Posted in Politik

Quotes Politik (2)

America is not a country. It’s just a business. – Jackie

Sang pemberontak tak pernah menemukan damai. – Albert Camus

Di masyarakat yang sakit oleh penindasan, banyak hal bisa diketahui hanya dengan menyaksikan kontak mata antara dua manusia. – Goenawan Mohamad

Setiap orang terjajah akan hadir dan tampil sebagaimana ia dibentuk oleh pandangan si penjajah terhadap dirinya. – Goenawan Mohamad

Diskriminasi rasial bermula ketika sang penindas menatap tubuh sang korban, dan menentukan tempatnya. – Goenawan Mohamad

Faksi merupakan hasil dari sebuah perbedaan pandangan, kepentingan, atau strategi yang tidak terjembatani di antara anggota partai yang mengarah pada munculnya sebuah klik atau pengkubuan yang bersifat relatif mapan untuk kemudian saling berlomba menanamkan pengaruhnya.

People have an innate desire for conflict. So what you are fighting is not me, but rather mankind. War, on an industrial scale, is inevitable. I’m just supplying the bullets and bandages. – James Moriarty

Saya ingin membuat presiden sebagai seorang tetangga. – BJ Habibie

Orang bicara tentang siapa kalah dan siapa yang menang. Akal sehat yang menang. Umat manusia yang menang. – Nikita Khrushchev

Di wilayah publik orang “harus belajar bagaimana untuk tidak menjadi baik”. – Machiavelli

Mereka sedang membuat sebuah sejarah yang punya arti, juga bila diutarakan kepada manusia di ruang lain, di waktu yang lain, di milenium yang berbeda. – Goenawan Mohamad

Give me liberty or give me death. – Patrick Henry

Bahwa akhirnya negara akan “melapuk hilang”. – Karl Marx

Ide besar yang baru dari revolusi ini adalah tentang revolusi itu sendiri. – Timothy Garton Ash

Kaum borjuis tak akan ada tanpa terus-menerus mengubah alat-alat produksinya. – Marx

Masyarakat modern borjuis sebuah masyarakat yang telah menyulap-jadikan alat-alat produksi yang begitu hebat, mirip seorang ahli sihir yang tak bisa lagi mengontrol kekuatan dunia bawah yang telah dipanggilnya sendiri. – Marx

Tanah air adalah sebuah proyek yang kita tempuh bersama-sama, kau dan aku. – Goenawan Mohamad

Nyanyi sunyi seorang bisu. – Pramoedya Ananta Toer

Keris ini hanya kau beri fungsi tunggal, Arok, untuk mengalahkan- kekerasan tak akan berhenti sejak hari ini. – Mpu Gandring

Semua politik adalah politik melupakan. – Jean-Francois Lyotard

Sejarah Indonesia adalah sebuah sejarah yang luka-luka – Goenawan Mohamad

Orang-orang yang dipercayai untuk mengarahkan perikehidupan publik di Amerika Serikat sering lebih rendah mutunya, baik dalam kapasitas maupun dalam moralitas dibandingkan dengan mereka yang ditambuhkan oleh lembaga-lembaga aristokratis. – De Tocqueville

Sosialisme adalah masa depan yang tak terelakkan. – Marx

Kita masih berada hanya dalam awal penjelajahan ke kedalaman pemikiran Marx: kenapa di hari ini ia dengan suara yang lebih segar dari sebelumnya…. – Berman

Sebuah massa besar dari sebuah negara lebih mudah jatuh sebagai korban manipulasi pembohong besar ketimbang pembohong kecil. – Adolf Hitler

The theatre is the political art par excellence. – Hannah Arendt

Misi praetorian: mimpi orang bersenjata yang merasa layak memimpin orang yang tak bersenjata.

