakan mata secara sinematografi. Memiliki penceritaan yang kuat. Acting dari para pemainnya pun ok punya. Salut untuk Chloe Grace Moretz cs yang mampu menghidupkan karakter dari novel ke dalam ranah sinema. Saya pikir film Hugo adalah salah satu bintang paling terang di dunia sinema di tahun 2012.

Quotes favorit:
Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.

Wrath of the Titans
Jalan cerita yang biasa saja. Bauran antara acting yang standar plus kalimat dialog yang hambar menjadikan drama dari film ini benar-benar layu. Praktis Anda hanya dapat menikmati special effect dan pertarungan di film ini.

Hunger Games
Membaca novelnya benar-benar kuat secara penceritaan. Sayang gagal diterjemahkan dengan baik ketika tertampil di versi film. Film yang gagal secara kualitas menurut saya. Verdict yang saya tetapkan dalam The Hunger Games ialah merekomendasikan untuk membaca novelnya dan menyarankan untuk siap-siap kecewa ketika melihat versi filmnya.

The Raid
Sadis, bak, bik, buk. Minim secara drama dan penceritaan. Aduhai dalam aksi. Bersiap-siaplah ngilu melihat berbagai adegan di film ini. Aksi tarung yang memikat.

Men In Black 3
Kocak, penuh aksi. Tontonan yang menghibur. Kembali aksi Will Smith yang cerewet Anda temui di film ini. Kali ini agen J (Will Smith) bertemu dengan agen K ketika masih berumur muda.

hugo

The Avengers
Kasihan Loki yang dikeroyok oleh para jagoan. Part adegan yang memorable: hantaman ke lantai bertubi dari Hulk terhadap Loki. Minim secara penceritaan dan drama. Lebih seperti parade para jagoan.

Dark Shadows
Penceritaan yang kuat. Acting memikat dari para pemainnya (Johnny Deep, Helena Bonham Carter, Chloe Grace Moretz, Eva Green). Bukan sekadar kisah vampir.

Snow White and the Huntsman
Entah kenapa saya melihat sosok Bella yang tertampil oleh Kristen Stewart. Padahal harusnya ia tampil sebagai Snow White. Cukup lumayanlah meski tidak terlampau istimewa. Special effect oke, cerita sedikit di atas rata-rata.

Lewat Djam Malam
Film karya Usmar Ismail ini benar-benar layak tonton. Berkisah tentang kegalauan para tentara revolusi selepas perang. Medan baru perjuangan, pilihan hidup, kondisi Indonesia yang sedang mencari arah.

Brave
Film karya studio Pixar ini memikat secara penceritaan dan animasi. Humor, nilai-nilai kemanusiaan, relasi ibu dan anak, merupakan paduan yang disajikan oleh film ini.

The Amazing Spider-Man
Peter Parker yang ambigu. Antara keren dan culun. Special effect oke punya. Dan Emma Stone yang lebih segar dari Kirsten Dunst. Sayangnya saya harus katakan bahwa saya lebih menyukai Spiderman versi Tobey Maquire dibandingkan dengan versi Andrew Garfield.

The Dark Knight Rises
Pada beberapa bagian film terasa terlampau panjang. Meski begitu tetap memikat dan membuat geleng-geleng kepala dari segi penceritaan dan special effect. Khusnul khatimah bagi bung Bruce Wayne sebagai Batman.

5 cm

Perahu Kertas Bagian Pertama
Novelnya sangat..sangat bagus. Sayangnya tidak terjadi dalam versi filmnya. Praktis hanya Eko yang mampu memancing tawa secara natural. Adegan favorit ialah ketika Eko mengucap ijab kabul.

Perahu Kertas Bagian Kedua
Konklusi yang tambah mengecewakan. Berusaha lebih drama dan roman. Praktis hanya Reza Rahadian yang memerankan Remi yang mampu tampil impresif. Bonus tambahannya adalah original soundtrack yang ciamik.

Looper
Aku adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Temui aksi memikat dari Joseph Gordon-Levitt dan Bruce Willis di film yang disutradarai oleh Rian Johnson ini. Penceritaan yang keren, enigma yang disajikan, aksi yang oke menjadi nilai positif dari film ini.

Breaking Dawn Part 2
Episode terakhir dari Twilight Saga. Secara aksi mampu tampil memikat, terutama di bagian perang antara keluarga Cullen cs versus Volturi cs. Sayangnya di seri terakhir ini secara romansa dan drama kurang ter-eksplore di film yang melambungkan nama Kristen Stewart, Robbert Pattinson, dan Taylor Lautner ini.

Skyfall
Film yang keluar dari pakem James Bond. Secara penceritaan bolehlah saya katakan Skyfall adalah film James Bond terbaik yang pernah saya lihat. Nilai minornya adalah saya melihat cerita di film yang dibintangi oleh Daniel Craig ini seperti copy paste dari cerita Batman.

The Hobbit: An Unexpected Journey
Setelah 1 dekade akhirnya karya J.R.R.Tolkien lainnya diangkat ke layar lebar. Apresiasi khusus saya untuk Andy Serkis (Gollum) dan Richard Armitage (Thorin) untuk acting yang menawan. Relatif bagus meski tidak semegah, sedramatik dari trilogi The Lord of The Rings.

5 cm
Unggul secara sinematografi. Banyak yang ingin pergi ke Semeru selepas menonton film ini. Selain itu novelnya pun mendapat tambahan signifikan bagi yang belum membacanya. Kisah tentang persahabatan, pencarian makna, dan cinta. Film Indonesia yang mendapat rekomendasi tonton versi saya. Lagu favorit di original soundtrack tentunya ‘Rahasia Hati’.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa