Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Selamat Ulang Tahun

Lilin-lilin itu menyepi. Lilin-lilin itu menepi. Jarum jam yang berdetak. Ruang di kamar. Ruang-ruang di kepala. Pria dalam lamunan. Ia hanya melihat sekilasan rangkaian ucapan selamat ulang tahun di dinding facebook, di laman twitter, di ponsel canggihnya. Nama itu belum mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya. Ia tertunduk sepi. Ia tertunduk sendiri. Waktu menunjukkan pukul 23.03 di hari ulang tahunnya, nama itu masih belum mengujarkan selamat ulang tahun. Ia masih menunggu. 23.59, ucapan itu tak kunjung tiba. Hari, tanggal di kalender berganti, nama itu masih belum mengucapkan sepatah kata pun ucapan personal padanya.

Ia bangun tidur dalam rasa resah yang tak terkatakan. Semua aliran kekayaan yang membungkus dirinya seakan kehilangan magma, tanpa ucapan personal di hari besarnya. Setiap kita memiliki momen personal. Dan di momen personal itu, ia ingin sebenar-benarnya sang seseorang menerakan rangkaian kata-kata personal. Kata-kata personal seperti DNA. Ada keunikan. Ada tekstur jiwa yang tak tergantikan.

Ia membuka laptopnya. Hanya ada satu nama di kepalanya. Lema lainnya meluruh. Ia mengetik nama itu bagaikan siswa yang terkena detensi di sekolah. Kirana..Kirana..Kirana..Kirana..Kirana..Kirana..Kirana.., terus seperti itu. Lema ‘Kirana’ diduplikasi terus menerus.

Kirana adalah cinta bagi pria itu. Kirana adalah cerita bagi pria itu. Cobalah kau tanyakan pada dirinya tentang Kirana. Gesture-nya akan berubah. Ia akan seperti pendongeng ulung. Perawakan fisik Kirana akan didedahkannya pada kita dengan mata berbinar. Ia akan sesekali tertawa begitu menceritakan momentum kebersamaan dengan Kirana. Ia akan merepetisi kata ‘cinta’ di udara begitu bertutur tentang saat-saat kebersamaan mereka. Kirana adalah dunianya. Dunianya adalah Kirana.

Ini sudah seperti kunjungan rutin bagiku. Datang di waktu yang sama selama 7 tahun terakhir. 30 dan 31 Desember. Pria itu berulangtahun di tanggal 30 Desember. Dan dia kehilangan tunangannya di tanggal 31 Desember. Tunangannya mati bunuh diri karena depresi dengan kehidupannya. Kirana yang ternyata tak sesempurna yang diceritakan pria di hadapanku ini. Kirana yang ternyata punya sisi gelap yang sebelumnya disimpan rapat-rapat. Kirana yang memiliki rahasianya sendiri. Dan pria di hadapanku ini, masih percaya pada persepsi yang dibangunnya dan diciptakannya. Ia menolak realita. Ia menolak Kirana yang tak sempurna. Ia mendefinisikan Kirana hanya dari sisi cerahnya. Sisi yang terkena sorot lampu. Sisi yang indah dan baik-baik.

Aku adalah psikolog. Dan pria ini adalah pasien tetapku. Ia normal dari tanggal 1 Januari-29 Desember. Hanya di momentum 30 dan 31 Desember, ia memerlukanku disini. Sekadar mendengar ceritanya. Sekadar mendengar kisahnya. Ia menolak percaya kisah nyata Kirana dan tragis kisahnya. Pada beberapa hal, ia menciptakan ilusi tentang Kirana dan menganggapnya kenyataan yang sebenarnya.

