Posted in Essai, Sosial Budaya, Teknologi

Teknologi Substansial

Baiklah saya bukanlah pengikut yang baik bagi segala teknologi yang berkembang. Pada beberapa hal saya merasa seperti orang yang berada dari ceruk waktu masa lalu. Saya menyukai rupa-rupa yang bernuansa oldies. Seakan ada ke-wow-an tertentu dari segala yang bernuansa jadul. Maka disinilah saya dengan segala kesederhanaan teknologi.

Berinteraksi dengan ragam manusia menjelaskan berbagai sudut pandang. Dan saya kerap menemui orang yang mengunggulkan teknologi. Dalam perbincangan, keluarlah segala macam perangkat teknologi terbaru, kelebihannya, dan segala macamnya. Dan kadang mereka berbangga dengan sophisticated dan kecanggihan teknologi tersebut. Saya pun menghadirkan tanya dalam benak: Apakah teknologi itu dapat menunjang karya? Apakah mereka tak lebih dari kelompok yang berbangga sebagai konsumen?

Baiklah apakah segala perangkat teknologi yang canggih itu berkorelasi positif terhadap karya? Saya pikir kehadiran manusia di bumi ini adalah untuk berkarya. Jangan-jangan perangkat canggih itu lebih merupakan prestise, bahkan dapat mengganggu kinerja. Kemudahan untuk berselancar di dunia maya misalnya dapat menjadi distraksi yang handal bagi pengerjaan sebuah karya. Saya pribadi ketika membuat tulisan, kerap ‘memutus’ segala ‘gula-gula teknologi’. Saya abaikan segala sosial media, saya bahkan terkadang memadamkan ponsel. Itu dikarenakan saya berpendapat pada beberapa titik, teknologi dapat mengganggu terselesaikannya penyelesaian karya. Jadi sebelum berbangga dengan segala gemilang teknologi, mari bertanya jujur akankah teknologi tersebut men-support karya atau malahan menjadi distraksi tak perlu bagi produktivitas.

Apakah mereka tak lebih dari kelompok yang berbangga sebagai konsumen? Hanya manusia dan bangsa yang memproduksi yang memiliki karakter. Postur APBN di negeri ini boleh dibilang digerakkan oleh konsumsi dalam negeri. Bangsa ini adalah pelahap dari rupa-rupa produk. Pertanyaannya akankah puas sekadar menjadi bangsa konsumen? Mari beralih menjadi bangsa produsen. Buatlah karya-karya, hasilkan rupa-rupa. Dengan berkarya saya percaya apresiasi terhadap sesuatu akan lebih baik. Nyinyir komentar sinis terhadap suatu karya atau produk dalam pandangan saya tiada terlepas dari sekadar budaya konsumen yang terlampau akut. Beda kiranya dengan ketika menjadi pribadi produsen. Pribadi produsen akan mengetahui sukarnya, terjalnya hingga sebuah produk muncul ke pasaran. Jadi mengapa begitu berbangga dengan buah inovasi ciptaan orang lain? Jadi mengapa begitu berbangga menjadi bangsa konsumen? Mari berbangga dengan produk buatan sendiri. Mahatma Gandhi menggerakkannya dalam narasi bernama Swadeshi. Soekarno menarasikannya dengan berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).

Saya pikir dengan perspektif tersebut maka teknologi akan menemui substansi sejatinya. Teknologi substansial bukan teknologi prosedural. Teknologi prosedural sekadar fisik, perangkat, namun gagal menjiwai hakikat inti dari ide, kreativitas, jiwa dari teknologi tersebut. Sedangkan teknologi substansial ialah dapat menyelami makna, jiwa dari teknologi yang terus tumbuh dan berkembang. Teknologi boleh canggih, namun manusianya juga harus canggih memaknai kehidupan.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s