Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Pencuri Jiwa (1)

Apakah kau percaya pada cinta? Atau cinta hanyalah proyeksi semu dari kelemahan dan inter dependensi manusia. Aku yang berjalan di lorong-lorong gelap jalan cassanova akan memberi tahu kalian rahasiaku. Dan aku harap kalian dapat dengan bijak menyarikan panel-panel pemikiranku. Aku tahu ada distingsi antara kita. Antara aku si pemberi kabar, si penulis dengan kalian si penerima kabar, si pembaca. Ada perbedaan antara aku dan kau. Dan perbedaan itulah yang membuat penjelasan bagi banyak kata. Ada dominasi, yang tertindas; ada yang pintar, yang bodoh; ada sang pemenang, para pecundang. Kurasa aku cukupkan alinea awal ini, mari ikuti kisahku.

Namaku Rave
Profesiku pencuri

Hei..aku serius mengatakan bahwa profesiku adalah pencuri. Tapi biar kujelaskan pada kalian, aku bukanlah pencuri biasa. Bahkan aku bukan pencuri pada umumnya. Aku adalah pencuri istimewa. Yap aku rasa setiap dari kita harus mempunyai kecintaan terhadap profesi yang dijalani. Apakah kau cinta pada pekerjaanmu? Aku cinta pada pekerjaanku. Aku: Rave si pencuri. Apa yang kucuri? Tidakkah kalian bisa menebaknya? Aku mencuri kekuatan teristimewa dari manusia. Tentu saja aku manusia pula. Baiklah manusia dengan keunggulan lebih, atau sebuah kutukan?

Baiklah biar kujelaskan terlebih dahulu mengenai apa yang dapat aku curi. Aku mencuri kekutan teristimewa dari manusia. Dan kekuatan teristimewa dari manusia berbeda-beda. Ada yang memiliki kekuatan di bidang fisik seperti para atlet; ada yang di bidang ilmu seperti para intelektual; ada yang bidang seni seperti para sastrawan. Aku dapat mencuri kemampuan istimewa mereka. Baik itu keunggulan fisik, intelektual, seni, ataupun yang lainnya. Ketika aku berhasil mencuri kemampuan istimewa maka aku dapat menguasai kemampuan istimewa persis seperti orang yang kucuri. Adapun orang yang kucuri akan menjadi ‘kosong’.

‘Kosong’ adalah istilah yang menggambarkan bahwa kemampuan istimewa dari orang yang dicuri akan benar-benar kosong. Lenyap tak bersisa. Analoginya seperti ini. Engkau sebelumnya adalah si jenius ilmu fisika. Berbagai teori, pemecahan soal yang rumit mampu kau pecahkan. Kau adalah si jenius yang mampu menyelesaikan masalah sambil bersiul membersihkan sepatumu. Dan aku mencuri kekuatanmu. Dan kau menjadi ‘kosong’. Seluruh kemampuan fisikamu lenyap tak berbekas. Rumus dan soal sederhana pun tak mampu kau selesaikan. Lalu bagaimana dengan hidupmu setelah kehilangan kekuatan istimewamu? Dari mereka yang tercuri reaksi pun beragam dan tidak tipikal homogen.

Aku harap kau tidak menjadi hakim atas tindakanku mencuri ini. Mereka yang tercuri, ada yang menjadi gila, pesakitan, bunuh diri. Ada juga yang memulai lembaran hidup baru. Menemukan hobi baru, belajar hal-hal yang selama ini terabaikan, menikmati kebersamaan dengan orang-orang tercinta yang selama ini tersisihkan waktu. Oleh karena itu, aku harap kau tidak menjadi hakim atas tindakanku. Aku tahu banyak orang di luar sana yang menjadi hakim akan segala tindakan. Padahal apa sih yang mereka tahu? Memutuskan perkara adalah perihal yang rumit. Kau membutuhkan informasi yang komplet, juga kebijaksanaan dalam memutuskan.

Biar kuberitahu satu hal manusia yang kerap luput dari para penilai tindakan itu. Mereka alpa pada sejarah, riwayat hidup dari seseorang. Mereka dengan serampangan “mengetuk palu” dengan berbasiskan satu tindakan yang nyata terjadi. Mereka jarang bertanya mengapa si pelaku melakukan ini? Apa latar belakang si pelaku. Dan aku benci pada mereka yang “mengetuk palu” tanpa dasar sejarah. Kebencianku akan bertambah apabila para hakim juga mengabaikan riwayat hidup si pelaku. Mereka sibuk dengan pasal demi pasal, kronologi kejadian, cekcok pembela-terdakwa di ruang sidang. Banyak kiranya para hakim yang abai terhadap siapa sesungguhnya si pelaku.

Aku sendiri merupakan orang yang peduli pada siapa sesungguhnya si pelaku. Karena itu adalah bagian penting dari pekerjaanku. Untuk dapat mencuri kekuatan istimewa dari seseorang aku harus mengetahui siapa sesungguhnya orang tersebut. Tanpa pengetahuan detail asli mengenai siapa orang tersebut sesungguhnya, aku tidak akan dapat mencuri. Aku hanya dapat mencuri kekuatan istimewa, ketika orang yang kujadikan target dapat kuketahui rahasia-rahasia dari masa lalunya. Untuk mengetahui rahasia masa lalu target, aku dapat memperolehnya dari pengakuan lisan mereka ataupun bukti-bukti fisik seperti tulisan, ataupun karya mereka. Seperti detektif.

Aku dapat mencuri ketika mampu mengkonstruksi masa silam target. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah sobat. Aku harus memastikan masa silam target benar adanya. Hmm..dan kau pasti mafhum setiap dari kita memiliki kecenderungan untuk berbohong. Ada yang ingin mengubur masa lalunya, membangun cerita masa lalu yang palsu, dan serangkaian kekaburan tentang kebenaran era terdahulu. Aku harus memainkan banyak “kartu” untuk dapat menguak tabir masa lalu dari target. Dan aku bisa menjadi apa saja, aku bisa menjadi siapa saja bagi target.

Bersambung

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s