Sudah 7 tahun terakhir, ketika dunia merayakan tahun yang berganti, aku tersegarkan dengan sebuah konklusi. Konklusi bahwa manusia hidup diantara retakan ilusi yang diciptakannya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Sosial Budaya

Seniman Kata-Kata

Apakah manusia adalah mesin-mesin produksi? Ketika kapitalisme telah menyeruak ke berbagai sendi, maka manusia kerap difungsikan sebagai unit produksi yang bagaikan mesin-mesin produksi. Bagaimana dengan wartawan? Yang menghasilkan sekian banyak kata bagi pemenuhan berita. Ada wartawan koran, ada juga wartawan yang bergerak di media digital. Speed dari wartawan yang bergerak di media digital lebih cepat adanya. Dalam sehari wartawan di media digital harus menyetorkan sekian tulisan. Dengan teknologi informasi yang berkembang selama ini turut menyumbangkan menu pola konsumsi terhadap berita. Berita kini dapat diakses melalui ponsel pintar, laptop. Dengan kecepatan pemberitaan yang lebih cepat dibandingkan koran harian. Tuntutan kompetisi dan kecepatan ini berkorelasi pada hasil kerja dari wartawan. Terkadang berita yang belum cukup terverifikasi telah tersebar ke domain publik. Wartawan pun bagaikan mesin-mesin produksi yang menghasilkan produk berupa kata-kata.

Lalu masihkah ada tempat bagi seniman kata-kata? Dengan pecut kapitalisme, kecepatan, saya pikir masih ada ruang bagi seniman kata-kata. Dahulu ketika saya mengikuti test menjadi wartawan Republika, syarat yang diajukan adalah sarjana dari berbagai jurusan. Saya pun pernah berbincang dengan rekan saya perihal hal tersebut. Rekan saya menyatakan bahwa menjadi wartawan tidak memerlukan keahlian menulis yang benar-benar expert. Kemampuan menulis dapat dilatih, oleh karena itu menurut rekan saya tersebut, syarat untuk menjadi wartawan memberikan ruang bagi berbagai sarjana dari berbagai disiplin ilmu.

Saya pikir selalu ada ruang bagi seniman kata-kata. Publik tentu tidak hanya membutuhkan karya dari para ‘mesin kata-kata’. Publik membutuhkan kedalaman dari karya, jiwa seni dari kata. Itulah kiranya yang membuat saya percaya bahwa ragam karya yang memiliki sisi artistik, kedalaman kata, dan tidak sekadar cepat, akan tetap memiliki pangsa pasarnya tersendiri.

Dalam perspektif saya ‘seniman kata-kata’ itu dapat ditemui misalnya pada Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad. Bagaimana ragam permasalahan dapat didedah oleh Goenawan dalam balutan kata-kata yang sastra. Bagaimana pilihan kata yang mampu tampil secara dramatik. Karya yang muncul dari ‘seniman kata-kata’ juga saya dapatkan dari majalah Tempo. Bagaimana ragam permasalahan sosial politik mampu dikemas dengan pembahasaan yang sastrais.

Pada akhirnya saya percaya untuk lahirnya karya membutuhkan waktu. Pun begitu dengan karya tulis yang baik. Dan waktu yang lebih leluasa dengan kapitalisme inilah yang kerap tidak akur berada dalam gerbong yang sama. Disinilah saya percaya setiap dari kita memiliki daya untuk memilih. Misalnya dengan men-share karya yang memiliki kedalaman investigasi, lema yang sastrais di sosial media yang kita miliki. Sebagai konsumen kita memiliki daya untuk membaca dan tidak membaca karya tulis yang ada. Dan pilihan kita tersebut akan berkorelasi pada kualitas hidangan tulisan.

Saya tidak sedang mengutuk dan merutuk positioning dari ‘mesin kata-kata’. Namun saya percaya adanya bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang lebih untuk dunia bacaan yang beredar. Kecepatan bukan segala-galanya. Jadi selamat menikmati karya dari ‘mesin kata-kata’ dan ‘seniman kata-kata’.

