Posted in Edukasi, Essai

Berkarya Dari Sekolah

Pemberitaan di sejumlah media belakangan ini menyiratkan tentang kekisruhan Ujian Nasional. Potret penyelenggaraan Ujian Nasional yang tidak berjalan mulus menurut hemat saya merupakan potret gunung es dari dunia pendidikan Indonesia. Masih begitu banyak sengkarut yang membelit pendidikan di negeri ini. Amanat konstitusi untuk memberikan porsi 20% bagi anggaran pendidikan rupanya bukanlah jaminan bahwa pendidikan Indonesia akan gilang gemilang. Serangkaian sampel kasus yang menyeruak ke publik membuat kita mengerutkan dahi dan mengurut dada tentang dunia pendidikan Indonesia. Ujian Nasional yang tertunda di beberapa tempat, pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru, tawuran pelajar, merupakan sejumlah sampel nadir dari dunia pendidikan Indonesia.

Mendidik memang bukan pekerjaan yang mudah. Diperlukan komprehensifitas. Tentunya pendidikan seharusnya mengarah pada kompetensi yang dimiliki pada anak didik. Mengembangkan segala talenta yang dimiliki oleh anak didik. Pendidikan yang utuh serta tidak ‘memuja’ otak kiri saja. Pendidikan yang mampu memotret talenta yang dimiliki oleh siswa sehingga mereka dapat beraktualisasi dan berkarya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya.

Berbicara tentang dunia pendidikan, saya teringat dengan dua pelajaran favorit dari Wahyu Aditya (pendiri Hellomotion). Pelajaran favorit dari Wahyu Aditya adalah pelajaran kesenian dan mata pelajaran kosong. Bagaimana dengan Anda, apa mata pelajaran favorit Anda? Pada kurikulum 2013 akan terjadi penyederhaan mata pelajaran yang direguk oleh siswa. Hal ini untuk mengurangi beban dari siswa di Indonesia. Saya memiliki harapan bahwa mata pelajaran yang diajarkan memberikan jalan, apresiasi, bagi lahirnya sejumlah karya. Saya pikir budaya produksi dan karya yang harus dikembangkan di negeri ini. Apabila semenjak di dunia pendidikan telah terbiasa dengan berkarya, maka selepas dari dunia sekolah, denyut berkarya akan telah terbentuk mapan.

Fokus pada berkarya misalnya dalam pelajaran kesenian, berikan kesempatan pada siswa untuk menggubah lagu, menggambar bebas. Misalnya dalam pelajaran bahasa Indonesia, berikan kesempatan untuk mengarang puisi, cerpen. Hal ini menurut saya akan menstimulasi kemampuan dan membudayakan nafas berkarya. Alangkah akan dahsyatnya negeri ini manakala anak-anak bangsa telah terbiasa untuk beraktifitas positif, berkarya, menghasilkan. Tentu itulah tujuan pendidikan, bukan malahan pendidikan yang membuat bodoh dan mematikan daya kreasi.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s