Posted in Aku, Sosial Budaya

Tahun yang Baru dan Transkrip

Praktis pada pekan pertama di tahun yang baru, kantor hanya menyisakan hari Rabu-Jumat untuk bekerja secara resmi. 1 Januari yang jatuh pada hari Selasa tentu saja merupakan hari libur nasional. Bagaimana Anda melewati detik-detik pergantian tahun? Saya sendiri sedari dulu tidak pernah memandang momen pergantian tahun sebagai sesuatu yang mesti dirayakan. Di banyak kesempatan, saya biasanya tidur awal. Dan terbangun setahun kemudian (haha..). Di momentum pergantian dari 2012 ke 2013, saya sendiri berada di rumah menonton tv. Kebetulan Rcti menayangkan konser, dimana NOAH menjadi pengisi acaranya.

Tahun yang baru menurut hemat saya harus dimaknai dengan kontemplasi. Tentang apa yang terjadi pada masa lampau. Belajar dari sejarah. Belajar dari kesalahan. Ketika belajar itulah maka waktu akan termaknai. Mereka yang tidak belajar dari sejarah, merupakan mereka-mereka yang lancung terhadap waktu. Simaklah bagaimana dalam Al Qur’an begitu banyak pembelajaran sejarah. Bagaimana untuk menjalankan risalah-Nya nabi Muhammad belajar dari para nabi dan rasul sebelumnya. Dengan demikian maka konsep berhura-hura, berterompet ria, merupakan budaya yang menurut saya menafikan relung kontemplasi dan pembelajaran sejarah.

Di tahun yang baru ini saya sendiri telah menyusun target yang sifatnya bulanan dan tahunan. Tentu saya tidak perlu mengungkapkan target saya di artikel ini. Yang ingin saya bagi adalah kebiasaan menuliskan sesuatu. Dalam hal ini saya menuliskan target bulanan dan tahunan saya. Menuliskan menurut saya akan menguatkan tekad, dan mengingatkan diri. Dalam skala lain, habbit menuliskan target tahunan juga didapati pada keluarga Asma Nadia. Keluarga Asma Nadia merupakan keluarga penulis. Simak saja bagaimana Asma Nadia yang mampu memenuhi target menulis 10 buku pada tahun 2012. Ataupun anaknya yang sulung yang telah berhasil membuat 17 kisah fiksi. Keluarga Asma Nadia menuliskan target tahunan lalu dimasukkan di toples. Setelah 1 tahun berlalu maka toples tersebut dibuka dan dibaca isinya. Mana-mana target yang sudah tercapai dan mana yang belum.

Menuliskan segala sesuatu mungkin terlihat sepele. Dan bahkan bagi beberapa orang dipandang tidak berguna. Namun saya memandang menulis segala sesuatu itu penting. Saya sendiri baru-baru ini membuka file tulisan lama saya. Dan saya agak terkagumkan dan tertarik dengan rangkaian tulisan yang pernah saya hasilkan. Betapa upaya saya, keringat saya, terdapati dalam buah pena tersebut. Menulis segala sesuatu juga seperti memanggil memori. Bagaimana teringatkan memori tentang rupa-rupa yang pernah dikerjakan dan dialami. Saran saya jika Anda belum telaten menulis, maka menulislah. Dan rasakan kegembiraan dari menulis. Jenguklah tulisan Anda setelah sekian waktu. Ada momentum yang berhasil Anda abadikan dalam bentuk literasi. Dan saya pikir itu lebih dari sesuatu dan lebih dari cetar membahana (hoho..).

Transkrip

Dalam pekerjaan kantor, saya fokus untuk melakukan transkrip. Memindahkan rekaman suara menjadi bentuk tertulis. Dan ini merupakan pekerjaan yang cukup riweuh dan membutuhkan kesabaran. Saya sendiri bersyukur dengan kemajuan teknologi yang ada dan bisa saya gunakan. Pada masa terdahulu, saya mentranskrip dari tape recorder. Sekarang dengan adanya alat perekam digital, maka lebih memudahkan pekerjaan transkrip saya. Meski begitu transkrip merupakan pekerjaan yang memerlukan kesabaran. Mungkin bisa dijadikan parameter pengukur tingkat kesabaran: mengerjakan transkrip.

Dari melakukan transkrip tersebut saya mendapati bahwa pemikiran orang biasanya berada dalam satu spektrum tertentu dan terjadi repetisi di beberapa. Ada 4 kali wawancara yang telah tim kantor kami lakukan, dan si narasumber yang kami wawancarai melakukan sejumlah pengulangan konsep pada beberapa sesi wawancara. Mengerjakan transkrip merupakan salah satu bagian dari proses produksi penulisan. Ini saya pikir sebuah informasi berguna bagi sidang pembaca bahwa sebelum tulisan laik santap, maka harus melewati beberapa pekerjaan dan tahapan terlebih dahulu. Ini sekaligus untuk menepis pendapat orang-orang cupat yang mengira pekerjaan menulis itu kecil, sepele, gampang. Pekerjaan menulis membutuhkan ketelitian dan ketekunan.

Dalam mengerjakan transkrip, saya mendapatkan pembelajaran untuk menuntaskan sesuatu yang tertunda. Boleh dikata mentranskrip ini sebelumnya baru setengah jalan saya kerjakan. Lalu dengan fokus, tuntaslah pengerjaan transkrip. Menuntaskan segala sesuatu yang tertunda menurut hemat saya memerlukan fokus, tenaga, dan waktu. Untuk itulah waktu yang ada sedapat mungkin digunakan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurnanya.

Pengerjaan transkrip ini juga menyadarkan saya bahwa dibutuhkan pengetahuan diksi tertentu. Kebetulan di kantor saya terdapat penulis baru yang berlatar belakang pendidikan Sastra Arab. Ketika dia mendapatkan bagian mentranskrip, beberapa diksi yang terkait dengan sosial politik tidak dengan tepat diketikkan. Sebut saja contoh ‘pileg’ diketik ‘pilek’; ‘founding fathers’ diketik ‘funding fathers’; dan sebagainya. Rupanya untuk memindahkan suara ke dalam bentuk tulisan dibutuhkan latar pengetahuan pula. Meski begitu rekan kantor saya yang baru ini mau belajar dan menerima masukan. Saya pikir itu adalah poin positif yang diperlukan. Kemauan untuk belajar itulah yang menjadi basis dari pengetahuan. Karena sejatinya seiring waktu, manusia memang perlu untuk senantiasa belajar, beradaptasi, menyempurnakan kompetensi.

Saya cukupkan dulu tulisan untuk kali ini. Adios.

Author:

Suka menulis dan membaca

2 thoughts on “Tahun yang Baru dan Transkrip

  1. Maaf mas, utk mentranskrip gitu dapet upah brp ya..? Nah kalo utk temen mas yg pegawai baru itu apa sama upah kerjanya..?
    Kebetulan saya baru ikut2an mentranskrip wawancara.. nah saya bingung pas ditanya ongkos transkripnya brp..
    Terimakasih mas utk sharing nya..

    1. oh kalau saya yg transkripan itu gratisan, soalnya sudah include dg pengerjaan naskah. kalau transkripan mnrt teman saya 25 ribu per halaman (coba dicek dan diverifikasi lagi deh hoho..). transkripan juga tergantung tingkat kesulitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s