Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Jalan-Jalan

Layar Tancep Filmnya The Lord of the Rings

Hari Sabtu 29 Desember 2012 tempo hari saya menonton maraton The Lord of the Rings extended version di 1/15 coffee. Acara nonton bareng tersebut tak terlepas dari jasa komunitas The World Mythology Community, Movies Explorer Club, Eorlingas Indonesia. Sebagai penggemar The Lord of the Rings, saya langsung antusias ketika membaca iklan via facebook perihal nonton bareng The Lord of the Rings extended version. Namun rupanya saya harus lebih detail memperhatikan jam acara. Semula saya pikir acara nobar ini akan berakhir hingga siang hari. Tapi ternyata acaranya selesai sekitar jam 11 malam. Hmm..sebenarnya saya setengah terjebak dengan durasi nobar tersebut. Saya pikir semula cuma memperlihatkan bagian-bagian extended version yang tidak ada di bioskop. Namun ternyata oh ternyata yang diputar adalah full film extended version dari The Fellowship of the Ring sampai The Return of the King.

Pada hari Jumat malamnya tanggal 28 Desember 2012, saya baru menonton The Hobbit. Entah karena saya agak lelah bekerja pada siangnya, dikarenakan saya menonton di jam 21.45, beberapa kali saya menahan kantuk ketika menonton The Hobbit. Dan terus terang The Hobbit meleset dari ekspektasi saya. Dari segi karakter, praktis di The Hobbit hanya Gollum yang mampu tampil luar biasa. Andy Serkis sebagai pemeran Gollum kembali melanjutkan kepiawaiannya memainkan karakter yang memiliki nama lain Smeagol tersebut. Karakter lainnya yang dalam radar saya bermain bagus adalah Thorin (Richard Armitage). Saya mendapatkan kesan keras, kuat kemauan, dan beban luka jiwa dari karakter ini.

Saya akan membuat artikel tersendiri tentang The Hobbit pada lain kesempatan. Marilah kembali mengarahkan haluan pikir ke acara maraton nonton bareng The Lord of the Rings extended version. Acara nobar ini sendiri jika menilik dari daftar absennya maka mencapai lebih dari 100 orang yang ada. Ruangan lantai dua dari 1/15 coffee dipenuhi oleh para penggemar serial yang digubah dari novel J.R.R.Tolkien ini. Nuansa The Lord of the Rings sendiri terdapati pada replika mainan, semacam mading yang ditautkan di tembok, serta spanduk The Lord of the Rings. Beberapa orang penonton dan panitia memakai atribut The Lord of the Rings menambah semarak keriuhan acara.

Acara dimulai sekitar jam 10.30 pagi dengan pemutaran The Fellowship of the Ring. Dalam extended version boleh dikatakan secara filmis memperdalam cerita dan semakin mendekati apa yang dinarasikan di buku. Di The Fellowship of the Ring misalnya di adegan awal terdapat Bilbo yang sedang tekun menuliskan ceritanya. Bagaimana Bilbo dengan tumpukan perkamennya. Diceritakan juga secara singkat mengenai kebiasaan dan budaya dari hobbit.

Extended version mampu menjawab beberapa tanya ketika dulu saya menonton yang versi bioskopnya. Sebut saja dengan kuda Brego (The Two Towers). Selepas Aragorn jatuh dari tebing, dahulu saya bertanya darimana kuda ini tahu dan begitu setia dengan Aragorn. Ternyata Brego yang semula liar berhasil ditundukkan oleh Aragorn dengan menggunakan nyanyian elf. Brego pun menunjukkan kesetiaan yang utuh kepada Aragorn sebagai hasilnya. Maka tak mengherankan selepas Aragorn jatuh dari tebing dan semula dianggap mati, Brego menjemput tuannya, untuk kemudian membawa tuannya ke Helms Deep.

