Posted in Essai, Politik

Kebosanan

Apa kiranya yang membuat demokrasi merupakan metode yang paling unggul dibandingkan dengan metode lainnya? Saya pikir salah satu alasannya ialah demokrasi memungkinkan untuk terjadinya sirkulasi elite. Demokrasi paralel dengan mekanisme kebosanan. Mari cocokkan dengan sistem otoriter. Anda tidak memiliki pilihan selain manut turut pada apa kata penguasa. Berbeda kiranya dengan demokrasi yang memberikan ruang bagi kontestasi nilai, kontestasi kandidat. Maka demokrasi memberikan geliat. Demokrasi menyajikan kedinamisan. Kita bisa mengambil contohnya pada demokrasi liberal yang dialami oleh Indonesia pada periode 1950-1959. Bagaimana hidup dan riuhnya kehidupan politik. Politik menjadi sesuatu yang menarik.

Era reformasi memberikan ruang bagi demokrasi. Bagaimana sirkulasi yang terjadi di panggung politik negeri. Tiga pemilu yang terjadi di era reformasi membawa kenyataan tiga pemenang. PDIP pada tahun 1999, Golkar pada tahun 2004, dan Demokrat pada tahun 2009. Persentase kemenangannya juga berada pada skema angka yang signifikan. Pada pemilu 1999, PDIP memperoleh 34%. Pada pemilu 2004, Golkar meraup 22%. Sedangkan pada pemilu 2009, partai Demokrat mendulang 20,8%. Perhelatan pemilu juga menunjukkan bagaimana movement dari pemilih terhadap partai politik yang dipilihnya. Rendahnya party ID di Indonesia yang hanya sebesar 20% di era reformasi, menunjukkan bagaimana basis asli dari sebuah partai di Indonesia cenderung tidak kukuh. Hal tersebut menyebabkan partai menuju ke tengah dan menjadi catch all party.

Membesarnya ceruk kelas menengah dan pemilih muda juga menyebabkan diksi ‘kebosanan’ menjadi relevan dengan politik. Kelas menengah dan pemilih muda merupakan kalangan yang cerewet. Dengan akses yang dimiliki, serta pasokan informasi yang didapatkan, maka kalangan tersebut lebih gahar dalam mengaktualisasikan narasi pendapatnya. Segala isu politik kontemporer dapat dengan segera di-echo-kan oleh mereka melalui jaringan sosial media. Di lingkup sosial media inilah terjadi saling pengaruh mempengaruhi. Disinilah rumusan politik bekerja. Bagaimana politik kerap lebih bicara soal persepsi dibandingkan dengan fakta. Sebut saja dengan kasus korupsi yang melanda sejumlah elite partai. Proses hukum masih berjalan, namun vonis dari masyarakat telah berjalan. Label salah bahkan telah dicap pada sejumlah elite tersebut mendahului fakta hukum yang sedang berjalan. Kebosanan jika tidak direspons oleh partai politik dapat berujung buruk. Sebut saja dengan ketidakpercayaan pada demokrasi dan parpol. Disinilah tugas parpol untuk tidak sekadar menjanjikan program, tapi mengaktualisasikan program. Melakukan karya nyata di tengah masyarakat. Dengan langkah itulah saya pikir masyarakat akan kembali menaruh percaya pada partai politik dan tidak antipati terhadap proses politik.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s