For a fighting nation there is no journey’s end. – Nehru

Kemerdekaan Indonesia hanya bisa langgeng dalam demokrasi. – Hatta

Lebih suka kami melihat Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada melihatnya sebagai embel-embel abadi daripada suatu negara asing. – Hatta

Tapi kekerasan selalu punya pembelanya sendiri. – Goenawan Mohamad

Finality is not the language of politics. – Disraeli

Politik itu terkutuk justru karena ia harus menerjemahkan nilai-nilai ke dalam dunia fakta-fakta. – Marleau-Ponty

Fasisme adalah napas syahwat [masyarakat Barat] di usia separuh baya. – Jean Baudrillard

Demokrasi adalah menopause masyarakat barat. – Jean Baudrillard

Dunia selalu menampik untuk sempurna, sebab sebuah negeri atau sebuah komunitas bukanlah sebuah karya seni arsitektur. – Goenawan Mohamad

Tiap tulisan adalah perlawanan terhadap arsitektur. – Goenawan Mohamad

Tiap tulisan adalah ribuan subversi terhadap panorama yang mengklaim diri sempurna. – Goenawan Mohamad

Barang siapa yang kecewa kepada ketidaksempurnaan akan kecewa kepada demokrasi. – Goenawan Mohamad

“…imperialisme bukan saja sistem atau nafsu menaklukkan negeri dan bangsa lain, tapi imperialisme bisa juga hanya nafsu atau sistem memengaruhi ekonomi negeri dan bangsa lain. Ia tidak usah dijalankan dengan pedang atau bedil atau meriam atau kapal perang, tak usah berupa “perluasan negeri [sic.] daerah dengan kekuasaan senjata” sebagai yang diartikan oleh van Kol, tetapi ia bisa juga berjalan dengan “putar lidah” atau cara “halus-halusan” saja, bisa juga berjalan dengan cara penetration pacifique (penetrasi damai). – Soekarno

Yang tak bisa menaruh pikirannya dalam es, jangan sekali-kali memasuki api perdebatan. – Nietszche

Barangkali keadilan adalah sejenis dewa yang diam, yang marah, dan tak terjangkau dan orang ramai membuat unggun dan memanggang apa saja sebagai daging pengorbanan. – Goenawan Mohamad

Betapapun besarnya, kekuatan Amerika terbatas. – Walter Lippmann

Nasionalisme punya sejumlah iblisnya sendiri. – Goenawan Mohamad

Tiap-tiap gerakan historis yang besar, mencapai sukses, oleh karena cara-caranya berjuang adalah disesuaikan dengan sifat keadaan-keadaan yang menentukan. – Soekarno

Kebuasan tampaknya membutuhkan penonton. – Goenawan Mohamad

Kebuasan memerlukan sedikit lelucon untuk menegaskan bahwa yang kuat, yang menang, patut memperolok-olok yang kalah. – Goenawan Mohamad

Jika kita, kaum Muslim, benar-benar memahami dan secara sungguh-sungguh melaksanakan ajaran-ajaran Islam, kita pastilah akan menjadi para demokrat dan sosialis sejati. – Tjokroaminoto

Sejauh berkait dengan (pilihan) kaum Muslim, demokrasilah yang diutamakan karena Islam hanya bisa berkembang dalam sistem yang demokratis. – Natsir

Jika kau menghamba kepada ketakutan,
kita memperpanjang barisan perbudakan
– Wiji Thukul

Kamarku tidak pakai jendela sama sekali. Dan tidak berpintu. Di dalam sangat gelap, sehingga aku terpaksa menghidupkan lampu terus menerus sekalipun di siang hari. – Soekarno

Kepentingan diri tak putus-putusnya meminta dipenuhi, politik pembebasan musnah atau menjadi sangat lemah…dan kompetisi yang tak terkendali menjadi sesuatu yang universal. – Alain Badiou

Sejarah berulang, pertama-tama sebagai tragedi,
kemudian sebagai banyolan
– Karl Marx

Advertisements
Posted in Essai, Sosial Budaya

Instan

Segala sesuatu membutuhkan waktu. Maka bersabarlah. Lalu atas nama modernitas dan kemajuan teknologi: apa-apa instan, apa-apa mau cepat. Lupakah Anda dengan kata: proses. Proses merupakan kata yang menautkan arti dengan berbagai permaknaan. Ada kesungguhan, persistensi, ketekunan, kesempurnaan, dan lain sebagainya.

