Posted in Essai, Sosial Budaya

Seniman Kata-Kata

Apakah manusia adalah mesin-mesin produksi? Ketika kapitalisme telah menyeruak ke berbagai sendi, maka manusia kerap difungsikan sebagai unit produksi yang bagaikan mesin-mesin produksi. Bagaimana dengan wartawan? Yang menghasilkan sekian banyak kata bagi pemenuhan berita. Ada wartawan koran, ada juga wartawan yang bergerak di media digital. Speed dari wartawan yang bergerak di media digital lebih cepat adanya. Dalam sehari wartawan di media digital harus menyetorkan sekian tulisan. Dengan teknologi informasi yang berkembang selama ini turut menyumbangkan menu pola konsumsi terhadap berita. Berita kini dapat diakses melalui ponsel pintar, laptop. Dengan kecepatan pemberitaan yang lebih cepat dibandingkan koran harian. Tuntutan kompetisi dan kecepatan ini berkorelasi pada hasil kerja dari wartawan. Terkadang berita yang belum cukup terverifikasi telah tersebar ke domain publik. Wartawan pun bagaikan mesin-mesin produksi yang menghasilkan produk berupa kata-kata.

Lalu masihkah ada tempat bagi seniman kata-kata? Dengan pecut kapitalisme, kecepatan, saya pikir masih ada ruang bagi seniman kata-kata. Dahulu ketika saya mengikuti test menjadi wartawan Republika, syarat yang diajukan adalah sarjana dari berbagai jurusan. Saya pun pernah berbincang dengan rekan saya perihal hal tersebut. Rekan saya menyatakan bahwa menjadi wartawan tidak memerlukan keahlian menulis yang benar-benar expert. Kemampuan menulis dapat dilatih, oleh karena itu menurut rekan saya tersebut, syarat untuk menjadi wartawan memberikan ruang bagi berbagai sarjana dari berbagai disiplin ilmu.

Saya pikir selalu ada ruang bagi seniman kata-kata. Publik tentu tidak hanya membutuhkan karya dari para ‘mesin kata-kata’. Publik membutuhkan kedalaman dari karya, jiwa seni dari kata. Itulah kiranya yang membuat saya percaya bahwa ragam karya yang memiliki sisi artistik, kedalaman kata, dan tidak sekadar cepat, akan tetap memiliki pangsa pasarnya tersendiri.

Dalam perspektif saya ‘seniman kata-kata’ itu dapat ditemui misalnya pada Catatan Pinggir dari Goenawan Mohamad. Bagaimana ragam permasalahan dapat didedah oleh Goenawan dalam balutan kata-kata yang sastra. Bagaimana pilihan kata yang mampu tampil secara dramatik. Karya yang muncul dari ‘seniman kata-kata’ juga saya dapatkan dari majalah Tempo. Bagaimana ragam permasalahan sosial politik mampu dikemas dengan pembahasaan yang sastrais.

Pada akhirnya saya percaya untuk lahirnya karya membutuhkan waktu. Pun begitu dengan karya tulis yang baik. Dan waktu yang lebih leluasa dengan kapitalisme inilah yang kerap tidak akur berada dalam gerbong yang sama. Disinilah saya percaya setiap dari kita memiliki daya untuk memilih. Misalnya dengan men-share karya yang memiliki kedalaman investigasi, lema yang sastrais di sosial media yang kita miliki. Sebagai konsumen kita memiliki daya untuk membaca dan tidak membaca karya tulis yang ada. Dan pilihan kita tersebut akan berkorelasi pada kualitas hidangan tulisan.

Saya tidak sedang mengutuk dan merutuk positioning dari ‘mesin kata-kata’. Namun saya percaya adanya bahwa kita dapat melakukan sesuatu yang lebih untuk dunia bacaan yang beredar. Kecepatan bukan segala-galanya. Jadi selamat menikmati karya dari ‘mesin kata-kata’ dan ‘seniman kata-kata’.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s