Posted in Ekonomi, Essai, Sosial Budaya

Kerakusan

Apakah ada plafon atas dari kerakusan? Kerakusan selalu memiliki alasan rasionalisasi. Lalu berlindung di bawah tudung rupa-rupa. Begitulah kiranya kerakusan dapat menggerogoti kehidupan. Kerakusan merupakan antitesa dari rasa syukur. Manusia dengan kerakusannya telah memiliki ragam hikayat sejarah ceritanya tersendiri. Apabila telah memiliki gunung emas, maka apabila ada peluang untuk memiliki gunung emas lainnya maka dengan spartan akan coba direngkuh gunung emas berikutnya. Seperti menengguk air laut yang tiada kunjung terpuaskan.

Kerakusan dapat berbiak dari keinginan. Dan itu dapat menjadi permasalahan. Manakala tiada paralelnya keinginan dengan kemampuan. Dengan kerakusan, jika Anda adalah seorang atasan, maka Anda dapat memeras, memerintahkan bawahan untuk memenuhi dahaga kerakusan. Karl Marx pun berbicara tentang nilai lebih. Bagaimana para pemilik modal mendapatkan nilai lebih dari suatu produk.

Kerakusan menjadikan pertentangan terhadap hukum alam. Maka segala kerusakan di darat dan laut merupakan manifestasi dari kerakusan. Hutan yang diterabas, laut yang dikeruk. Pekerja yang dititahkan untuk bekerja melebihi kuota jam kerja. Waktu apabila bisa lebih dari 24 jam. Kerakusan dapat menimbulkan ketergesaan, tidak bersabar, tiada mengikuti proses. Sungguh kerakusan dapat melalaikan manusia akan makna kehadirannya di bumi.

Kerakusan dapat menimbulkan tumpukan. Baik dalam bentuk fisik. Sebut saja perut yang membuncit bisa jadi merupakan monumen dari kerakusan dalam hal makanan dan minuman. Kerakusan dapat berbentuk dengan rangkaian koleksi yang berlebihan. Yang ada adalah tumpukan yang memenuhi ruangan. Sebut saja Imelda Marcos dengan koleksi sepatunya yang berjumlah ribuan. Kerakusan memang dapat berkorelasi pada besaran angka uang yang harus dikeluarkan. Maka para marketer dengan piawai memainkan sisi emosional para pembeli. Barang pun berpindah tangan. Barang pun menyesaki ruangan rumah.

Atau jangan-jangan potret kerakusan inilah yang membuat negeri ini menjadi seksi untuk dituju investasi. Jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Potensi pasar yang besar. Ditambah lagi kelas menengah yang semakin menggemuk proporsinya bersama waktu. Konsumsi menjadi roda penggerak ekonomi negeri ini. Jadi kerakusan adalah penyelamat dari perekonomian negeri ini?

Ah kerakusan memang punya banyak perwajahan.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s