Posted in Edukasi, Essai

Menulislah Maka Membaca

Menulislah maka membaca. Jika membaca belum tentu menulis. Saya percaya kedua kalimat itu berlaku adanya. Karena saya menghayatinya langsung. Ketika maraton membaca saya kerap mengalami ilmu yang saya reguk seakan masih kurang dan kurang. Dengan menuliskan maka akan ada jejak dari apa yang dibaca. Banyak membaca tidak serta merta meninggalkan jejak di ingatan. Bisa jadi apa yang dibaca akan terlupa. Oleh karena itu tuliskanlah apa-apa hasil yang dibaca. Saya pikir paduan antara menulis dan membaca akan menghasilkan sintesa yang luar biasa.

Mulai hari Senin 11 Februari 2013 saya mencanangkan secara personal program ‘menulis first’. ‘Menulis first’ dalam artian saya akan mendahulukan menulis dibandingkan membaca dalam aktivitas keseharian. Hal ini penting adanya mengingat profesi formal saya adalah wartawan. Maka saya harus menghasilkan ‘barang’ berupa tulisan. Dengan banyak-banyak menulis maka akan meningkatkan kuantitas dan kualitas tulisan. Terkadang saya merasa untuk menuliskan dibutuhkan pasokan bacaan yang memadai. Maka saya pun ‘tenggelam’ dalam studi literatur yang panjang. Ada benarnya hal tersebut namun tidak selalu. Terkadang saya menjadi terlalu asyik ‘tenggelam’ dalam studi literatur. Padahal yang diperlukan adalah output berupa tulisan. Dan kerap yang terjadi ketika saya mulai menuliskan, maka ide, aliran pikiran pun mengalir. Pikiran saya menemukan muaranya tersendiri. Lalu sembari menulis saya menemukan celah-celah bacaan yang harus saya isinya nanti. Menulis ibarat terjun langsung. Mungkin terlihat menakutkan pada awalnya. Namun ketika terjun itulah ada kenikmatan tersendiri. Ada adaptasi tersendiri.

Saya beberapa kali dimintai saran mengenai bagaimana caranya menulis yang baik. Jawaban yang paling orisinal dan otentik yang bisa saya lakukan ialah dengan menulis. Sebab menurut hemat saya menulis adalah jalan yang harus ditemukan sendiri. Orang lain hanya dapat memberikan saran, pendapat, namun keahlian menulis merupakan pekerjaan aktif yang harus dijajal sendiri. Sesering apapun Anda menjalani pelatihan menulis, teori menulis, akan tersiakan apabila tidak dipraktekkan dengan menulis. Segala pelatihan dan teori tersebut dapat meluap lenyap dari ingatan. Saya sendiri merasa lebih banyak belajar menulis secara otodidak. Saya terjun langsung dengan menulis. Saya berusaha menemukan tekstur dan cita rasa saya tersendiri. Saya berusaha menemukan karakter dan warna khas saya. Dan itu tidak dibangun instan dalam semalam dua malam. Hal tersebut dilatih dalam durasi terus menerus nan panjang.

Saya juga belajar dengan membaca karya-karya terbaik. Membaca tulisan kelas wahid akan membantu diri untuk menjadi penulis yang baik. Hal tersebut akan menetapkan standar: oh ini tulisan yang baik. Dengan demikian menulis adalah perjalanan yang terus berlangsung. Menulis dan membaca…menulis dan membaca…siklus itulah yang terus terjadi. Saya pernah mendapati rekan di kantor memandang minat membaca masyarakat Indonesia yang rendah. Lalu dia memandang perlunya tampilan buku yang menarik untuk dibaca. Itu ada benarnya, namun tidak sepenuhnya benar. Saya sendiri memandang minat membaca yang rendah harus diperangi dengan memaksakan membaca. Buat sistem, buat aturan agar rajin membaca. Hal itu dapat diterapkan pada diri pribadi, lalu disebarkan kepada orang lain. Mengetahui manfaat dan urgensi membaca tentu menjadi nyala semangat untuk tekun membaca. Lalu menulislah. Menulis apa saja. Saya percaya dengan menulis kejora ilmu pengetahuan akan berkembang luas.

Dengan kemajuan teknologi Anda sekalian dapat membuat blog. Blog itu nantinya dapat menjadi medium untuk mengasah daya tulis Anda. Saya percaya jika telah berketetapan hati menulis setiap hari, maka amunisi tulisan akan ada saja. Bisa dari apa yang dialami seharian, apa yang dibaca, pengalaman hidup, hobi, dan sebagainya. Lalu saya percaya ketika menulis maka ada keharusan untuk menyempurnakan tulisan. Disitulah diperlukan bacaan yang melengkapi. Maka saya mengapresiasi sistem pendidikan kolonial Belanda yang mewajibkan siswanya menulis karangan. Maka saya mengapresiasi sistem pendidikan di luar negeri yang mewajibkan siswanya membuat essai. Karena dengan karya tulis itulah maka daya tulis akan dapat teroptimalisasi dan terlatih. Daya baca juga akan otomatis terungkit naik. Karena dari membacalah maka terdapat amunisi untuk menulis. Jangan pernah merasa bahwa ilmu, teknik menulis Anda masih minim, mulailah menulis saja terus dan menerus. Saya percaya ketika sumber daya manusia memproduksi tulisan maka kejora, kembang ilmu pengetahuan akan merekah dengan eloknya.

Author:

Suka menulis dan membaca

One thought on “Menulislah Maka Membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s