Posted in Politik, puisi, sastra

Kukira Kamu Pahlawan

Kukira kamu pahlawan
Senyummu taklukkan hati-hati yang bimbang
Kukira kamu pahlawan
Tanganmu bergerak di pelosok gang
Kukira kamu pahlawan
Baliho, spanduk, iklan televisi, semua tentangmu

Kukira kamu pahlawan
Namamu hiasi headline media tiap kali
Kata-katamu diuji
Kata-katamu dipuji
Kukira kamu pahlawan
Kaus, rakyat yang menyerukan namamu

Kukira kamu pahlawan
Elektabilitas, lekat kata harapan disematkan para pengamat
Kukira kamu pahlawan
Di tengah gerontokrasi negeri
Kukira kamu pahlawan
Di bising politisi tanggung gila panggung
Kukira kamu pahlawan
Harapan di tengah bisu

Kukira kamu pahlawan
Sampai terang segala warna
Pupur media yang membedakimu
Memanipulasi pikiran dan persepsi
Kamu tak lebih dari badut baru
Yang berakrobat bersama kata

Ah rakyat..
Kecut lagi..
Kecut lagi..

Posted in Essai, Politik

Reformasi 15 Tahun

Skema perubahan selalu memiliki logika tersendiri. 15 tahun yang lalu, gedung rakyat yang selama ini hening menjadi wahana segenap mahasiswa dari berbagai penjuru negeri untuk menarasikan kata ‘reformasi’. Negeri ini tengah berada dalam bifurkasi 15 tahun lalu. Bukan perkara yang mudah memang. Dibekuk keadaan ekonomi yang melambungkan harga sembako, kerusuhan yang memantik api dimana-mana. 15 tahun lalu negeri ini berada dalam suhu meningkat. Perahu negeri ini dapat karam. Saling tikam antar anak bangsa dapat terjadi. Reformasi dapat menjadi jalan bagi darah yang tertumpah dan masalah yang berlarut tak kunjung usai.

Disini kita berada 15 tahun kemudian. Lebih dari 1 dekade. Milan Kundera menyatakan bahwa ‘perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa’. Jarak 15 tahun mungkin telah membuat kita melupakan segala amanat reformasi. Mereka yang dulunya ongkang-ongkang kaki di poros status quo, menyesap madu status quo, kini dapat berteriak perubahan. Seolah-olah tiada noda Orde Baru yang tersampir di dirinya.

Waktu, dapat menyurutkan mimpi-mimpi kita. Kita jadi pragmatis. Kita sekadar menyelamatkan sekoci masing-masing. Apa kabar korupsi, kolusi, nepotisme? Yang 15 tahun silam dikutuk, hingga kini tetap menjalar, melakukan mutasi dan sejumlah penyesuaian. Korupsi, kolusi, nepotisme belum benar-benar mati di negeri ini. Melalui gerbong demokrasi, korupsi, kolusi, nepotisme, tetap berkibar. Beberapa dengan narasi baru. Beberapa dengan alasan baru. Namun tetap saja, sekali busuk tetap busuk. Perilaku busuk tidak dapat dikemas menjadi suci dengan pembenaran atau penarasian melalui logika tertentu.

Revolusi, reformasi, dapat menjadi kata yang amis bersama waktu. Didengungkan, diingatkan, diseminarkan, namun tetap saja substansinya kehilangan arah. Pelaku-pelakunya menjadi amnesia amanah. Dan rakyat yang seolah-olah semakin cerdas, tetap saja terbuai dengan ilusi, perkara yang tidak substansial. 15 tahun lalu bukan sekadar memori. Itu adalah panggilan mimpi. Untuk kembali meneguhkan asa: reformasi belum tuntas di negeri ini.

Posted in Essai, Sosial Budaya, Teknologi

Teknologi Substansial

Baiklah saya bukanlah pengikut yang baik bagi segala teknologi yang berkembang. Pada beberapa hal saya merasa seperti orang yang berada dari ceruk waktu masa lalu. Saya menyukai rupa-rupa yang bernuansa oldies. Seakan ada ke-wow-an tertentu dari segala yang bernuansa jadul. Maka disinilah saya dengan segala kesederhanaan teknologi.

