Posted in Politik, puisi, sastra, Sejarah

Pecut

Dia yang bertahta atas nama kata
Lalu serentak segala sekrup-sekrup negara pun harus di bawah kendali sang konduktor
Dia yang seolah dewa
Menatap pergerakan manusia-manusia kecil di lembah, di bangunan-bangunan bertingkat
Pecut dan anggur di tangannya yang bersebrangan

Dia adalah hegemoni
Maka oposisi dalam kata dan perbuatan adalah kerikil-kerikil yang mesti ditindas
Karena kata-katanya adalah hukum
Maka mendekamlah para pemberontak, oposan dalam hotel prodeo

Senyumnya manis seperti protagonis di waktu pagi
Saat malam dia mengemasi nuraninya
Di meja makan, bersama hidangan yang bertumpukan
Ia menitahkan pemusnahan kebebasan pikir

“Rakyat tak perlu berpikir rumit”
“Rakyat hanya harus percaya”
“Kami-kami ini bekerja sungguh”
“Menemui hak dan mimpi kalian wahai jelata”

Cerutu gerutu kelas menengah
Bisik-bisik warung kopi di lapis proletar
Bahkan udara dapat mengkhianatimu
Telik sandi seribu wajah
Yang duduk bersama kalian
Yang tertawa bersama kalian
Yang berbagi korek bersama kalian
Yang berperawakan seperti kita-kita
Rubah yang merubah kata

Gerutu menjadi hasutan untuk melawan
Bisik-bisik menjadi suara terkutuk dalam partitur suci pembangunan
Ah…lihatlah gerebek sana..gerebek sini
Tangkap sana..tangkap sini
Ada yang menghilang tanpa jejak
Ada yang menghilang entah kemana
Konon mereka adalah pemberontak
Konon mereka adalah perusak haluan pikir
Benarkah?
Kita tak pernah tahu
Atau tak usahlah mencari tahu

Manusia yang membeo
Terjajah domain pikir
Belenggu tanpa atap
Yang mati adalah hasrat melawan
Yang mati adalah keberanian untuk berkata: tidak
Yang mati adalah keberanian untuk berkata: cukup semua ini

Lalu sepi
Lalu mati
Lalu sunyi
Hati nurani

Bibir ini, bibir penguasa
Lidah ini satu jurusan, satu komando
Jalan pikiran satu arah

Tak ada alternatif
Yang ada hanya jawaban necis kaku
Tak perlu salah untuk bersalah

Kata membunuh kata
Menyabit ingatan kolektif
Memasok dengan ilusi ksatria sang diktator
Kudeta dalam ingatan

Kami yang berjajar di ladang negeri ini adalah korban
Pikiran yang terkontaminasi
Dosis berani yang tereduksi
Lidah kami terikat
Tangan kami terbelenggu
Kami mati tanpa algojo bertopeng
Karena logika pikir kami telah disembelih
Di negeri ini
Di negeri tanpa nama ini
Atau inikah negerimu?

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s