extended version

Extended version juga memberikan pengayaan terhadap Eowyn. Eowyn ternyata bernyanyi di kala pemakaman Theodred. Nuansa kesedihan dan pemakaman yang membuat saya teringat dengan pemakaman Hector di film Troy (2004). Kisah roman Eowyn juga mendapatkan porsi lebih nampol di extended version. Bagaimana Eowyn sekuat daya dan upaya untuk mendapatkan hati Aragorn. Sebutlah pdkt yang dilakukannya di kandang kuda, memberikan sup kepada Aragorn, ‘menyatakan cinta kepada Aragorn’. Pada bagian memberikan sup, dibuatlah tertawa penonton di 1/15 coffee. Rupanya Eowyn gagal parah dalam memasak. Aragorn yang menerima sup, harus bermuka seolah-olah sup tersebut enak. Lalu ketika Eowyn berlalu buru-buru dibuang supnya. Lalu Eowyn kembali lagi, dan dengan sangat terpaksa Aragorn menghabiskan sup yang rasanya gagal parah di depan tatapan mata harap dari Eowyn.

Trilogi The Lord of the Rings extended version memberi humor yang lebih menggigit bagi Gimli. Sebut saja ketika dwarf ini adu banyak-banyakan menjatuhkan lawan dengan Legolas. Pada penghitungan terakhir, Gimli yang sedang menduduki musuh menyatakan bahwa dirinya telah mengalahkan 43 musuh. Sedangkan Legolas baru mencapai 42 musuh. Dengan segera Legolas mengambil busurnya, memanah, dan memastikan musuh yang sedang diduduki Gimli mati. Total musuh yang dikalahkan Legolas menjadi 43. Dan alangkah lucunya ekspresi berang dari Gimli. Humor dari Gimli lainnya terdapat ketika dirinya ikut menuju the Dead Men of Dunharrow, dimana Aragorn menggunakan garis darahnya untuk memanggil mereka kembali bertarung. Bagaimana bayangan asap yang mencoba menggapai tubuh si dwarf ditiup-tiup oleh Gimli. Gimli pun tidak mematuhi perintah Aragorn untuk tidak melihat ke bawah. Alhasil Gimli melihat tempat yang diinjaknya ialah tengkorak, serta plus lagi suara krak dari sepatunya yang bertumpu pada tengkorak-tengkorak tersebut. Menyaksikan ekspresi kengerian dari Gimli putra Gloin menerbitkan tawa di acara nobar.

Suasana nobar The Lord of the Rings extended version menurut hemat saya menyerupai menonton layar tancep dengan filmnya The Lord of the Rings. Bagaimana celetukan kerap terjadi. Bagaimana potongan dialog yang diujarkan oleh penonton sebelum si penutur dalam film mengutarakannya. Bagaimana kekaguman para penonton perempuan terhadap sosok Legolas. Terkait dengan celetukan, hal tersebut misalnya terlihat dari romansa Eowyn yang mendapatkan tanggapan riuh. Bagaimana para penonton menanggapi Eowyn yang ‘menyatakan cinta’ bagaimana penonton menanggapi Eowyn yang ditolak, bagaimana penonton menanggapi Eowyn yang akhirnya menemukan tambatan hati pada sosok Faramir.

Nuansa celetukan ramai inilah yang menambah suasana nobar menjadi tambah seru. Bagaimana momen-momen tertentu menjadi lebih riuh rendah. Selain Eowyn, Legolas menjadi perhatian penonton. Barulah saya tersadar bahwasanya Orlando Bloom (pemeran Legolas) ternyata benar-benar membetot perhatian penonton dari kaum hawa. Ketika Legolas pertama kali muncul, penonton perempuan langsung ramai mengagumi. Pun begitu dengan momen lainnya dimana Legolas nampak bersinar dengan ketampanannya ataupun daya aksinya yang tangguh.

Acara yang selesai pada kisaran jam 11 malam tersebut, semakin membuat saya jatuh cinta pada serial trilogi The Lord of the Rings. Extended version yang ada semakin membuat imajinasi saya dari hasil membaca novelnya menemui kenyataan dalam sinematografi. Dan meski saya sudah menonton trilogi The Lord of the Rings berkali-kali, kekaguman, emosi, saat jatuh harapan, saat harapan bersinar lagi, tetap saya rasakan dengan kuat. Sebuah karya yang komplet.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Layar Tancep Filmnya The Lord of the Rings

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s