Berinteraksi dengan ragam manusia menjelaskan berbagai sudut pandang. Dan saya kerap menemui orang yang mengunggulkan teknologi. Dalam perbincangan, keluarlah segala macam perangkat teknologi terbaru, kelebihannya, dan segala macamnya. Dan kadang mereka berbangga dengan sophisticated dan kecanggihan teknologi tersebut. Saya pun menghadirkan tanya dalam benak: Apakah teknologi itu dapat menunjang karya? Apakah mereka tak lebih dari kelompok yang berbangga sebagai konsumen?

Baiklah apakah segala perangkat teknologi yang canggih itu berkorelasi positif terhadap karya? Saya pikir kehadiran manusia di bumi ini adalah untuk berkarya. Jangan-jangan perangkat canggih itu lebih merupakan prestise, bahkan dapat mengganggu kinerja. Kemudahan untuk berselancar di dunia maya misalnya dapat menjadi distraksi yang handal bagi pengerjaan sebuah karya. Saya pribadi ketika membuat tulisan, kerap ‘memutus’ segala ‘gula-gula teknologi’. Saya abaikan segala sosial media, saya bahkan terkadang memadamkan ponsel. Itu dikarenakan saya berpendapat pada beberapa titik, teknologi dapat mengganggu terselesaikannya penyelesaian karya. Jadi sebelum berbangga dengan segala gemilang teknologi, mari bertanya jujur akankah teknologi tersebut men-support karya atau malahan menjadi distraksi tak perlu bagi produktivitas.

Apakah mereka tak lebih dari kelompok yang berbangga sebagai konsumen? Hanya manusia dan bangsa yang memproduksi yang memiliki karakter. Postur APBN di negeri ini boleh dibilang digerakkan oleh konsumsi dalam negeri. Bangsa ini adalah pelahap dari rupa-rupa produk. Pertanyaannya akankah puas sekadar menjadi bangsa konsumen? Mari beralih menjadi bangsa produsen. Buatlah karya-karya, hasilkan rupa-rupa. Dengan berkarya saya percaya apresiasi terhadap sesuatu akan lebih baik. Nyinyir komentar sinis terhadap suatu karya atau produk dalam pandangan saya tiada terlepas dari sekadar budaya konsumen yang terlampau akut. Beda kiranya dengan ketika menjadi pribadi produsen. Pribadi produsen akan mengetahui sukarnya, terjalnya hingga sebuah produk muncul ke pasaran. Jadi mengapa begitu berbangga dengan buah inovasi ciptaan orang lain? Jadi mengapa begitu berbangga menjadi bangsa konsumen? Mari berbangga dengan produk buatan sendiri. Mahatma Gandhi menggerakkannya dalam narasi bernama Swadeshi. Soekarno menarasikannya dengan berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).

Saya pikir dengan perspektif tersebut maka teknologi akan menemui substansi sejatinya. Teknologi substansial bukan teknologi prosedural. Teknologi prosedural sekadar fisik, perangkat, namun gagal menjiwai hakikat inti dari ide, kreativitas, jiwa dari teknologi tersebut. Sedangkan teknologi substansial ialah dapat menyelami makna, jiwa dari teknologi yang terus tumbuh dan berkembang. Teknologi boleh canggih, namun manusianya juga harus canggih memaknai kehidupan.

Posted in Sosial Budaya

Quotes Sosial Budaya (3)

Kuasai dunia dan pimpinlah dia. Letakkan dia di tanganmu, tapi jangan sekali-kali menyimpannya di hatimu! – Ali bin Abi Thalib

Jika engkau ingin mengetahui watak seseorang, maka ajaklah dia bertukar pikiran. Sebab, dengan bertukar pikiran itu, kau akan mengetahui kadar keadilan dan ketidakadilannya, kebaikan, dan keburukannya. – Ali bin Abi Thalib

