Posted in Essai, Sosial Budaya

Dan Dunia

Saya berjalan melewati dunia. Dan apa yang saya lihat adalah kebakhilan yang nampak. Manusia yang menjulurkan lidahnya. Seakan tak pernah puas mereguk dunia. Sikat sana, sikat sini. Caplok kanan, caplok kiri. Serigalakah yang kulihat? Dengan kata-kata manis mereka mengemas kebusukan. Memainkan logika. Memanjakan mata memandang. Dan dunia menjadi keruh adanya. Alam yang terbonsai dalam kapling-kapling kepemilikan privat. Lingkungan sosial yang saling menyikut. Bumi telah semakin tua sobat.

Saya berjalan melewati dunia. Dan apa yang saya lihat adalah perlente wangi yang menadahkan tangan. Mereka meminta kucuran dana dari proyek yang mereka muluskan. Mereka mendongakkan kepala, namun ‘tangan mereka’ menadah. Mereka berdansa-dansi di tengkorak-tengkorak manusia lapar yang mati hari ini. Mereka guyurkan sampanye ke tulang-tulang kerontang yang bimbang merenda hari esok. Disparitas itu nyata tuan. Disparitas itu nyata nona. Koefisien gini hanyalah salah satu parameter betapa si kaya memiliki rentang melebar dari si papa. Dan si proletar mungkin hanya bisa melawan dalam mimpi. Melihat dengan mata nanar. Dari gubuk derita mereka. Kemewahan demi kemewahan yang tersaji dari layar kaca. Kemewahan yang tiada tersentuh. Hanya amis mimpi bagi mereka.

Saya berjalan melewati dunia. Dan yang saya lihat adalah perang. Perang atas nama….(isi sesuai selera). Ada nafsu yang menggelegak dalam perang itu. Maka gejolak darah adalah harga yang harus dibayarkan untuk nafsu yang membuncah itu. Penguasaan sumber-sumber energi. The end of capitalism? Kemenangan kaum kapitalis? Maka setelah porak poranda suatu negeri, tuan dan nyonya berbaju rapih itu datang ke negeri. Diksi mereka seakan berperadaban. Resep mereka seakan genuine. Lalu mereka merasuk ke nadi negeri. Meracuni negeri dengan ‘pembangunan sana-sini’. Lalu anak-anak negeri itu selepas ‘pembangunan sana-sini’ melihat dengan mata sendu dan berkata, “Negeri siapa ini?”

Saya berjalan melewati dunia. Dan saya berhitung substansi. Berapakah jumlah manusia di bumi ini? Adakah aku, adakah Anda, masih manusia secara substansi? Ataukah kita adalah serigala-serigala itu yang tak kunjung kenyang mengerkah sumsum kekayaan hingga habis tak bernyawa?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s