Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Pencuri Jiwa (2)

Aku adalah jiwa bagi banyak nama. Maka demi pekerjaanku, aku dapat menjalani “profesi” sebagai siapa saja. Aku dapat menjadi si penyair, politisi, petani, pacar rahasia, demi sebuah pencapaian:memperoleh kekuatan istimewa. Lalu apakah aku bergabung dalam satu payung besar bertitel profesi:pencuri kekuatan istimewa. Aku adalah pencuri yang bertindak merdeka. Sebenarnya ada 1 organisasi besar yang menaungi mereka-mereka para pencuri kekuatan istimewa. Nama organisasinya ialah Tier. Namun jalannya Tier tidak begitu mulus. Sukar bukan untuk menyatukan orang-orang dalam satu organisasi. Jangankan kami yang para pencuri ini, mereka yang konon katanya suci saja hobi bertikai dalam satu tubuh organisasi.

Tier lebih seperti organisasi yang sekedar mempertemukan para pencuri jiwa. Oh iya, ke depannya aku sepertinya akan menyingkat penggunaan istilah pencuri kekuatan istimewa menjadi pencuri jiwa. Alasannya untuk menghemat penggunaan kata dan alasan artistik. Pencuri jiwa sendiri memiliki macam karakter, tipikal, motif. Ya bukankah manusia beragam dan tidak semuanya sama. Ada pencuri jiwa yang menurutku gila karena mencuri kekuatan istimewa tanpa ampun. Obsesinya ialah melibas mereka yang memiliki kekuatan istimewa. Ada pula pencuri jiwa yang motifnya ialah mendapatkan keuntungan. Ada klien yang membayar pencuri jiwa untuk “mengkosongkan” orang. Mengkosongkan orang sendiri berarti menghabiskan kekuatan istimewa dari seseorang. Biasanya ada muatan rivalitas antara klien dengan target.

Bagaimana dengan diriku? Aku sendiri harus mencari makan dan kebutuhan sosial lainnya. Maka aku menerima pesanan pencurian dari klien yang ingin memuaskan nafsu rivalitas. Hei..bayaran untuk pekerjaan pencurian ini benar-benar berselera secara sejahtera. Aku sendiri secara finansial lebih dari cukup. Aku memiliki rumah peristirahatan di dataran tinggi. Tempat tersebut menjadi tetirah bagiku, jika lelah menghinggapi dan aku membutuhkan vakansi.

Dengan kekayaan juga aku dapat melakukan penetrasi ke berbagai lapisan di masyarakat. Dengan kokohnya finansialku maka aku dapat melakukan riset. Aku suka membaca tentu saja. Dan dengan literasi tertulis aku memegang kunci pengetahuan. Aku dapat menghemat waktu, dekat dengan target manakala aku memiliki basis pengetahuan yang memadai.

Lupa adalah bagian dari manusia. Dan setiap target yang berhasil dicuri kemampuan istimewanya akan lupa terhadap si pencuri jiwa. Seberapa dekat pun hubungan antara target dengan si pencuri jiwa, ketika pencurian berhasil, maka target akan lupa 100% kepada si pencuri. Jika suatu waktu berpapasan antara pencuri jiwa dengan target, maka dapat dipastikan si target akan memandang si pencuri sebagai orang yang tak dikenalnya.

Kami, para pencuri jiwa, seperti para nomaden. Yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyerap kemampuan istimewa. Tidak semuanya sih menjadi nomaden. Pada beberapa orang (terutama para pencuri jiwa yang sudah berumur) lebih memilih untuk tinggal di satu kota atau desa. Aku sendiri lebih memilih menjadi nomaden. Ada beberapa alasan, tentu saja. Aku masih muda, gemar berpetualang, dan aku bosan dengan stagnasi.

Berada di satu tempat, dalam jangka waktu yang panjang, bagiku akan sangat menjemukan. Dengan perjalanan ke banyak daerah, aku menemukan gairah, semangat. Di samping itu ini kesempatanku untuk menjelajahi bumi. Dan sebagai penjelajah yang telah mengarungi ribuan kilometer, menemui variasi orang, aku beritahu kalian satu rahasia. Dimanapun tempatnya akan kau temui senandung duka dan gembira. Akan kau temui sifat manusia yang multiragam (si culas, si dermawan, si licik, si penyayang, si munafik, dan sebagainya).

Dan lagi dengan bermuhibah ke banyak tempat, aku menemui tantangan-tantangan yang seakan tiada habisnya. Aku benci dengan segala keterikatan. Termasuk keterikatan pada tempat. Maka perjalananku dari satu tempat ke tempat yang lain, merupakan upaya untuk tidak terikat. Aku ingin bebas, merdeka. Dengan perjalananku ke berbagai tempat, aku bebas untuk mengenakan berbagai topeng. Aku dapat menyamar intuk mendekati target dengan berbagai samaran profesi. Lalu bagaimana aku menghayati karakter profesi? Literatur jawabnya.

Kekayaan selalu punya cara tersendiri untuk menjawab permasalahan. Maka kekayaanku sesungguhnya merupakan bagian besar dari upaya menjawab permasalahan. Tetapi jangan kalian pikir aku seperti orang-orang bening hati yang membagikan derma kepada mereka yang papa. Menurutku ada bagian dari mereka yang papa layak untuk tidak ditolong. Bagian itu adalah yang berusaha sekedarnya dan seolah takdir telah menetapkan mereka akan tergaris sebagai si miskin. Lalu fungsi sosial apa yang kujalankan dengan kekayaanku? Aku adalah intelektual bayangan. Dan aku bisa katakan itulah fungsi sosial yang kujalani.

Intelektual bayangan yang kumaksudkan ialah aku rajin mendiseminasi gagasan dalam bentuk literasi. Aku memiliki nama pena yakni Roam. Roam sendiri dalam dunia keseharian merupakan sosok yang benar adanya. Roam adalah pengajar di universitas historica. Roam sendiri memiliki basis ilmu sejarah. Aku dan Roam sendiri adalah kisah yang unik. Roam sesungguhnya adalah target dari pencurian jiwaku. Hmm..ingatkan aku untuk menuliskan kisahku dan Roam nanti. Pendek kata, aku si pencuri jiwa, Roam si target. Aku berhasil mencuri dari Roam. Roam lalu “kosong”. Namun berbilang tahun kemudian takdir mempertemukan kami. Dengan cara misterius tersendiri, aku dan Roam kembali bersahabat. Aku jujur mengenai profesiku dan aku mengaku mencuri kemampuan istimewa dari Roam. Roam dan aku setuju pada satu paket perjanjian. Aku akan menjadi penulis hantu dari artikel-artikel Roam yang dipublikasikan ke khalayak luas.

Bersambung

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s