Posted in Aku, Essai

Majalah

Belum lama ini rekanan penulis di kantor saya berlangganan majalah Historia. Sempat terbetik di pikiran saya untuk ikut berlangganan, apalagi ketika itu terdapat diskon. Melihat dewan redaksi ahlinya saya mendapatkan bebarapa nama yang daya penanya pernah saya baca. Yakni Mona Lohanda dan Asvi Warman Adam. Saya pun sempat tergoda untuk ikutan berlangganan. Namun dikarenakan saya belum melihat bentuk fisik dari majalah itu dan membaca substansi isi majalah Historia secara langsung maka saya mengurungkan untuk ikutan berlangganan dengan paket hemat tersebut.

Sampai paket majalah rekanan kantor saya itu akhirnya tiba dan saya berkesempatan untuk meminjam satu edisinya. Saya membaca sekilasan judul dan materi dari majalah Historia. Lalu saya membaca dengan seksama sebanyak 23 halaman. Saya pun berketetapan hati untuk akhirnya memilih opsi akan berlangganan majalah Historia. Majalah Historia selain warna utamanya membeberkan sejarah, juga memberikan porsi pada budaya. Dan kedua irisan pengetahuan tersebut merupakan domain yang saya sukai. Sebelumnya saya telah berlangganan majalah Tempo selama 1 tahun dan membeli tiap bulan majalah Animonstar. Dengan berlangganan majalah Historia maka akan ada 3 majalah yang menambah literatur perpustakaan pribadi saya.

Majalah-majalah tersebut hadir dengan coraknya tersendiri. Saya sendiri telah mengenal majalah Tempo semenjak belia. Dahulu bapak saya berlangganan majalah Tempo. Dan saya masih mengingat dengan agak samar-samar bahwa saya dahulu kerap membaca rubrik ‘Catatan Pinggir’ dari Goenawan Mohamad. Di era sekarang ini, saya berlangganan majalah Tempo selain untuk kebutuhan intelektual, juga untuk kebutuhan dunia pekerjaan. Lingkup pekerjaan saya begitu erat berkait dengan politik Indonesia. Maka saya harus meng-update, menambah khazanah pengetahuan tentang kondisi politik Indonesia kontemporer. Dan menurut hemat saya majalah Tempo merupakan majalah yang berada di garis terdepan dalam menyajikan hidangan liputan sosial politik.

Adapun majalah Animonstar saya beli untuk kebutuhan yang lebih sifatnya rekreatif dan proyek personal. Rekreatif dikarenakan rubrik dari majalah Animonstar akan sejenak memberikan jeda saya dari keriuhan tekanan dunia pekerjaan. Saya pun dibawa ke dimensi imajinasi, dan segala perspektif yang tidak ordinary dalam hidup. Saya pikir ini perlu untuk membawa hidup tidak monoton dan menjemukan. Dari majalah Animonstar saya dapat terinspirasi dengan beragam ide-ide cerita. Harus saya akui ide cerita dari orang-orang Jepang memiliki kadar kejeniusan yang tinggi, imajinasi yang membubung. Dan itu dibutuhkan saya dalam membuat cerpen ataupun novel. Baiklah saya cukupkan tulisan untuk hari ini. Sampai berjumpa di tulisan saya yang lain.

Jadi Anda berlangganan majalah apa?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s