Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Hei..Ini Weekend

Weekend kemarin praktis merupakan segala pelepasan beban bagi saya secara personal. Tiga panel pengerjaan penulisan saya relatif rampung. Saya pun dapat sedikit bermanja-manja bersama waktu. Weekend pun saya dapat bernafas tanpa harus dipeningkan dengan kata ‘deadline, pekerjaan, ketikan’. Momentum untuk istirahat dan momentum untuk kanal personal. Saya pikir itu penting adanya sesibuk apapun diri Anda. Hidup ini tiada sekadar bekerja, bekerja, dan bekerja. Ada masanya untuk melonjorkan kaki, menenangkan diri, dan orbit pikiran tiada berporos pada pekerjaan. Maka itulah narasi besar yang saya dapati pada weekend kemarin. Saya sejenak melepaskan korelasi dengan lini pekerjaan.

Pada hari Sabtu tanggal 11 Mei 2013 saya bersua dengan sobat-sobat kampus di Pondok Indah Mall. Berbincang semenjak sore hingga waktu menunjukkan jam 9 malam lewat. Berada dalam lingkup perbicaraan yang berbeda dengan menu keseharian pekerjaan. Berbincang tentang pergulatan ordinary people. Lema dan diksi politik untuk sementara saya luruhkan pada durasi jam tersebut. Pada hari Ahad tanggal 12 Mei 2013 saya makan bersama ibu di Bakmi GM. Tentunya tema perbincangan bukan tentang politik kontemporer (yang menjadi menu pekerjaan formal saya). Dari kedua fragmen tersebut saya tersegarkan. Bahkan di weekend kemarin, saya juga sejenak menanggalkan kekuatan pena saya. Saya meliburkan ‘tarian bersama kata’, saya lebih memilih untuk membaca dan membaca.

Melepaskan sejenak apa yang menjadi ritme keseharian menyehatkan adanya. Itu memberikan perspektif bahwa ada kenyataan lainnya. Itu membuat serat-serat kreatifitas menggeliat hidup. Anda akan menjadi membosankan jika hidup dengan pola yang itu-itu saja. Anda akan jadi mudah tertebak. Maka saran saya sekali-kali keluarlah dari ritme keseharian. Lakukan segala sesuatu yang baru. Tempuh rute yang berbeda. Maka Anda akan merasa lebih hidup. Hidup bukan sekadar detik-detik yang Anda jalani, namun seberapa hidup Anda dalam menjalani hidup. Hiduplah dengan sebenar-benar hidup.

Segala sesuatu ada waktunya. Saya teringat dengan fragmen kisah dalam serial SpongeBob. SpongeBob pernah berduel dengan sebuah mesin dalam menghasilkan krabby patty. Duel pun berlangsung seru dengan intensitas yang makin meningkat dalam menghasilkan krabby patty. Sampai di satu titik, sang mesin meledak berhamburan dikarenakan telah melewati batas maksimal dalam menghasilkan krabby patty. Jika dianalogikan dalam kehidupan, maka rasio jam pengerjaan dapat kongruen dengan sang mesin. Anda tidak dapat terus menerus bekerja hingga melalaikan rupa-rupa. Anda dapat menjadi kusut akut jika jam pekerjaan Anda terlampau over. Ada saatnya untuk beristirahat. Ada saatnya untuk menjalani waktu-waktu personal. Itu bukan pertanda kelemahan, kekalahan. Itu sangat manusiawi. Seperti lirik lagu ‘Sang Penghibur’ dari band Padi: kuhelakan nafas panjang/ tuk siap berlari kembali. Jadi selamat menikmati waktu libur dan temui fragmen permaknaan dalam setiap momentum waktu.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s