Baiklah jadi begini: menjadi penulis memiliki paralelisme dengan menjadi koki. Ada bahan, ada keterampilan mengolah, ada waktu penyajian. Baik itu bagi penulis dan koki yang jelas segalanya butuh waktu hingga hidangan tergelar. Mempercepat reaksi pengerjaan dapat menjadi kacau balau dalam karya akhir. Dalam lingkup koki hasil masakan dapat menjadi tidak matang dengan sempurna. Sedangkan dalam lingkup penulis, logika antar paragraf dapat menjadi tidak terjalin utuh. Ketergesa-gesaan adalah buah dari pragmatisme. Buah dari ketergesa-gesaan dapat ditengok dari tulisan-tulisan yang berjajar. Baiklah ada luberan informasi kini, namun seberapa banyak yang memiliki mutu laik baca? Seorang rekan mengatakan bahwa hasil tulisan seperti mencuplik sana sini, copy paste sana sini. Yang hadir adalah generasi copy paste. Yang mungkin tidak memaknai dan mengerti utuh apa yang dituliskan.

Saya sendiri sebisa mungkin tidak terlampau kerap membaca bahan tulisan dari berita internet yang terlampau singkat. Kerap hanya judulnya yang bombastis, namun ketika dibaca isinya praktis kerontang. Saya pikir itu merupakan produk dari instanisme yang menjalar. Saling berlomba bersama waktu. Presisi dan kebenaran berita, nanti dulu. Dan kita dapat menjadi tergabung dalam siklus tersebut. Saran saya adalah bacalah karya-karya tulis yang memiliki kedalaman makna dan kata. Kita tiada sekadar tahu 5W + 1H saja. Kita mendapatkan narasi dan substansi. Jangan luluh menyerah tergoda dengan instanisme yang menyergap. Cicipi saja seperlunya menu tulisan instan. Jangan jadikan itu sebagai menu utama. Saya sendiri terkadang membaca entah itu running text, tautan di twitter, berita mini via portal berita, namun itu hanya mengambil sedikit sekali dari porsi membaca saya. Saya memilih untuk agak berlama mendapatkan berita, namun akurasi dan kelengkapan berita terdapati. Saya tidak mau menjadi penyantap ‘fast news’ akut.

Dengan prinsip konsumsi bacaan yang tidak instan itulah yang dalam pandangan saya akan berkorelasi dalam pola berpikir ataupun ketika menulis. Akan ada kehati-hatian dan peduli pada presisi berita. Analisa yang diajukan juga lebih komprehensif dan tidak sekadar ikut-ikutan mumpung beritanya masih hangat. Dalam lini menulis pun daya tulis akan memiliki daya lekat dan daya pikat yang lebih mendalam. Tulisan tidak akan sekadar melintas setelah dibaca lalu dihempaskan setelah itu. Saya sendiri secara personal kerap mengedit tulisan saya sebelum dipublikasi. Bagi saya ada prinsip kesempurnaan. Ada prinsip perbaikan. Dan itu semua merupakan muara dari antitesa kata instanisme.

Posted in Essai, Sosial Budaya

Si Konsumtif

Hei mari kemari. Lihat tumpukan yang dihasilkannya. Sekeranjang sampah. Tak berhenti sampai di situ saja. Ia juga membanggakan segala daya konsumsinya. Apakah hidup secetek itu? Sekadar memenuhi semangat mengkonsumsi. Lalu tujuan tertingginya adalah konsumsi rupa-rupa dengan semangat yang militan. Ah jangan-jangan ini bukan gejala satu, dua orang. Jangan-jangan ini adalah gejala endemik yang sudah meluas di suatu negeri.

Anda bisa tahu kadar kualitas seseorang dari apa yang dibelanjakannya. Anda juga dapat tahu kadar kualitas seseorang dari transformasi yang bisa dilakukannya. Transformasi dalam artian dari apa yang dikonsumsinya akankah menjadi produksi. Hanya bangsa yang memproduksi yang memiliki karakter. Hanya manusia yang memproduksi yang memiliki karakter. Mungkin itulah akarnya mengapa di negeri ini banyak pencela, komentator tiada penting. Besaran ceruk penduduk di negeri ini bukanlah produsen, melainkan hanya konsumen. Jadi seolah-olah hingga lahirnya suatu karya diremehkan. Padahal sampai terbitnya suatu karya membutuhkan suatu ‘keringat’, kerja tertentu.

Sekadar menjadi konsumen akan membuat otak tulalit bekerja. Tiada dibiasakan sport otak. Yang ironisnya sesama konsumen saling membanggakan apa yang dikonsumsinya. Ayolah saudara saudari sekalian, bangun dari lamunan kosong, kalian hanya mengkonsumsi. Rasanya tak elok berbangga dengan barang konsumsi. Perlombaan yang lebih elegan menurut hemat saya ialah perlombaan dalam memproduksi. Mari menghasilkan. Mari berkreativitas.

