Posted in Essai, Fiksi Fantasi

Clark Kent

Kita mengenal Superman dengan segala kedigdayaannya yang melebihi manusia biasa. Kemampuan untuk mengeluarkan laser dari matanya, kemampuan untuk terbang, meniupkan es, serta daya tahan yang kokoh terhadap terjangan peluru. Setiap kali sang Superman mengganti busana kantornya menjadi kostum pahlawan, kagum, harap, seruan pun terpekikkan. Superman memang mampu melakukan berbagai hal. Namun sama seperti hal lainnya di dunia. Selalu ada kelemahan. Sesuatu yang dengan cerdik diungkapkan oleh Bartimaeus dalam The Bartimaeus Trilogy: Amulet Samarkand sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Amulet Samarkand, hlm. 12):

Aku tak dapat berbuat apa-apa selama berada di dalam lingkaran, tentu saja. Tapi nanti aku akan mendapatkan informasi tentang siapa ia sebenarnya, mencari kelemahan karakternya, hal-hal di masa lalu yang dapat dieksploitasi. Mereka semua memilikinya. Atau lebih tepatnya, kalian semua memilikinya.

Bagi saya pribadi salah satu daya pikat utama dari kisah Superman adalah Clark Kent. Hal yang pernah disentil oleh Bill dalam film ‘Kill Bill”:

superman didn’t become superman
superman was born superman
when superman wakes up in the morning, he’s superman
his alter ego is Clark Kent
his outfit with the big red dress
that’s the blanket he was wept as a baby when the Kent’s found him, those are his clothes
what Kent wears, the glasses, the business suit, that’s the costume
that the costume superman wears to blend in with us
Clark Kent is how superman views us
and what of the characteristics is Clark Kent?
he’s weak, he’s unsure of himself, he’s a coward
Clark Kent is superman’s critique on whole all human race..
~Bill~

Clark Kent

Benarkah sosok Clark adalah sebentuk kelemahan? Jika kita merujuk pada teori politik maka kita akan mengenal gagasan yang diungkap oleh Machiavelli dengan rubah dan singa. Berikut saya kutipkan gagasan dari Machiavelli (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 137-138):

Machiavelli berpendapat bahwa penguasa negara bisa menggunakan cara binatang, terutama ketika menghadapi lawan-lawan politiknya. Dalam The Prince dikemukakan bahwa seorang penguasa bisa menjadi singa di satu saat, dan menjadi rubah di saat lainnya. Menghadapi musuhnya yang ganas bagai seekor srigala, penguasa hendaknya bisa berperangai seperti singa, karena dengan cara itulah ia bisa mengalahkan lawannya. Tetapi penguasa harus bersikap seperti rubah bila lawan yang dihadapinya adalah perangkap-perangkap musuh. Bukan singa yang mampu mengendus perangkap-perangkap itu, melainkan rubah. Rubah amat peka dengan perangkap yang akan menjerat dirinya.

Bagi seorang penguasa untuk mengalahkan lawannya dibutuhkan kecerdikan bak rubah dan ketegasan bagai singa. Ketegasan bagai singa tentu saja jelas terlihat pada sosok Superman. Dengan gagah berani Superman menegakkan panji kebenaran dan menjadi oposisi frontal dari kejahatan. Sedangkan kecerdikan bak rubah tercermin dari sosok Clark Kent. Ia terlihat lemah, culun, aneh. Namun sesungguhnya ia menyimpan daya, kekuatan. Ia mampu mengelabui dengan chasing yang nampak lemah itu. Bagaimana Clark Kent dengan begitu gigih berhasil mendedah berbagai kasus dengan menjadi wartawan. Suatu sesi dia menggunakan rasio, berpura-pura lemah. Di sesi lain, manakala genting hadir, ia berubah menjadi Superman yang perkasa.

