Posted in Essai, Sosial Budaya

Cinta dan Pemberian

Kalau hati telah cinta, yang berat rasanya jadi ringan, pendakian dirasa tanah latar saja, kesusahan dijadikan suatu bingkisan kasih kepada si jantung hati. – Hamka

Cinta memang selalu punya cara untuk melakukan transformasi. Cinta seharusnya milik orang-orang kuat. Mereka yang fokus pada memberi dan memberi. Dengan begitu sang pasangan pun merasakan ketergantungan tertentu. Dikarenakan selalu ada pemberian yang diupayakan. Cinta sejatinya bukan milik orang-orang lemah. Mereka yang sekadar mengujarkan cinta, namun tidak menemui relevansi permaknaan.

Cintai aku sebagaimana adanya, terima aku dengan keadaan ini; entah mengapa bagi saya kedua larik kalimat itu terasa lemah. Cinta seharusnya mengajarkan kepada kita untuk tumbuh berkembang. Tiada stagnan. Dengan cinta kita bertumbuh. Dengan cinta pasangan kita bertumbuh. Maka cinta yang memaku kondisi pada itu-itu saja bukanlah cinta yang membesarkan dan menyehatkan. Dengan nafas cinta, maka diri kita menguasai sejumlah kompetensi baru. Dengan nafas cinta, maka pasangan kita meraih rangkaian etape keberhasilan baru. Ada nuansa pertumbuhan dari cinta. Dengan begitu kita tidak menjadi pribadi yang membosankan.

Cinta adalah pemberian, maka lihatlah apa yang diberikan oleh pasangan. Apakah pemberian itu sekadar benda konsumtif yang lalu habis? Ataukah pemberian itu merupakan sarana untuk meningkatkan kapasitas diri. Ada yang memberikan rupa-rupa kemewahan, namun tiada peningkatan bagi kadar otak. Ada juga yang secara cerkas memberikan segala upaya agar pasangan dapat meningkatkan kadar kemampuan, memberikan arah jalan yang harus dituju. Berhati-hatilah pada apa yang kau berikan.

Cinta dan pemberian adalah produktivitas. Maka kau akan memiliki elan vital untuk berkarya. Maka lahirlah puisi, cerpen, novel, lagu, lukisan, merupakan sederetan sampel dari muara hati yang sedang dilanda cinta. Cinta memang harusnya produktif. Bukan sekadar genangan nafsu di kepala. Cinta menjadi karya. Maka di dalam DNA karya ada cinta yang membungkus dan membingkisnya. Hati akan tahu, rasio tidak akan terkelabui.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s