Tiada hari tanpa berkarya. Dengan itulah esensi kemanusiaan akan menjulang. Peran kekhalifahan di muka bumi akan terjalankan manakala kita berkarya. Maka ada manusia yang sepanjang hidupnya berkarya hingga dibuatkan museum atas namanya. Ada juga manusia yang nihilisme dalam berkarya dan sekadar mengkonsumsi dan mengkonsumsi.

Simaklah larik sajak dari Sutan Takdir Alisjahbana berikut:
Tetapi aku bertemu Tuhanku di siang-terang
Bila dunia ramai bergerak
Bila suara memenuhi udara
Bila nyata segala warna
Bila manusia sibuk bekerja
Hati jaga, mata terbuka
Sebab Tuhanku Tuhan segala gerak dan kerja

Jadi bermakna dengan berkarya. Sekali berarti sudah itu mati, seperti kata sajak Chairil Anwar.

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Tatanan

Apa yang dapat membuat hidup menjadi begitu membosankan? Saya pikir salah satu jawabannya adalah order atau tatanan yang tertata rapi. Yang sayangnya dalam kehidupan, kita kerap dipaksa untuk patuh 100% pada order. Tengok saja semenjak kita bersekolah. Hukuman bagi mereka yang datang terlambat. Alasan yang dirasionalisasikan adalah untuk membentuk disiplin. Ada juga peraturan seragam. Hukuman bagi mereka yang melanggar aturan seragam pun terjadi. Kotak, orbit, semenjak dini telah dicangkokkan dan dicekokkan. Sadarkah Anda itu diam-diam dan nyata-nyata dapat membunuh daya kreativitas Anda? Sadarkah Anda itu dapat membuat Anda menjadi pribadi yang tertebak dan membosankan.

Dalam pelajaran bahasa juga ditertibkan segala “keliaran berbahasa”. Yang diagungkan adalah tata bahasa yang baik dan benar. Baik ketika belajar bahasa Indonesia ataupun belajar bahasa Inggris. Alhasil membosankanlah pelajaran berbahasa. Kata baku, kalimat baku, cara membuat surat, dan sebagainya merupakan sampel. Ajaklah untuk terjun bebas ke kenikmatan dan legitnya berbahasa. Pelajari langsung karya sastra. Apakah Anda akan menemui tertib setertib-tertibnya dalam berbahasa? Saya percaya karya sastra yang memikat adalah yang mampu memainkan substansi berbahasa. Bahkan mungkin keluar dari jalur tata bahasa yang baku dan kaku itu. Ada daya dobrak, ada daya letup dalam sejumlah karya masterpiece. Ada kejalangan dalam karya-karya Chairil Anwar, ada keliaran dalam karya Sutardji Calzoem Bachri.

Kotak membelenggu lainnya adalah ketika bekerja. Tersebutlah dari jam 9-5. Skema partisi. Manusia coba diatur. Seperti rangkaian rumus yang harus patuh, lalu hasilnya akan terukur. Nyatanya kita bukanlah entitas yang mudah untuk diklasifikasikan, dikodifikasikan, distrukturisasi. Kita adalah makhluk hidup. Ada daya perlawanan disana. Ada energi disana. Dan itulah yang membuat kita hidup. Itulah yang membuat kita tidak membosankan.

Selalu ada chaos dalam setiap order. Dan chaos itu dibutuhkan. Chaos itulah yang membedakan kita dengan sekumpulan robot yang patuh itu. Selamat menjadi manusia.

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Savana

Harusnya aku tahu. Harusnya aku mengerti. Dia yang berbaju hitam menudungi cerah harimu. Membuatmu terluka jiwa. Entah kenapa kamu masih mencintainya. Meninggikan sanjung untuk dia. Masih percaya pada segala janji kumuhnya.

Pagi ini, kulihat lebam matamu.
“Terluka lagi?” kataku membuka cakap.
Kamu hanya tersenyum getir tanpa kata.
Kulepas kamu dalam pandangan.
*

Ini aku. Ini cintaku.

Tawanya memecah. Humor cerdasku mengena. Tak setiap orang dapat mencerna candaanku. Dibutuhkan kadar intelektual dan daya logika untuk menemukan unsur lelucon dari humorku.

