Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Savana

Harusnya aku tahu. Harusnya aku mengerti. Dia yang berbaju hitam menudungi cerah harimu. Membuatmu terluka jiwa. Entah kenapa kamu masih mencintainya. Meninggikan sanjung untuk dia. Masih percaya pada segala janji kumuhnya.

Pagi ini, kulihat lebam matamu.
“Terluka lagi?” kataku membuka cakap.
Kamu hanya tersenyum getir tanpa kata.
Kulepas kamu dalam pandangan.
*

Ini aku. Ini cintaku.

Tawanya memecah. Humor cerdasku mengena. Tak setiap orang dapat mencerna candaanku. Dibutuhkan kadar intelektual dan daya logika untuk menemukan unsur lelucon dari humorku.

Dan kami berpandangan. Senyum tipis masih mengelus nuansa udara. Kami cinta tanpa harus berkata-kata. Savana itu namanya. Disana tambatan jangkar hatiku membelitkan sulur.
*

“Harusnya kamu tinggalkan dia sejak lama,” ujarku sembari membantu bawa barang belanjaan paginya.
Savana menatap mataku. Sejurus ekspresinya tak terkatakan.
“Sudah cinta. Terlalu cinta,” ungkap Savana lirih.
Kulihat luka barunya. Lara yang tercetak dalam kulit putihnya.
*

Komidi putar. Sore hari. Lampu berwarna kuning senja. Tangan kami bergenggaman. Tawa kami bertukaran. Rona bahagia terpapar jelas di tiap garis tawanya. Bahagianya utuh. Tekadku bulat. Aku harus menghentikan luka nelangsa dari Savana. Aku harus menyelesaikan urusan dengan dia yang telah menorehkan seguncang kelu bagi Savana.
“Malam ini, ya malam ini,” ujarku dalam hati.
*

Apakah kalian pernah mengalami “soumatou”? Soumatou ialah fenomena yang terjadi menjelang kematian, yaitu saat beberapa momen tertentu dalam kehidupan berputar dalam ingatan. Kaca yang berhamburan, patahan kursi, darah yang mengaliri lantai. Savana meringkuk di ujung sofa sambil menangis sesunggukan. Tak jauh dari dirinya sebilah pisau dapur tergeletak bisu. Soumatou memberitahu segalanya. Mengingatkanku. Memanggil memori. Dia yang terkutuk adalah aku. Aku adalah dia. Di waktu terang, aku menjadi aku. Di waktu gelap, aku menjadi dia. Dia yang telah menorehkan seguncang kelu bagi Savana adalah aku. Di tubir kehidupanku aku mendekati Savana dengan nafas yang meletih. Memeluknya. Menenangkan risau jiwanya.

“Maafkan aku,” kataku.
“Pada akhirnya dia mati. Hanya aku yang tersisa,” kataku mencoba tersenyum, lalu membelai rambutnya.
Kami berpelukan. Tetap berpelukan. Saling mendengarkan denyut nadi masing-masing. Sampai akhirnya denyutku henti. Aku tamat dalam rasa cinta.

# Cerita ini terinspirasi dari video clip “Separuh Aku”

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s