Posted in Essai, Sosial Budaya

Instan

Segala sesuatu membutuhkan waktu. Maka bersabarlah. Lalu atas nama modernitas dan kemajuan teknologi: apa-apa instan, apa-apa mau cepat. Lupakah Anda dengan kata: proses. Proses merupakan kata yang menautkan arti dengan berbagai permaknaan. Ada kesungguhan, persistensi, ketekunan, kesempurnaan, dan lain sebagainya.

Baiklah jadi begini: menjadi penulis memiliki paralelisme dengan menjadi koki. Ada bahan, ada keterampilan mengolah, ada waktu penyajian. Baik itu bagi penulis dan koki yang jelas segalanya butuh waktu hingga hidangan tergelar. Mempercepat reaksi pengerjaan dapat menjadi kacau balau dalam karya akhir. Dalam lingkup koki hasil masakan dapat menjadi tidak matang dengan sempurna. Sedangkan dalam lingkup penulis, logika antar paragraf dapat menjadi tidak terjalin utuh. Ketergesa-gesaan adalah buah dari pragmatisme. Buah dari ketergesa-gesaan dapat ditengok dari tulisan-tulisan yang berjajar. Baiklah ada luberan informasi kini, namun seberapa banyak yang memiliki mutu laik baca? Seorang rekan mengatakan bahwa hasil tulisan seperti mencuplik sana sini, copy paste sana sini. Yang hadir adalah generasi copy paste. Yang mungkin tidak memaknai dan mengerti utuh apa yang dituliskan.

Saya sendiri sebisa mungkin tidak terlampau kerap membaca bahan tulisan dari berita internet yang terlampau singkat. Kerap hanya judulnya yang bombastis, namun ketika dibaca isinya praktis kerontang. Saya pikir itu merupakan produk dari instanisme yang menjalar. Saling berlomba bersama waktu. Presisi dan kebenaran berita, nanti dulu. Dan kita dapat menjadi tergabung dalam siklus tersebut. Saran saya adalah bacalah karya-karya tulis yang memiliki kedalaman makna dan kata. Kita tiada sekadar tahu 5W + 1H saja. Kita mendapatkan narasi dan substansi. Jangan luluh menyerah tergoda dengan instanisme yang menyergap. Cicipi saja seperlunya menu tulisan instan. Jangan jadikan itu sebagai menu utama. Saya sendiri terkadang membaca entah itu running text, tautan di twitter, berita mini via portal berita, namun itu hanya mengambil sedikit sekali dari porsi membaca saya. Saya memilih untuk agak berlama mendapatkan berita, namun akurasi dan kelengkapan berita terdapati. Saya tidak mau menjadi penyantap ‘fast news’ akut.

Dengan prinsip konsumsi bacaan yang tidak instan itulah yang dalam pandangan saya akan berkorelasi dalam pola berpikir ataupun ketika menulis. Akan ada kehati-hatian dan peduli pada presisi berita. Analisa yang diajukan juga lebih komprehensif dan tidak sekadar ikut-ikutan mumpung beritanya masih hangat. Dalam lini menulis pun daya tulis akan memiliki daya lekat dan daya pikat yang lebih mendalam. Tulisan tidak akan sekadar melintas setelah dibaca lalu dihempaskan setelah itu. Saya sendiri secara personal kerap mengedit tulisan saya sebelum dipublikasi. Bagi saya ada prinsip kesempurnaan. Ada prinsip perbaikan. Dan itu semua merupakan muara dari antitesa kata instanisme.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s