Jangan lupakan pula Clark Kent merupakan kekuatan kemanusiaan. Superman yang memiliki nama lain Kal-El, untuk kemudian setelah diasuh di bumi oleh Martha dan Jonathan Kent memiliki nama generik sebagai Clark Kent. Dengan nama itulah ia menjalin relasi sebagai manusia, menjalin relasi dengan bumi. Ia memang sosok yang berada diantara dua dunia. Krypton dan bumi. Dari Smallville seorang Clark Kent tumbuh menjadi kuat dengan nilai-nilai kebaikan, keadilan, keperwiraan. Sebuah basis nilai yang diperlukan untuk memastikan segala daya luar biasa yang dimilikinya tidak tergadaikan menjadi kejahatan.

Dikarenakan seperti disinyalir oleh Lord Acton bahwa power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely. Bisakah Anda bayangkan apa jadinya seorang Superman dengan segala kemampuan mahanya tanpa ditopang oleh nilai-nilai kebajikan? Beruntunglah Superman yang meniti garis yang diungkap oleh paman Ben (Spider-Man) bahwa with great power comes great responsibility. Sebuah garis yang tidak dipisahkan dari saham bahwa di dalam dirinya tertera Clark Kent: sang manusia, sang warga bumi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Advertisements
Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi

Membaca Novel Jepang

Pada tanggal 8 Maret 2013 tempo hari saya menamatkan membaca novel the Tokyo Zodiac Murders. Apa gerangan yang membuat saya membaca dan menamatkan novel ini? Terus terang keputusan saya dahulu untuk membeli novel the Tokyo Zodiac Murders disebabkan oleh beberapa faktor. Ada faktor cover yang menarik. Paduan warna dan tampilan yang bagi saya excellence secara estetik menjadi magnet tersendiri yang membuat mata dan pikiran saya menuju buku karangan Soji Shimada ini. Ini sekaligus menabalkan keyakinan saya untuk 180 derajat dengan terminologi don’t judge a book by its cover. Pada kenyataannya cover memegang saham tertentu dalam keputusan membeli atau tidak membeli buku.

the tokyo zodiac murders

Alasan lainnya adalah sinopsis di belakang buku yang menarik adanya. Berikut saya kutipkan:

Pada suatu malam bersalju tahun 1936, seorang seniman dipukuli hingga tewas di balik pintu studionya yang terkunci di Tokyo. Polisi menemukan surat wasiat aneh yang memaparkan rencananya untuk menciptakan Azoth-sang wanita sempurna-dari potongan-potongan tubuh para wanita muda kerabatnya. Tak lama sesudah itu, putri tertuanya dibunuh. Lalu putri-putrinya yang lain serta keponakan-keponakan perempuannya tiba-tiba menghilang. Satu per satu mayat mereka yang termutilasi ditemukan, semua dikubur sesuai dengan prinsip astrologis yang diuraikan sang seniman.

Pembantaian misterius itu mengguncang Jepang, menyibukkan pihak berwenang dan para detektif amatir, namun tirai misteri tetap tak terpecahkan selama lebih dari 40 tahun. Lalu pada suatu hari di tahun 1979, sebuah dokumen diserahkan kepada Kiyoshi Mitarai, seorang astrolog, peramal nasib, dan detektif eksentrik. Dengan didampingi Dr.Watson versinya sendiri-seorang ilustrator dan penggemar kisah detektif, Kazumi Ishioka-dia mulai melacak jejak pelaku Pembunuhan Zodiak Tokyo serta pencipta Azoth yang bagaikan lenyap ditelan bumi.

Kisah menarik tentang sulap dan ilusi karya salah satu pencerita misteri terkemuka di Jepang ini disusun seperti tragedi panggung yang megah. Penulis melemparkan tantangan kepada pembaca untuk membongkar misteri sebelum tirai ditutup.