Dan kami berpandangan. Senyum tipis masih mengelus nuansa udara. Kami cinta tanpa harus berkata-kata. Savana itu namanya. Disana tambatan jangkar hatiku membelitkan sulur.
*

“Harusnya kamu tinggalkan dia sejak lama,” ujarku sembari membantu bawa barang belanjaan paginya.
Savana menatap mataku. Sejurus ekspresinya tak terkatakan.
“Sudah cinta. Terlalu cinta,” ungkap Savana lirih.
Kulihat luka barunya. Lara yang tercetak dalam kulit putihnya.
*

Komidi putar. Sore hari. Lampu berwarna kuning senja. Tangan kami bergenggaman. Tawa kami bertukaran. Rona bahagia terpapar jelas di tiap garis tawanya. Bahagianya utuh. Tekadku bulat. Aku harus menghentikan luka nelangsa dari Savana. Aku harus menyelesaikan urusan dengan dia yang telah menorehkan seguncang kelu bagi Savana.
“Malam ini, ya malam ini,” ujarku dalam hati.
*

Apakah kalian pernah mengalami “soumatou”? Soumatou ialah fenomena yang terjadi menjelang kematian, yaitu saat beberapa momen tertentu dalam kehidupan berputar dalam ingatan. Kaca yang berhamburan, patahan kursi, darah yang mengaliri lantai. Savana meringkuk di ujung sofa sambil menangis sesunggukan. Tak jauh dari dirinya sebilah pisau dapur tergeletak bisu. Soumatou memberitahu segalanya. Mengingatkanku. Memanggil memori. Dia yang terkutuk adalah aku. Aku adalah dia. Di waktu terang, aku menjadi aku. Di waktu gelap, aku menjadi dia. Dia yang telah menorehkan seguncang kelu bagi Savana adalah aku. Di tubir kehidupanku aku mendekati Savana dengan nafas yang meletih. Memeluknya. Menenangkan risau jiwanya.

“Maafkan aku,” kataku.
“Pada akhirnya dia mati. Hanya aku yang tersisa,” kataku mencoba tersenyum, lalu membelai rambutnya.
Kami berpelukan. Tetap berpelukan. Saling mendengarkan denyut nadi masing-masing. Sampai akhirnya denyutku henti. Aku tamat dalam rasa cinta.

# Cerita ini terinspirasi dari video clip “Separuh Aku”

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Sepakbola

Gelar Ke-20 Bagi United

Apa yang tersisa di perjalanan waktu bagi United di musim ini adalah liga Inggris, maka rengkuhlah itu. Sir Alex Ferguson sempat berharap di musim kompetisi 2012-2013 ini anak asuhannya dapat mengulang sukses seperti di tahun 1999 dengan merebut treble winner di liga Inggris, piala FA, dan liga Champions. Namun fakta di lapangan berbicara lain. Manchester United harus tersingkir di babak 16 besar liga Champions. Hal yang tak dapat dilepaskan dari keputusan kontroversial wasit Cuneyt Cakir yang mengkartu merahkan Nani. Dan pasca dikartu merahkannya Nani arah pertarungan antara United versus Madrid pun menjadi tidak seimbang lagi. Dalam duel tim yang memiliki kompetensi ketat, segala detail kecil dapat menentukan. 11 lawan 10 orang tentu merupakan detail yang dapat menentukan hasil akhir pertandingan. United pun tersingkir dengan elegan dari liga Champions. Tak berlebihan jika Jose Mourinho berkata,”Tim terbaik kalah dan kami tidak layak menang.”

Manchester United di piala FA harus tersingkir dari rivalnya Chelsea. Sepertinya efek kekalahan dari Real Madrid masih berbekas di sekujur punggawa United. Bertanding melawan Chelsea di Old Trafford, United sempat unggul 2-0 hingga babak pertama usai. Namun di babak kedua, Chelsea menekan pedal gas, sementara The Red Devils menurun performanya. Gol Eden Hazard dan Ramires menyamakan keadaan. Hingga tanding ulang harus dilaksakanan di Stamford Bridge. Tanding ulang di markas Chelsea menyisakan luka bagi punggawa setan merah. Gol semata wayang dari Demba Ba memupus harapan dari Manchester United untuk menggenggam trofi Fa Cup yang terakhir diraih pada tahun 2004.