Tapi tiap nama adalah sebuah dunia. – Goenawan Mohamad

Ketika Anda meraih satu piala, Anda ingin yang lain lagi. Ini tidak akan pernah berakhir. Dalam olahraga, inilah yang akan membuat Anda maju. – Branislav Ivanovic

Sesungguhnya aku ini manusia, yang boleh jadi benar dan boleh jadi salah. Maka dari itu, bandingkan perkataanku pada Kitab (Al Qur’an) dan sunah. – Imam Malik bin Anas

Ketika kita membangun negeri ini maka kita mengharapkan terciptanya keadilan dan kemakmuran. Tapi karena membangunnya dengan menggunakan maksiat, salah satunya riba, maka akhirnya yang menanggung rakyat. Sedangkan, yang kita takuti itu adalah kemiskinan dan kebodohan. – KH Abdullah Faqih

Berikan nasihatmu kala aku sedang sendiri dan jauhkanlah nasihatmu kala aku bersama manusia. Sungguh, nasihat di hadapan manusia adalah celaan yang aku tidak rela mendengarnya. Jika kau menentangku dan mendurhakaiku, janganlah mengeluh jika aku menjadi tak patuh. – Imam Syafi’i

Ketahuilah wahai saudaraku yang aku cintai, kebutuhan kita untuk beribadah kepada Allah lebih mendesak daripada kebutuhan kita terhadap makanan, minuman, dan udara. Sebab, makanan, minuman, dan udara berfungsi untuk melestarikan badan, sedangkan ibadah berfungsi untuk menegakkan ruh dan badan sekaligus. – Ibnu Qayyim al-Jauziyah

Sebagai dai jangan terlalu berharap kepada orang-orang besar dan kaya. Bukankah Nabi Muhammad Saw pernah mendapatkan teguran karena menyepelekan orang kecil demi berdakwah untuk orang besar? – KH AR Fachruddin

Tayangan tv semuanya mirip rokok. Begitu menonton dua kali, peluang untuk menonton acaranya untuk kali ketiga akan lebih besar. Semuanya seperti candu. – Dan Harmon

Manusia, makhluk yang bermain, tak usah malu untuk tak senantiasa bersungguh-sungguh. – Goenawan Mohamad

Piala Dunia adalah sebuah upacara pemujaan dengan dewa yang bisa kalah. – Goenawan Mohamad

Kita semua mendambakan apa yang telah hilang dari kita. Tetapi kadang-kadang kita melupakan apa yang kita miliki. – Mitch Albom

Di dunia nyata, tiap manusia terbatas oleh tempurung masing-masing. – Goenawan Mohamad

Sebuah kehidupan yang tak diamati dan direnungkan tidaklah berharga bagi seorang manusia. – Sokrates

Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. – Dewi Lestari

Wahai Salman, kehidupan dunia itu seperti ular, lembut diraba, tetapi berbisa. – Ali bin Abi Thalib

…kita tak dapat mengharapkan bahwa dunia – di tangan para penyair – akan mendadak berubah jadi sebuah sajak. – Vaclav Havel

Alam semesta tak hanya bicara tentang hal-hal yang paling luhur…tapi juga tentang hal-hal yang dekat. – William

Ada dua cara memperoleh pengetahuan. Satu melalui nalar, yang lain melalui eksperimen. – Bacon

Penyidikan adalah, atau seharusnya adalah, sebuah ilmu eksakta. – Sherlock Holmes

Merupakan satu kesalahan besar untuk berteori sebelum kita punya data. – Sherlock Holmes

Sebab para detektif bertolak ke kegelapan bukan dengan jawab, melainkan dengan pertanyaan. – Goenawan Mohamad

Bahwa jika kita bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, waktu akan berjalan lebih lambat, setara dengan dunia yang kita tinggalkan. – Einstein

Butuh konsentrasi betulan untuk membaca. Terlewat satu paragraf atau bahkan satu kalimat penting, kita akan kesulitan memahami cerita utuhnya. Sebaliknya dengan tayangan Tv. – Daniel Ehrenhaft

Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah kepada kebesaran Zat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya. – Bilal bin Rabah