Membaca novel the Tokyo Zodiac Murders memberikan saya dimensi berbeda dalam pembacaan novel. Saya pikir itu ada kaitannya dengan asal negara karyanya. Tiap negara memiliki karakteristiknya. Dan hal tersebut mempengaruhi daya kreasi dan daya cipta. Maka menikmati karya yang beragam dari belahan dunia merupakan suatu kekayaan intelektual. Dan frasa buku sebagai jendela dunia seperti menemui relevansinya disini.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi

Light

Apa jadinya jika Anda memiliki kuasa seperti Light? Anda tinggal menuliskan nama, maka kemudian meninggallah nama yang Anda tuliskan di death note. Pada mulanya adalah kegeraman terhadap segala laku kejahatan, ketidakadilan, dan ketidakberdayaan. Dalam nelangsa itu Light mendapatkan death note. Dia pun tumbuh bersama death note. Para pelaku kejahatan dengan serta merta dikirim ke lain dunia melalui perantara Light. Tingkat kejahatan menurun dengan drastis. Light pun untuk kemudian muncul dengan nama Kira dalam dunia perbincangan khalayak. Polemik pun muncul. Ada yang mendukungnya, ada yang menolaknya.

Mungkin begitulah sejatinya sifat kekuasaan. Kekuasaan punya daya goda, daya tarik untuk menyalahgunakan kekuasaan. Saya pun teringat dengan frasa ‘untuk kebaikan yang lebih besar’. ‘Untuk kebaikan yang lebih besar’ menjadi frasa yang menjadi pegangan bagi seorang Dumbledore muda dan Grindelwald muda.

Berikut saya kutipkan surat Dumbledore kepada Grindelwald (J.K. Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm. 474-475):

Gellert-

Gagasanmu soal kekuasaan penyihir UNTUK KEBAIKAN PARA MUGGLE SENDIRI- ini, kurasa, adalah gagasan yang penting sekali. Ya, kita telah diberi kekuasaan dan, ya, kekuasaan itu memberi kita hak untuk memerintah, tetapi juga memberi kita tanggung jawab terhadap mereka yang dikuasai. Kita harus menekankan poin ini, ini akan menjadi batu fondasi, di atas mana kita membangun. Jika kita ditentang, dan kita pasti ditentang, ini harus menjadi dasar semua argumen-kontra kita. Kita merebut kekuasaan UNTUK KEBAIKAN YANG LEBIH BESAR. Dan berdasarkan ini, jika kita mendapat perlawanan, kita hanya boleh menggunakan kekerasan yang diperlukan, dan tidak lebih dari itu. (Inilah kesalahanmu di Durmstrang! Tapi aku tidak mengeluh, karena kalau kau tidak dikeluarkan, kita tak akan pernah bertemu.)

Albus

Beruntunglah Dumbledore yang akhirnya dapat kembali ke jalan kebenaran dan menempatkan filosofi yang tepat dalam hidupnya. Ia tidak menggunakan alasan kebenaran untuk melakukan kejahatan.

Light

Berbeda halnya dengan Light. Semula tujuannya mulia: memberantas segala laku kejahatan. Ketika tangan-tangan hukum tak kuasa menegakkan keadilan, ketika angka kriminalitas meninggi, Light dengan nelangsanya melakukan perubahan dengan death note yang dimilikinya. Ia menjadi seperti malaikat maut yang mengirim tanpa ampun segenap manusia jahat ke kematian. Tapi bukankah seharusnya ada hukum? Bukankah seharusnya ada asas praduga tak bersalah? Bukankah seharusnya ada pengadilan? Bukankah seharusnya ada pembelaan? Light menampik segala rambu itu untuk dunia yang lebih baik.

Di akhir film Death Note: The First Name, Light menyusun sebuah rencana kematian. Sebuah pertaruhan besar yang mengorbankan cintanya. Ia mengorbankan pacarnya untuk kepentingan “kebaikan”. Ia yang seperti bermain catur berduel dengan L, mengorbankan Shiori (pacar dari Light) untuk membuktikan bahwa dia bukanlah Kira.