Perjalanan United untuk menjadi juara di liga Inggris ke-20 sendiri kini relatif terbuka lebar. Kekalahan Manchester City atas Tottenham Hotspur memberikan jalan lebih lapang bagi pasukan besutan Alex Ferguson untuk memenangi titel jawara liga Inggris yang ke-20. Dengan sisa 5 pertandingan, United praktis tinggal membutuhkan tiga poin untuk mensegel gelar juara. Adapun lima lawan terakhir dari United di musim ini adalah Aston Villa, Arsenal, Chelsea, Swansea, West Bromwich Albion. United berkesempatan untuk merayakan gelar juara di hadapan pendukungnya sendiri ketika menjamu Aston Villa. Tentunya Vidic cs ingin segera merayakan gelar juara di hadapan puluhan ribu pendukungnya sendiri. Sebuah gelar yang menjadi pelipur lara akan kegagalan di piala FA dan liga Champions. Tentunya musim depan, United akan berbenah untuk menambal lubang-lubang yang ada pada kelemahan timnya. Dan bukan tidak mungkin di musim depan, United mengulang kisah gemilang seperti di tahun 1999.

Posted in Essai, Politik

Kebosanan

Apa kiranya yang membuat demokrasi merupakan metode yang paling unggul dibandingkan dengan metode lainnya? Saya pikir salah satu alasannya ialah demokrasi memungkinkan untuk terjadinya sirkulasi elite. Demokrasi paralel dengan mekanisme kebosanan. Mari cocokkan dengan sistem otoriter. Anda tidak memiliki pilihan selain manut turut pada apa kata penguasa. Berbeda kiranya dengan demokrasi yang memberikan ruang bagi kontestasi nilai, kontestasi kandidat. Maka demokrasi memberikan geliat. Demokrasi menyajikan kedinamisan. Kita bisa mengambil contohnya pada demokrasi liberal yang dialami oleh Indonesia pada periode 1950-1959. Bagaimana hidup dan riuhnya kehidupan politik. Politik menjadi sesuatu yang menarik.

Era reformasi memberikan ruang bagi demokrasi. Bagaimana sirkulasi yang terjadi di panggung politik negeri. Tiga pemilu yang terjadi di era reformasi membawa kenyataan tiga pemenang. PDIP pada tahun 1999, Golkar pada tahun 2004, dan Demokrat pada tahun 2009. Persentase kemenangannya juga berada pada skema angka yang signifikan. Pada pemilu 1999, PDIP memperoleh 34%. Pada pemilu 2004, Golkar meraup 22%. Sedangkan pada pemilu 2009, partai Demokrat mendulang 20,8%. Perhelatan pemilu juga menunjukkan bagaimana movement dari pemilih terhadap partai politik yang dipilihnya. Rendahnya party ID di Indonesia yang hanya sebesar 20% di era reformasi, menunjukkan bagaimana basis asli dari sebuah partai di Indonesia cenderung tidak kukuh. Hal tersebut menyebabkan partai menuju ke tengah dan menjadi catch all party.

Membesarnya ceruk kelas menengah dan pemilih muda juga menyebabkan diksi ‘kebosanan’ menjadi relevan dengan politik. Kelas menengah dan pemilih muda merupakan kalangan yang cerewet. Dengan akses yang dimiliki, serta pasokan informasi yang didapatkan, maka kalangan tersebut lebih gahar dalam mengaktualisasikan narasi pendapatnya. Segala isu politik kontemporer dapat dengan segera di-echo-kan oleh mereka melalui jaringan sosial media. Di lingkup sosial media inilah terjadi saling pengaruh mempengaruhi. Disinilah rumusan politik bekerja. Bagaimana politik kerap lebih bicara soal persepsi dibandingkan dengan fakta. Sebut saja dengan kasus korupsi yang melanda sejumlah elite partai. Proses hukum masih berjalan, namun vonis dari masyarakat telah berjalan. Label salah bahkan telah dicap pada sejumlah elite tersebut mendahului fakta hukum yang sedang berjalan. Kebosanan jika tidak direspons oleh partai politik dapat berujung buruk. Sebut saja dengan ketidakpercayaan pada demokrasi dan parpol. Disinilah tugas parpol untuk tidak sekadar menjanjikan program, tapi mengaktualisasikan program. Melakukan karya nyata di tengah masyarakat. Dengan langkah itulah saya pikir masyarakat akan kembali menaruh percaya pada partai politik dan tidak antipati terhadap proses politik.