Seorang mukmin hidup di dunia bagaikan seorang tawanan yang sedang berupaya membebaskan dirinya dari penawaran. Ia tidak akan merasa aman kecuali bila ia telah berjumpa dengan Allah Swt. – Hasan al-Bashri

Andaikata muridku tinggal satu, akan tetap kuajar. Yang satu ini sama dengan seribu. Kalaupun yang satu ini tidak ada, aku akan mengajar dunia dengan pena. – KH Imam Zarkasyi

Kau ciptakan malam, tapi kubuat lampu,
Kau ciptakan lempung, tapi kubentuk cupu
Kau ciptakan gurun, hutan dan gunung,
Kuhasilkan taman, sawah dan kebun
– Iqbal

Bila kita diberikan waktu tak terbatas, tidak ada lagi yang istimewa. Tanpa kehilangan atau pengorbanan, kita tidak bisa menghargai apa yang kita punya. – Mitch Albom

“Ada sebabnya Tuhan membatasi hari-hari kita.”
“Mengapa?”
“Supaya setiap hari itu berharga.”
– Mitch Albom

Jangan patah semangat walau apapun yang terjadi, jika kita menyerah, maka habislah sudah. – Top

Kusaksikan pembantaian yang tak kunjung putus dan pelan-pelan menghancurkan ini, dan aku benar-benar takut…Kini kupertanyakan keyakinanku sendiri yang mendasar kepada kebaikan kodrat manusia. Ini harus berhenti. – Rachel Corrie

Jika seorang hamba tulus ikhlas berbuat amal kepada Allah maka Allah akan menampakkan kepadanya perbuatan-perbuatan yang tercela, sehingga ia hanya akan sibuk dengan dosa-dosanya daripada mengurusi aib orang lain. – Ali Zainal Abidin

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan. Oleh sebab itu, ketika niatnya benar maka perbuatan itu benar. Dan, jika niatnya buruk maka perbuatan itu buruk. – Imam an-Nawawi

Aku selalu berusaha agar jiwaku suci dan hatiku jernih supaya aku siap menerima ilmu yang bersifat ilham serta berusaha agar jiwaku bersih, sehingga mampu menerima segala pengetahuan yang dituangkan ke dalamnya. – Rasyid Ridha

Anak-anak akan kuajarkan musik, fisika, dan filosofi. Namun, musik yang terpenting karena pola dalam musik dan seluruh nilai seninya merupakan kunci untuk belajar. – Plato

Kekerasan tidak selalu bersifat fisik, luka tidak selalu mengeluarkan darah. – Haruki Murakami

Suka menulis adalah kualitas yang lebih penting daripada apa pun bagi orang yang ingin menjadi pengarang. – Haruki Murakami

Biar bagaimanapun, dalam sastra, motivasi yang melebihi uang, entah itu baik atau buruk, menggerakkan berbagai hal. – Haruki Murakami

Dia menganggap dunia ini berputar mengelilingi dirinya. Menurut dia, dunia takkan bisa berputar dengan benar tanpa dia. – Haruki Murakami

Sekali berbohong kepada dunia, kita harus berbohong terus selamanya. Kita harus terus-menerus menambal kebohongan dengan kebohongan lain di sana sini. – Haruki Murakami

Ini dunia sirkus,
Palsu segala-galanya,
Tapi takkan jadi khayalan belaka
Andai kamu percaya padaku.
– E.Y. Harburg & Harold Arlen

Satu benda hanya bisa berada pada satu waktu di satu tempat. – Einstein

Posted in Politik

Quotes Politik (3)

Kini Israel adalah sebuah kekuatan kolonial. Ia mengembangkan diri dengan menduduki wilayah luas yang bukan haknya. Ia mungkin negeri ke-4 terbesar di dunia dalam hal bangunan militernya. Si Daud telah menjadi Goliath, tapi belum sadar betul apa yang terjadi. Orang-orang Israel sendiri buta terhadap ini. Di mata mereka, mereka tetap sebuah paguyuban kecil para korban yang mempertahankan diri dengan enggan dan tak berlebihan, melawan tantangan yang begitu besar….- Tony Judt

