Posted in Aku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Cita-Cita

Apa cita-citamu? Berapa umur Anda sekarang? Dalam sebuah perbincangan sore, lema cita-cita kembali beresonansi. Seiring waktu kita kerap ‘melupakan cita-cita’. Memandangnya sebagai sesuatu yang konyol. Memandangnya sebagai isapan jempol ketika kanak-kanak. Apa cita-cita saya? Ketika dahulu di masa saya kecil, praktis belum ada cita-cita yang tercetak kuat. Ada banyak percabangan profesi yang saya ingini. Entah seberapa orisinil keinginan dari hati. Atau mungkin sekadar ikut arus dan sekadar ikut-ikutan teman yang konon punya cita-cita. Insinyur ketika saya kecil, terdengar keren dan megah. Namun seiring perjalanan waktu saya pun mafhum takdir saya bukan disitu nampaknya. Pelajaran menggambar saya stabil di satu titik kurva. Stabil di angka 6 yang saya maksud.

Lalu ada juga cita-cita menjadi ABRI. Terlihat gagah dengan membawa popor senjata. Namun seiring waktu, tabiat saya 180 derajat dengan prasyarat menjadi ABRI. Saya memiliki pola makan yang begitu ‘siput’. Lamban dan tidak selesai-selesai haha..Saya juga tidak suka dikomando dengan kekerasan. Belum lagi dengan segala disiplin yang dalam pandangan saya mereduksi sisi humanisme. Dengan sepenuh keyakinan, saya mencoret kata ABRI dalam kamus cita-cita. Baiklah bercita-cita menjadi insinyur atau ABRI bukanlah ide orisinil dan keinginan terdalam saya. Praktis kedua hal tersebut sekadar ikut-ikutan gerbong cita-cita kawan yang terlihat seru.

Lalu waktu berdetak dan bergerak. Ada pilihan, ada tendensi. Saya menyukai sepakbola dan sepertinya seru juga jadi pemain bola. Dikarenakan suka musik, sepertinya seru juga jadi vokalis. Dikarenakan suka membaca dan menulis, sepertinya seru juga jadi penulis. Cita-cita rupanya merupakan perkara yang enigmatik juga. Ia tidak dicangkokkan dan dititahkan langsung jadi. Ada proses pembentukannya. Dan amat mungkin terjadi perubahan. Apapun cita-cita Anda, percayalah saya tidak menertawakannya. Saya percaya cita-cita merupakan perjalanan personal diri. Ada nuansa personal yang terkadang sulit diterjemahkan dalam kata dan dibagi kepada orang lainnya. Maka Kugy yang bercita-cita menjadi pendongeng ataupun Keenan yang bercita-cita menjadi pelukis dalam novel Perahu Kertas merupakan hikayat yang menguji seberapa jauh tekadmu untuk memenuhi ambisimu.

Apa cita-citamu? Berapa umur Anda sekarang? Dalam sebuah perbincangan sore, lema cita-cita kembali beresonansi. Dan saya kembali diingatkan untuk merengkuh dan menempuh cita-cita saya. Siapapun Anda, selamat berjuang. Semoga masih tetap mengingat cita-cita yang telah Anda patrikan diantara bebat pragmatisme dan instanisme dunia. Saya tutup artikel kali ini dengan kutipan bertenaga berikut: Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s