Posted in Essai, Fiksi Fantasi

Realistis Utopis

Mungkin pada akhirnya adalah waktu. Yang membuat kita berhenti. Yang membuat kita meletuskan balon-balon mimpi. Kita menua bersama mimpi. Lalu kita menjadi ‘realistis’. Kita tidak terdampar lagi di pulau utopis. Apa kabar imajinasi? Imajinasi adalah khayalan para pemalas. Mereka yang kalah dalam pertarungan hidup. Lalu lari dari kenyataan. Lalu lari dari dunia. Lalu membentuk dimensi khayali di sudut pikiran mereka yang sumpek.

Waktu tidak hanya dapat membuat seorang menjadi dewasa. Waktu dapat mengusamkan harapan. Yang terhempas dan terlepas. Yang terlupakan. Dahulu saya memiliki barisan mimpi yang berbaris. Seolah umur ini tiada habis. Lalu dunia menarik saya. Dalam orbitnya. Dalam logikanya.

“Bangun hei pengkhayal.”

“Bangun dari imajinasi dungu.”

Dalam ruang di kepala. Mimpi lama itu memanggil. Menimbulkan gema yang teredam. Permukaan bola mimpi itu telah berdebu. Dahulu pernah ada cahaya begitu semarak. Warna yang meletup-letup. Apa kabarmu wahai mimpi?

Lorong-lorong yang kini menyepi. Sejenak lamunan di sisi jendela. Aku mencari aku. Aku mencari jiwaku.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s