Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Selamat Ulang Tahun

Lilin-lilin itu menyepi. Lilin-lilin itu menepi. Jarum jam yang berdetak. Ruang di kamar. Ruang-ruang di kepala. Pria dalam lamunan. Ia hanya melihat sekilasan rangkaian ucapan selamat ulang tahun di dinding facebook, di laman twitter, di ponsel canggihnya. Nama itu belum mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya. Ia tertunduk sepi. Ia tertunduk sendiri. Waktu menunjukkan pukul 23.03 di hari ulang tahunnya, nama itu masih belum mengujarkan selamat ulang tahun. Ia masih menunggu. 23.59, ucapan itu tak kunjung tiba. Hari, tanggal di kalender berganti, nama itu masih belum mengucapkan sepatah kata pun ucapan personal padanya.

Ia bangun tidur dalam rasa resah yang tak terkatakan. Semua aliran kekayaan yang membungkus dirinya seakan kehilangan magma, tanpa ucapan personal di hari besarnya. Setiap kita memiliki momen personal. Dan di momen personal itu, ia ingin sebenar-benarnya sang seseorang menerakan rangkaian kata-kata personal. Kata-kata personal seperti DNA. Ada keunikan. Ada tekstur jiwa yang tak tergantikan.

Ia membuka laptopnya. Hanya ada satu nama di kepalanya. Lema lainnya meluruh. Ia mengetik nama itu bagaikan siswa yang terkena detensi di sekolah. Kirana..Kirana..Kirana..Kirana..Kirana..Kirana..Kirana.., terus seperti itu. Lema ‘Kirana’ diduplikasi terus menerus.

Kirana adalah cinta bagi pria itu. Kirana adalah cerita bagi pria itu. Cobalah kau tanyakan pada dirinya tentang Kirana. Gesture-nya akan berubah. Ia akan seperti pendongeng ulung. Perawakan fisik Kirana akan didedahkannya pada kita dengan mata berbinar. Ia akan sesekali tertawa begitu menceritakan momentum kebersamaan dengan Kirana. Ia akan merepetisi kata ‘cinta’ di udara begitu bertutur tentang saat-saat kebersamaan mereka. Kirana adalah dunianya. Dunianya adalah Kirana.

Ini sudah seperti kunjungan rutin bagiku. Datang di waktu yang sama selama 7 tahun terakhir. 30 dan 31 Desember. Pria itu berulangtahun di tanggal 30 Desember. Dan dia kehilangan tunangannya di tanggal 31 Desember. Tunangannya mati bunuh diri karena depresi dengan kehidupannya. Kirana yang ternyata tak sesempurna yang diceritakan pria di hadapanku ini. Kirana yang ternyata punya sisi gelap yang sebelumnya disimpan rapat-rapat. Kirana yang memiliki rahasianya sendiri. Dan pria di hadapanku ini, masih percaya pada persepsi yang dibangunnya dan diciptakannya. Ia menolak realita. Ia menolak Kirana yang tak sempurna. Ia mendefinisikan Kirana hanya dari sisi cerahnya. Sisi yang terkena sorot lampu. Sisi yang indah dan baik-baik.

Aku adalah psikolog. Dan pria ini adalah pasien tetapku. Ia normal dari tanggal 1 Januari-29 Desember. Hanya di momentum 30 dan 31 Desember, ia memerlukanku disini. Sekadar mendengar ceritanya. Sekadar mendengar kisahnya. Ia menolak percaya kisah nyata Kirana dan tragis kisahnya. Pada beberapa hal, ia menciptakan ilusi tentang Kirana dan menganggapnya kenyataan yang sebenarnya.

Sudah 7 tahun terakhir, ketika dunia merayakan tahun yang berganti, aku tersegarkan dengan sebuah konklusi. Konklusi bahwa manusia hidup diantara retakan ilusi yang diciptakannya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s