Posted in Aku

Saya dan Bandara Soekarno-Hatta

Jika tak ada aral melintang, insya Allah pada akhir Februari ini ibu saya akan kembali ke Jakarta. Terhitung semenjak bulan Maret 2010 ibu saya mendaratkan langkah di Philadelphia. Telah sekian lama purnama saya tidak bertemu secara fisik dengan ibu saya. Jalaluddin Rumi pernah berkata keterpisahan adalah tipu daya waktu. Dan saya merasakan keterpisahan jarak dan waktu menanamkan dan menumbuhkan beberapa perasaan. Perasaan kehilangan pasti adanya. Perasaan untuk lebih mandiri lagi yang tertumbuhkan. Adapun tempat yang menjadi rendezvous antara menemukan dan kehilangan adalah bandara Soekarno-Hatta. Apa kabar bandara Soekarno-Hatta? Sepertinya kita akan bersua kembali dalam lembaran terbaru episode.

Bandara Soekarno-Hatta memang merupakan diksi yang paling otentik untuk menggambarkan pertemuan dan kehilangan. Di tempat itulah saya menjemput keluarga dan melepas keluarga secara fisik. Relasi kehilangan saya tertemui ketika bapak dan ibu saya berangkat haji pada tahun 1994. Ketika itu saya berumur 10 tahun. Dan kemudian ketika bapak dan ibu saya secara fisik memproses untuk masuk pesawat perasaan kehilangan saya pun membuncah. Saya masih mengingat tangis dan keras kepala dari sensasi rasa kehilangan saya itu. Lalu roda waktu melemparkan jangkarnya dan terkoneksi dengan bandara Soekarno-Hatta. Kakak pertama saya, Ummu Hani yang boleh dikatakan seorang travel lounge. Ia telah melintasi banyak negara dan benua. Dan telah beberapa kali saya melepas dan menjemputnya. Singapura, Amerika, merupakan negara destinasi yang terkait dengan proses melepas dan menjemput itu.

Lalu ada juga keponakan saya yang sudah saya anggap sebagai adik saya. Muhammad Zuhdi. Pada tahun 2006, ketika dirinya menginjak usia 10 tahun, ia melakukan migrasi ke Amerika Serikat. Ibunya (Ummu Hani) berada dan tinggal di Amerika Serikat. Dan saya pun dengan berat dan sedih hati melepas keponakan yang sedari kecil berbagi tempat tidur dengan saya. Maka ketika bulan Maret 2010 itu datang, ketika saya harus melepas ibu saya menuju perjalanan 30 jam lebih ke Amerika, saya pun telah berlapang hati. Rupanya telah terbiasakan untuk kehilangan diri saya. Kehilangan memang seperti menyisakan ruang menganga dalam hati. Dan disitulah berartinya seseorang terasa. Namun memang begitulah hidup. Ketidakabadian keadaan merupakan dna dari hidup. Perubahan merupakan denyut kehidupan. Yang harus dilakukan adalah bersiap dan memasrahkan diri.

Saya percaya perjalanan fisik ke suatu tempat memberikan lapis pengetahuan tersendiri. Menjelajahi belahan bumi yang lain membuka cakrawala tentang hamparan bumi yang meluas. Saya sendiri praktis baru pergi ke Singapura sepanjang dua dekade lebih track record hidup saya. Singapura saja telah memberikan saya definisi yang berbeda dalam memandang dunia. Ada relung pengetahuan yang tidak terjamah oleh lembaran buku, melainkan hanya dapat dirasakan langsung. Begitulah kiranya pendapat saya. Maka lakukanlah perjalanan. Jangan terpaku di satu koordinat. Saya percaya ada kebijaksanaan bersama perjalanan. Saya cukupkan dulu tulisan kali ini.

Kapan terakhir kali Anda ke bandara Soekarno-Hatta?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s