Posted in Essai, Sosial Budaya

Si Konsumtif

Hei mari kemari. Lihat tumpukan yang dihasilkannya. Sekeranjang sampah. Tak berhenti sampai di situ saja. Ia juga membanggakan segala daya konsumsinya. Apakah hidup secetek itu? Sekadar memenuhi semangat mengkonsumsi. Lalu tujuan tertingginya adalah konsumsi rupa-rupa dengan semangat yang militan. Ah jangan-jangan ini bukan gejala satu, dua orang. Jangan-jangan ini adalah gejala endemik yang sudah meluas di suatu negeri.

Anda bisa tahu kadar kualitas seseorang dari apa yang dibelanjakannya. Anda juga dapat tahu kadar kualitas seseorang dari transformasi yang bisa dilakukannya. Transformasi dalam artian dari apa yang dikonsumsinya akankah menjadi produksi. Hanya bangsa yang memproduksi yang memiliki karakter. Hanya manusia yang memproduksi yang memiliki karakter. Mungkin itulah akarnya mengapa di negeri ini banyak pencela, komentator tiada penting. Besaran ceruk penduduk di negeri ini bukanlah produsen, melainkan hanya konsumen. Jadi seolah-olah hingga lahirnya suatu karya diremehkan. Padahal sampai terbitnya suatu karya membutuhkan suatu ‘keringat’, kerja tertentu.

Sekadar menjadi konsumen akan membuat otak tulalit bekerja. Tiada dibiasakan sport otak. Yang ironisnya sesama konsumen saling membanggakan apa yang dikonsumsinya. Ayolah saudara saudari sekalian, bangun dari lamunan kosong, kalian hanya mengkonsumsi. Rasanya tak elok berbangga dengan barang konsumsi. Perlombaan yang lebih elegan menurut hemat saya ialah perlombaan dalam memproduksi. Mari menghasilkan. Mari berkreativitas.

Tiada hari tanpa berkarya. Dengan itulah esensi kemanusiaan akan menjulang. Peran kekhalifahan di muka bumi akan terjalankan manakala kita berkarya. Maka ada manusia yang sepanjang hidupnya berkarya hingga dibuatkan museum atas namanya. Ada juga manusia yang nihilisme dalam berkarya dan sekadar mengkonsumsi dan mengkonsumsi.

Simaklah larik sajak dari Sutan Takdir Alisjahbana berikut:
Tetapi aku bertemu Tuhanku di siang-terang
Bila dunia ramai bergerak
Bila suara memenuhi udara
Bila nyata segala warna
Bila manusia sibuk bekerja
Hati jaga, mata terbuka
Sebab Tuhanku Tuhan segala gerak dan kerja

Jadi bermakna dengan berkarya. Sekali berarti sudah itu mati, seperti kata sajak Chairil Anwar.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s