Sang pejuang kebaikan memang dapat tergelincir pula menjadi pelaku kejahatan tingkat tinggi. Tengoklah Light, tengoklah Harvey Dent yang menjadi Two-Face. Two-Face awalnya ialah Harvey Dent seorang jaksa penuntut yang berjuang gigih untuk menaklukkan kejahatan dan membawa para penjahat menuju penghukuman.

Sebelum nafas berakhir bagi manusia segala sesuatunya memang belum final. Yang baik dapat menjadi jahat. Yang jahat dapat menjadi baik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Politik

Monokrom Informasi

Apa kiranya yang menjadi keunggulan dari demokrasi? Saya pikir salah satunya adalah pilihan, alternatif, berkembangnya kontestasi dan kreatifitas. Dengan demokrasi, warna menjadi beragam. Negeri ini patut bersyukur bahwa demokrasi substansial terus bergulir dan terjadi. Salah satunya dapat dilihat dengan perkembangan dari dunia maya. Kini setiap dari kita dapat menyuarakan aspirasi, entah itu lewat twitter, facebook, blog, dan lain sebagainya.

Alangkah membosankannya hidup, apabila menu pemikiran yang diberikan itu-itu saja. Informasi disajikan dengan monokrom. Tak ada perbantahan yang berarti. Segala alternatif lainnya diberantas. Selama masa Orde Baru ada budaya sensor, ada juga bredel. Hal itu menyebabkan ruang artikulasi ide menjadi terbatas. Simak misalnya tuturan dari Eep Saefulloh Fatah dalam pengantar bukunya Konflik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru. Buku tersebut diangkat dari skripsi Eep yang dikerjakannya selama 4 tahun. Berikut saya kutipkan pendapat dari Eep (Eep Saefulloh Fatah, Konflik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru, hlm. XVIII):

Pembiaran ini dilakukan untuk membuat naskah ini bisa bercerita tentang satu zaman ketika para mahasiswa dan akademisi dikekang oleh banyak sekali pembatasan. Pada masa itu, kebebasan adalah barang mahal yang tak terbeli. Aktivitas penulisan, pencarian data, riset, dan berekspresi pun mesti dilakukan di ruang manuver yang serba sempit.

Dari ide, pemikiran, memang dapat menyentakkan kesadaran. Tulisan pun dapat menjadi kategori subversi bagi penguasa yang kelewat sensitif. Maka cara kerja kekuasaan ialah dengan memenangkan apa yang diistilahkan oleh Asvi Warman Adam sebagai hegemoni makna dan wacana. Hal itu tercermin dalam labelling yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru terhadap gerakan oposisi. Ekstrem kanan, ekstrem kiri, gerakan pengacau keamanan, merupakan sejumlah terminologi yang digunakan. Dengan begitu masyarakat luas telah dibuat berjarak dengan gerakan oposisi. Masyarakat juga disuguhi untuk memusuhi, memandang gerakan oposisi sebagai patologi.

Undang-Undang No.40 tentang Pers merupakan salah satu buah dari reformasi. Undang-Undang tersebut memberikan jaminan hukum terhadap wartawan dalam menjalankan profesinya, termasuk kemerdekaan membentuk organisasi wartawan lebih dari satu. Kini media dapat bebas menurunkan tulisan, mengkritisi pemerintahan. Publik memperoleh referensi yang beragam tentang suatu duduk perkara. Sejumlah acara dialog yang mempertemukan dua kubu yang berbeda pandangan menjadi acara yang diminati publik. Sebuah hal yang rasanya tiada terjadi di era pemerintahan despotik, otoriter, dan tirani. Benar adanya reformasi memang masih menyisakan sejumlah celah, agenda yang belum terselesaikan. Namun kita juga patut bersyukur akan kebebasan informasi yang kini kita dapatkan. Seperti kata Francis Bacon bahwa knowledge is power. Dengan mekanisme demokrasi, pengetahuan dapat tertampil dengan tone, warna yang berbeda. Dan disitulah letak keunggulannya. Disitulah letak kekuatannya.

