Posted in Essai, Sosial Budaya

Masyarakat yang Bergegas

Jam biologis mereka yang bekerja di Jakarta saya percaya beda adanya dengan mereka yang tinggal di tempat lain di Indonesia. Ada ketergegasan. Ada ketergesaan. Waktu seakan dipecut-pecut. Maka yang muncul adalah kecepatan. Yang muncul adalah instan. Yang muncul adalah pelayanan satu atap. Jakarta menjadi teritori yang menyangga begitu banyak mimpi dan harapan manusia. Mimpi dan harap yang membuat manusia saling berkonfrontasi terus menerus. Di jalanan, manusia-manusia saling menyalip, memaki, melontarkan diksi hewani. Di tempat pekerjaan saling menelikung, saling menusuk, membuat aliansi.

Survival. Kata itu mungkin yang dapat menautkan banyak makna dengan frasa masyarakat yang bergegas. Bergegas karena menginginkan untuk survive. Pecutan-pecutan terhadap waktu itu menghadirkan tanya tentang makna. Tentang kedalaman substansial dari hasil kerja. Pecutan terhadap waktu itu menghadirkan tanya tentang teknologi dan kemudahan. Bagaimana teknologi menjadi kebutuhan. Bahkan mungkin ketergantungan.

Dalam satu tempat, dalam momentum waktu yang berdekatan, sebisa mungkin panel-panel item dapat terselesaikan. Itulah kiranya tipikal masyarakat yang bergegas. 24 jam seakan membutuhkan injury time lagi. Tidakkah ketergegasan itu menimbulkan kerontang makna? Tidakkah ketergegasan itu berkorelasi dengan nir lamunan dan nir imajinasi? Apa yang sebenarnya Anda cari wahai para penggegas? Uang, pangkat, status sosial? Saya pikir Anda perlu sejenak melakukan evaluasi akan segala jam-jam yang dihabiskan dalam sehari. Bahagiakah Anda?

Saya tidak sedang menggugat secara total. Saya mendukung kompetisi, survival, dan kecepatan. Namun yang saya gugat adalah soal ketergegasan dan waktu yang menjadi kehilangan ruh maknanya. Masyarakat yang instan. Maka tak mengherankan talent show yang melejitkan dari bukan siapa-siapa menjadi super terkenal, mendapatkan sambutan meriah. Masyarakat bergegas lupa akan proses. Masyarakat bergegas lupa akan waktu “sesuatu” hingga menjadi “jadi”. Masyarakat bergegas menggunakan jam, namun diperbudak oleh waktu. Masyarakat bergegas mendeklarasikan sebagai pengguna waktu yang efisien namun tengoklah ceceran makna dan subtansi kerja yang tidak terkerjakan dengan sempurna. Segala sesuatunya butuh waktu. Metamorfosa membutuhkan waktu. Mempercepat sesuatu dapat merusak tatanan. Dan sayangnya itu yang banyak dilakukan manusia. Atas nama kompetisi, atas nama keuntungan lebih besar, dan atas nama lainnya.

Sejenak berhenti mengevaluasi. Atau jangan-jangan Anda telah kesulitan untuk menemukan rem dalam rentang waktu Anda?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s