Republik terdiri atas pembasmian atas setiap hal yang menentangnya. – Saint-Just

Semua revolusi menghancurkan watak organis masyarakat. – Solzhenistsyn

Kami, tentara Jepang telah ditipu oleh Kaisar, katanya dia adalah dewa, kita tidak boleh melihat dia. Kami sangat bodoh sampai ditipu. Kaisar harus bertanggung jawab atas perang ini. – Mitsuhiro Tanaka

Sebab di dunia nyata, para pemimpin politik kebanyakan bukanlah pemikir yang luas pandangan; tak ada Republik yang diidamkan Plato. – Goenawan Mohamad

Politik bukanlah mencium bibir sendiri di depan cermin. – Goenawan Mohamad

Sejarah Amerika seluruhnya adalah cerita tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayah itu. – Malcolm Bradbury

Tuan-tuan tentu mengerti bahwa ini adalah sekadar Undang-Undang Dasar sementara, Undang-Undang Dasar kilat….Ini hukum dasar revolusi. Nanti kita membuat Undang-Undang Dasar yang lebih sempurna dan lengkap. – Soekarno

Orde Reformasi hanya menghadirkan para pemimpin tua dengan watak “Peterpan” yang tak kunjung dewasa. – Yudi Latif

Tak ada sebenarnya pemimpin yang sempurna, baik di masa lalu maupun sekarang, baik di Cina maupun di tempat lain. Jikapun ada, ia hanya berpura-pura, seperti seekor babi yang memasang siung bawang ke mulutnya agar tampak sebagai gajah. – Liu Shao-ch’i

Bisa saja sebuah desain akhirnya hanya bersifat agung sebelum ia secara luas terlibat dalam realitas yang cela dan centang-perenang. – Goenawan Mohamad

Para penakluk modern dapat membunuh, tapi tampaknya mereka tak mampu mencipta. – Camus

Sang pendongeng tahu: kini revolusi tak bisa dipasarkan. – Goenawan Mohamad

Revolusi bukanlah sebuah jamuan makan. – Mao

Tak ada kiat yang lebih sulit ketimbang menjalankan sebuah kekuasaan yang besar dengan tepat…semua tergantung bagaimana kita secara kena mengukur kekuatan kita, dan bagaimana secara benar melihat kemungkinan-kemungkinan dalam keterbatasannya….- Lippmann

Tak ada yang lebih membikin kita rikuh dalam pergaulan hidup biasa, selain patriotisme orang Amerika yang gampang terusik. – Alexis de Tocqueville

Seorang diktatur menertibkan sebuah ruang hidup dari “anarki”, tapi menggantinya bukan dengan tertib hukum yang adil, melainkan todongan bedil. – Goenawan Mohamad

Hanya dengan mengakui kompleksitas masa yang telah lewat, kita bisa menghadapi problem hari ini dengan cara seksama dan dengan rendah hati. – Goenawan Mohamad

Sensor membungkam kata, dan akhirnya menyebarkan ketidakpercayaan kepada kata. – Goenawan Mohamad

Agar “per-satu-an” dibedakan dari “per-sate-an”. – Hatta

Kian kaya sebuah bangsa, kian besar kansnya untuk mempertahankan demokrasi. – Lipset

Tak ada kelas menengah, tak ada demokrasi. – Barrington Moore

Prosperity without freedom is just another form of poverty. – Obama

Inilah perjuangan karena pemimpin harus bekerja lebih keras daripada yang lain. – Hideyoshi