Posted in Aku

Mematikan Ponsel, Menulis Blog, Orbit yang Berbeda

Pada hari Selasa 25 Juni 2013 saya melakukan modifikasi pada menu harian. Saya tahu pada hari itu seharusnya hari masuk kantor. Namun selepas shalat Subuh, saya yang kembali tidur untuk kemudian baru terbangun ketika waktu jam 8 pagi. Kepala saya pusing ketika itu. Tak lama kemudian bbm dari teman saya masuk (bukan kabar baik, karena malahan dengan semena-mena minta mempercepat penulisan). Saya hari itu belum membaca berbagai variabel: buku, majalah, koran, tadarus 1 juz. Saya pun memutuskan untuk membaca saja terlebih dahulu.

Untuk kemudian pening di kepala saya tak kunjung mereda sekalipun saya telah membaca dan menyesuaikan iklim. Saya pun memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor di hari itu. Saya harus memulihkan diri. Memulihkan diri dalam artian fisik dan jiwa. Harus saya akui baik fisik dan jiwa saya agak terkuras. Saya pun memutuskan untuk rehat di rumah. Untuk kemudian menghabiskan menu bacaan saya: buku, majalah, koran, tadarus 1 juz. Saya pun sempat tidur siang (kegiatan yang langka apabila di weekdays).

Langkah berikutnya yang saya lakukan adalah memadamkan ponsel saya. Saya pun seperti mengisolasi diri dari dunia luar. Melakukan hibernasi, hiatus. Kesemuanya dengan tujuan untuk memulihkan fisik dan jiwa saya. Sampai jam 4 sore, akhirnya saya berhasil menuntaskan segala bacaan saya. Saya pun mulai pukul 4 sore mulai menulis. Kesemuanya terkait dengan proyek personal saya. Saya menulis lumayan menyenangkan hingga pukul 8. Dan dalam perjalanan waktu dari jam 4-8, saya pun seperti terisi kembali dan terpulihkan baik secara fisik dan jiwa.

Segala tulisan yang saya tuliskan untuk Blogger dan Kaldera Fantasi memberikan kenyamanan intelektual dan kepuasan moral bagi saya. Saya kembali menemukan gairah untuk menari bersama kata-kata.

Kalau boleh mengevaluasi maka tertemui tiga poin: mematikan ponsel, orbit yang berbeda, menulis aktif. Pada poin pertama yakni mematikan ponsel, saya menemukan kedamaian dan keheningan. Tiada tekanan dari teman saya via bbm (hehe..jelas saja ponselnya saya matikan), tak ada keriuhan untuk mengecek sosial media (yang ternyata meresahkan dan menyita waktu produktif saya). Saya menemukan sudut pandang baru hari itu dengan ponsel yang off. Rupanya smart phone dapat menjadi trouble dan distraksi tertentu. Saya akan membatasi diri mengecek sosial media melalui smart phone. Saya pikir dengan begitu waktu saya akan lebih produktif dan fokus. Saya juga berpikir untuk menonaktifkan ponsel saya di waktu-waktu tertentu, atau seminimalnya men-silent-kan. Saya adalah tipikal yang memerlukan keheningan, kesendirian untuk mengerjakan segala sesuatu. Dengan ponsel yang sewaktu-waktu berbunyi, maka dapat merusak ritme kinerja saya.

Pada poin kedua, mencicipi orbit yang berbeda. Saya semenjak dahulu tiada menyukai reguler yang terlampau ketat. Saya adalah pemberontak yang baik. Ketika dulu di sekolah, hal itu saya ‘bengkokkan’ dengan datang terlambat, atau menggunakan jatah absen. Saya jemu saja manusia yang sebegitu teratur dan seperti robot yang hadir dalam waktu tertentu. Untungnya kantor saya tiada terlampau ketat dalam jam kantor. Saya apabila sedang gulana, dapat melakukan bepergian kemana-mana. Saya pernah ke Bandung ketika hari kantor. Ketika itu ada acara seminar games di ITB. Yang saya incar ketika itu adalah orbit yang berbeda. Dan saya benar-benar mendapatkannya. Ketika naik busway saya berhadapan dengan orang-orang yang di pikirannya adalah pekerjaan, kantor, sedangkan saya adalah vakansi. Sesekali keluarlah dari orbit keseharian. Temui realitas lainnya. Temui perspektif lainnya. Hidup ini luas sebenarnya, hanya saja kita sendiri yang kerap berkutat dalam tempurung yang itu-itu saja.

