Posted in Essai, Politik

Reformasi 15 Tahun

Skema perubahan selalu memiliki logika tersendiri. 15 tahun yang lalu, gedung rakyat yang selama ini hening menjadi wahana segenap mahasiswa dari berbagai penjuru negeri untuk menarasikan kata ‘reformasi’. Negeri ini tengah berada dalam bifurkasi 15 tahun lalu. Bukan perkara yang mudah memang. Dibekuk keadaan ekonomi yang melambungkan harga sembako, kerusuhan yang memantik api dimana-mana. 15 tahun lalu negeri ini berada dalam suhu meningkat. Perahu negeri ini dapat karam. Saling tikam antar anak bangsa dapat terjadi. Reformasi dapat menjadi jalan bagi darah yang tertumpah dan masalah yang berlarut tak kunjung usai.

Disini kita berada 15 tahun kemudian. Lebih dari 1 dekade. Milan Kundera menyatakan bahwa ‘perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa’. Jarak 15 tahun mungkin telah membuat kita melupakan segala amanat reformasi. Mereka yang dulunya ongkang-ongkang kaki di poros status quo, menyesap madu status quo, kini dapat berteriak perubahan. Seolah-olah tiada noda Orde Baru yang tersampir di dirinya.

Waktu, dapat menyurutkan mimpi-mimpi kita. Kita jadi pragmatis. Kita sekadar menyelamatkan sekoci masing-masing. Apa kabar korupsi, kolusi, nepotisme? Yang 15 tahun silam dikutuk, hingga kini tetap menjalar, melakukan mutasi dan sejumlah penyesuaian. Korupsi, kolusi, nepotisme belum benar-benar mati di negeri ini. Melalui gerbong demokrasi, korupsi, kolusi, nepotisme, tetap berkibar. Beberapa dengan narasi baru. Beberapa dengan alasan baru. Namun tetap saja, sekali busuk tetap busuk. Perilaku busuk tidak dapat dikemas menjadi suci dengan pembenaran atau penarasian melalui logika tertentu.

Revolusi, reformasi, dapat menjadi kata yang amis bersama waktu. Didengungkan, diingatkan, diseminarkan, namun tetap saja substansinya kehilangan arah. Pelaku-pelakunya menjadi amnesia amanah. Dan rakyat yang seolah-olah semakin cerdas, tetap saja terbuai dengan ilusi, perkara yang tidak substansial. 15 tahun lalu bukan sekadar memori. Itu adalah panggilan mimpi. Untuk kembali meneguhkan asa: reformasi belum tuntas di negeri ini.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s