Seluruh pemerintahan tak lebih dari kekuasaan dalam kepercayaan. – John Dryden

“rakyat” ibarat anak yang perlu diajari dan dipimpin. – Ki Hajar Dewantara

Yang berdaulat adalah ia yang menentukan kekecualian. – Carl Schmidt

Tapi memang begitulah agaknya nasib ketiga revolusi besar dalam sejarah. Revolusi Prancis akhirnya melahirkan kediktatoran, dan setelah itu: supremasi Prancis. Revolusi Rusia pada gilirannya melahirkan Stalin, dan dengan Stalin, “internasionalisme” akhirnya hanya wadah pengaruh Rusia. Revolusi Amerika juga tak berbeda jauh dari nasib pola tragis itu: ia yang ingin menjangkau dunia akhirnya mendekam di diri sendiri. – Goenawan Mohamad

Sastrawan adalah “insinyur jiwa manusia”. – Stalin

Ideologi ialah ketika orang tak tahu itu, tapi orang toh melakukan itu. – Marx

…di mana rantai imperialisme itu paling lemah? Di Indonesia dan Vietnam. – Soekarno

Ini adalah kesalahan yang disengaja. Perang Vietnam dimulai dengan kebohongan-kebohongan politis yang didasari informasi intelijen palsu. – Tim Weiner

Bulan memancing syair dari penyair/ Tunggu dulu, aku masih sibuk dengan urusan perang. – Ho Chi Minh

Dari berita TV, kita pun tahu tentang potongan rambut Tuan Kerry, dan bukan gagasannya di bidang kesehatan. Kita tahu tentang cara George Bush menyisir, dan bukan kebijakan lingkungannya. – Paul Krugman

Pengadilan bukan alat penggebuk seperti polisi dan tentara, tapi ia juga berperan mengendalikan agar kehidupan sosial, biarpun cacat dan rapuh, tetap utuh. – Althusser

Keadilan yang ekstrem adalah ketakadilan yang ekstrem. – Cicero

Sejarah adalah argumentasi yang tak pernah berakhir. – Pieter Geyl

Tiap sejarawan tak bisa menghindarkan diri dari bias ideologinya, Ini menentukan pemilahan sumber. Padahal validitas sumber itu perlu verifikasi. – David Askew

Kekuasaan lahir dari laras bedil. – Mao Tze Tung

Alam mengajar saya bagaimana mencintai dan membenci: membenci penindas, egoisme, dan perang. – Ho Chi Minh

Di dunia ini tidak ada yang lebih berharga ketimbang rakyat. Tak ada yang lebih kuat dari kekuatan solidaritas rakyat. Di dalam masyarakat, tak ada yang lebih indah dan agung dari pada melayani rakyat. – Ho Chi Minh

Sebuah negara yang maju bukanlah tempat dimana warga miskin punya mobil. Melainkan ketika warga kaya menggunakan kendaraan umum. – Enrique Penalosa

Lebih baik mendatangi langsung rakyat dan membakar hati mereka. – Soekarno

Demokrasi ditegakkan terus menerus – dan proses itulah yang memberi peluang kita buat mengeluh. – Goenawan Mohamad

Janganlah para pemimpin berhenti idenya, pemimpin tanpa ide hanya membawa kematian kepada suatu bangsa. – Soekarno

Islam beribadah itu akan dibiarkan. Islam berekonomi akan diawasi. Islam berpolitik itu akan dicabut seakar-akarnya. – Mohammad Natsir

Yang dinistakan, yang dihina, yang dilukai, yang dihilangkan haknya…berkumpul di sini. – Wright

Pemerintah kami membiarkan warganya dalam keadaan takut yang terus-menerus, membiarkan kami tunggang-langgang dalam semangat patriotisme yang tak ada habis-habisnya sambil berteriak bahwa negara dalam keadaan darurat. Selalu saja ada musuh jahat di dalam negeri atau kekuatan asing yang sangat mengerikan dan siap memangsa kami bila kami tidak secara membabi-buta berkumpul di belakangnya dengan memberikan tuntutan dana yang sangat tinggi. Walau demikian, dalam refleksinya, seluruh bencana tersebut tak pernah benar-benar terjadi dan sepertinya tak pernah ada. – Jenderal Douglas MacArthur