Poin ketiga yakni menulis secara aktif. Pada beberapa hari sebelumnya saya me-list judul-judul tulisan baik terkait dengan Blogger dan Kaldera Fantasi. Terdapat total 180 judul teruntuk Blogger dan 120 judul teruntuk Kaldera Fantasi. Saya pun bersyukur dan tersadarkan bahwa saya telah menghasilkan begitu banyak tulisan. Memang tiada semua judul itu telah rampung menjadi tulisan. Namun tetap saja jika diakumulasi begitu banyak tulisan yang saya peruntukkan untuk menghidupkan blog saya. Saya seperti mendapatkan energi baru untuk menuntaskan tulisan yang belum usai dan bergiat dengan blog saya. Bagi saya blog saya adalah taman intelektual yang menyenangkan. Seseorang pernah berkata bahwa tulisan saya di blog bagus-bagus, memiliki karakter yang khas. Dia lebih suka dengan tulisan saya di blog dibandingkan tulisan untuk pekerjaan formal saya. Mungkin itulah dimensi lain dari penulisan. Bahwa tiada semuanya terkonversi menjadi rupiah. Saya menuliskan di blog dengan semangat untuk men-share ilmu. Saya pun bebas mengkreasi menyempurnakan tulisan saya. Saya bertanggung jawab penuh dari hulu-hilir terkait tulisan di blog saya. Dan saya senang ada apresiasi tertentu terhadap apa yang saya produksi.

Saya cukupkan dulu tulisan kali ini. Senang berbagi aksara dengan Anda. Semoga hari Anda berwarna dan produktif adanya.

Posted in Ekonomi, Essai, Kuliah, Politik

Bisnis dan Politik Pasca Orde Baru (1)

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada medio 1997- 1998 menimbulkan implikasi multidimensi. Pengunduran diri presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, tidak hanya dimaknai sebagai momentum tabula rasa, melainkan momentum perubahan bagi banyak aspek di Indonesia. Bisnis dan politik pasca Orde Baru memperlihatkan perbedaan pola dibandingkan era Soeharto berkuasa. Bagaimanakah pergeseran pola hubungan bisnis dan politik pasca Orde Baru? Untuk menjawabnya menurut hemat saya dapat dilihat dengan melihat era orde Baru dan era Reformasi.

ORDE BARU

Orde Baru mewarisi kondisi ekonomi yang buruk dari Orde Lama, hal ini dapat dilihat pada sejumlah data sebagai berikut cadangan devisa menciut sampai nol(pada 1965), inflasi meningkat sampai 650%(pada 1966); daerah pedesaan Jawa tergolong sangat miskin, menyebabkan Nathan Keyfitz menggambarkannya sebagai “sesak napas karena kekurangan tanah”. Fokus di awal pemerintahan ialah menyelamatkan perekonomian nasional. Masa Orde Baru untuk kemudian menyusun blue print pembangunan melaui pembangunan lima tahun dan Pembangunan jangka panjang (25 tahun). Kalangan teknokrat yang dipimpin Widjojo Nitisastro memberikan landasan ilmiah dan merancang bangun perekonomian nasional.

Orde Baru menggunakan konsep stabilisasi politik dan pembangunan ekonomi. Konsep tersebut berimbas langsung pada bisnis dan politik. Pembangunan ekonomi yang dikembangkan mengandalkan pada pertumbuhan ekonomi, sedangkan stabilisasi politik berupa penguatan Negara dari segala bentuk oposisi. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada Orde Baru menurut Perkins tak bisa dilepaskan dari bias delusi yang dilakukan pihak barat untuk menopang keuntungan sejumlah korporat. Pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan pada konglomerasi secara kritis dimaknai sebagai ersatz kapitalisme oleh Yoshihara Kunio.

