Posted in Essai

Bukan Menunggu Kesempurnaan

Mungkin momentum kesempurnaan adalah sebuah utopis? Seberapa sering saya dan Anda berharap, menunggu kesempurnaan itu hadir? Betapa banyak waktu yang akhirnya menjadi tersiakan dikarenakan menunggu kesempurnaan itu. Ujungnya adalah penundaan dan penantian. Menunda dan menanti hingga segalanya sempurna. Sampai saya berpikir pada satu titik bahwa kesempurnaan itu bukanlah lagi untuk dinanti, ditunggu. Kesempurnaan haruslah diperjuangkan. Alur pemikiran saya tersebut ditopang oleh dua fragmen momentum. Pertama, adalah momentum proklamasi. Kedua, adalah momentum haji wada nabi Muhammad Saw.

Momentum proklamasi lahir tak terlepas desakan kaum muda di republik ini. Jepang yang menelan kekalahan dari sekutu, untuk kemudian tidak serta merta berarti Indonesia dapat langsung mendeklarasikan kemerdekaannya. Pertimbangan logisnya adalah masih bercokolnya kekuatan militer Jepang di Indonesia. Soekarno dan Hatta untuk kemudian diculik oleh para pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok. Apa yang dilakukan oleh para pemuda ini menjadi unsur pemercepat, pendorong dari kemerdekaan. Dan teks proklamasi kemerdekaan pun disusun di waktu dinihari di rumah laksamana Maeda.

Proses kemerdekaan negeri ini pun tidak berjalan sempurna-sempurna amat. Bagaimana ada proses tarik menarik, ada dialektika. Namun yang jelas konklusi kaum muda dan kaum tua ialah Indonesia merdeka. Begitu juga dalam hidup saya dan Anda. Saya percaya bahwasanya terkadang muncul desakan, tekanan dari luar. Lalu permakluman yang dilakukan oleh pribadi ialah menunggu ini-itu, menunggu segalanya sempurna. Karena tekanan dari pihak luar itu maka beberapa pencapaian terjadi. Dan itu mungkin tidak akan terjadi apabila pribadi sendiri mengerjakan totalitas sendiri. Mengapa? Karena ada keinginan untuk sesempurna mungkin.

Pada poin kedua ialah momentum haji wada dari nabi Muhammad Saw. Kehidupan dari nabi Muhammad selalu dituntun oleh risalah Ilahi. Maka di haji wada itulah turun surat Al Maidah ayat 3 yang berbunyi “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu.” Turunnya ayat tersebut menjadi sinyalemen telah tersempurnakannya tugas dari nabi Muhammad Saw dalam umur biologisnya. Lalu bagaimana dengan kita? Yang pasti kita akan mati. Pernahkah berpikir apabila mati, telah cukupkah jejak yang dihasilkan. Telah adakah karya dari diri? Maka jangan lagi tunda sampai segala anasir sempurna. Mumpung nyawa masih ada, mari berkarya, mari berprestasi. Bekerjalah untuk dunia seolah akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhirat seolah akan mati esok hari. Mari mencicil saja pengerjaan segala sesuatu. 1000 langkah selalu dimulai dari langkah pertama dan langkah-langkah kecil.

Jadi proyek apa yang tertunda dalam mimpi Anda?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s