Posted in Cerpen, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, sastra, Sosial Budaya

Hidangan

“Selamat mengambil hidangan,” kataku sambil mataku menyapu ke hadapan hadirin.

Ah tamu-tamu ini merepotkan. Mereka selalu minta macam-macam. Dan aku harus mendapatkan sial ini. Menjamu para tetamu. Koki-koki di dapurku kini sibuk berakrobat dengan waktu. Dalam waktu yang relatif singkat mereka harus menghasilkan varian makanan yang begitu banyak. Hasil olahan dari bahan dasar ayam, sapi, domba, kambing, kini memenuhi jejalan di meja panjang. Dan yang membuatku pening adalah tetamu ini seakan memiliki selera makan yang tak habis-habis. Mereka sigap meludeskan makanan di piring, lalu kembali mengisinya kembali dari meja prasmanan.

Hei kalian harus tahu tamu-tamuku secara status sosial bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para elite dari negeri keparat tempatku menginjak. Mari aku navigasi penglihatan kalian. Di sebelah sana ada tokoh dari kehakiman. Rambutnya telah putih. Kata-katanya seperti buku teks. Dan dia memiliki keahlian tertentu untuk mencari celah hukum. Alhasil sederetan terdakwa hanya mendapatkan hukuman yang relatif ringan. Dia seperti menari diantara pasal dan kekosongan hukum. Ah lihat dia menyesap daging domba muda dengan begitu tangkas sekarang.

Di sebelah sana ada elite dari wakil rakyat. Dia adalah tokoh yang pandai mengopinikan. Sekali waktu dia menggonggong pemerintah, sekali waktu dia terpagut erat dengan pemerintah. Abu-abu. Semuanya tergantung kepentingan pragmatis. Oh iya dari bisik-bisik kata, dia lihai memainkan angka anggaran. Dan mendapatkan sekian persen dari proyek yang tentunya kalian tahu telah menggelembung dari sisi anggaran.

Di dekat piano itu, kalian bisa melihat sosok lapis atas dari pemerintahan. Oh lihatlah perutnya yang membuncit. Dengarlah suara tawanya yang berlebihan. Tengoklah sepatunya yang bersih mengilap. Dia praktis tidak berkeringat dalam melakukan banyak hal. Toh negara telah membiayai segala kepentingannya. Negara telah mengguyur segala kebutuhannya. Jadi nyamanlah dia dalam kerja-kerja seremoni dan kalimat basa-basi.

“Selamat mengambil hidangan,” kataku sambil mataku menyapu ke hadapan hadirin.

Sekali lagi panganan-panganan baru keluar dari ruang dapur. Dan tetamu-tetamuku dengan langkah sigap mengerubungi hidangan yang menguar harum dan hangatnya masih mencumbu udara. Ah mereka seperti menengguk air laut. Ah mereka tak ada puas-puasnya memangsa hingga sumsum penghabisan.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s