Yoshihara Kunio menuturkan pola hubungan bisnis dan politik di Indonesia ialah ersatz capitalism. Secara asal kata ersatz (bahasa Jerman) berarti subtitusi atau pengganti, kata ini digunakan dalan bahasa Inggris berarti pengganti yang lebih inferior. Secara etimologis kapitalisme ersatz berarti bukan kapitalisme yang tulen. Ada dua hal yang menyebabkan kapitalisme menjadi ersatz; pertama campur tangan pemerintah terlalu banyak sehingga mengganggu prinsip persaingan bebas dan membuat kapitalisme menjadi tidak dinamis, kedua kapitalisme di Asia Tenggara tidak didasarkan perkembangan teknologi yang memadai.

Kapitalisme Asia Tenggara (termasuk Indonesia) disebut semu karena ia didominasi oleh para pemburu rente (rent seekers).Bersifat semu dikarenakan didominasi oleh kaum kapitalis Cina. Sebenarnya, terdapat jenis- jenis kapitalis yang janggal seperti kapitalis konco dan kapitalis birokrat. Di samping itu, ada pemimpin- pemimpin politik, anak- anak dan sanak keluarga mereka, dan keluarga keraton terlibat dalam bisnis. Apa yang mereka buru bukan hanya proteksi terhadap kompetisi asing, tetapi juga konsesi, lisensi,hak monopoli, dan subsidi pemerintah ( dalam bentuk pinjaman berbunga rendah dari lembaga- lembaga keuangan pemerintah). Sebagai akibatnya, telah tumbuh dengan subur segala macam penyelewengan.

Kapitalisme yang tumbuh berupa konglomerat yang dimanjakan dan dibesarkan oleh Negara. Negara dan pemerintah di era tersebut teramat menentukan dalam bidang ekonomi dan politik. Liddle bahkan menyebutkannya dengan Soeharto deterministik. Suatu istilah yang tidak berlebihan mengingat kalangan konglomerat yang tumbuh berkembang memperoleh rente dari kedekatannya dengan penghuni Cendana ini. Dalam buku Kunio dijelaskan di bagian lampiran mengenai profil singkat konglomerat yang tumbuh dari rahim penguasa seperti Sukamdani Sahid, Probosutedjo, Sudwikatmono, putera- puteri presiden, Ciputra, Bob Hasan, Sudono Salim, dan sebagainya.

Berkaitan dengan campur tangan pemerintah yang terlalu banyak dapat dilihat pada kasus mobil nasional pada tahun 1996. Campur tangan berlebihan dapat dilihat pada pembebasan bea berupa pajak barang mewah 35 %, PT Timor Putra Nasional (pemiliknya Tommy Soeharto) menjadi satu satunya perusahaan yang mendapat keistimewaan mobil nasional. Penyikapan seperti inilah yang menjadi potret dari pola hubungan bisnis- politik di era Orde Baru. Peraturan disesuaikan agar menguntungkan bagi kongsi yang sealiran dengan pemerintahan. Harapan melihat munculnya kelas menengah dan kalangan kapitalis tulen tereduksi secara serius. Kalangan kapitalis justru menjadi penikmat status quo dikarenakan pemburuan rente yang dilakukan, sehingga menjelaskan stabilisasi politik yang terjadi dengan merangkul kekuatan modal ke dalam pilar penyangga kekuasaan.

(Bersambung)

Posted in puisi, sastra

Melamun Tak Tentu

Aku tergerus sendiri
Menunggu tanpa tahu waktu

Aku terkikis sendiri
Tanpa arah pasti kemana harus menuju

Sepi karena nadi ini sunyi
Ah aku bosan dengan lema yang kuhidangkan

Kucukupkan kini
Menunggu dan melamun tak tentu