Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Sparring Partner Intelektual

Intelektual pun membutuhkan teman untuk diuji dan dikembangkan pengetahuannya. Saya percaya bahwa ilmu tiada berada dalam ruang hampa. Itulah kiranya ilmu membutuhkan dialog dan pengujian. Alangkah naifnya apabila seorang cendekiawan bersikap arogan dan merasa ilmunya selalu benar dan tiada perlu diperdebatkan. Saya pikir salah satu keunggulan dari sekolah ataupun kampus ialah memungkinkannya terjadi tukar menukar intelektualitas. Ilmu menjadi sesuatu yang liat, hidup, dikarenakan diuji di ruang terbuka.

Salah satu kesepian yang dapat dirasakan bagi seorang intelektual ialah ketika segala ilmunya tidak dapat diperbincangkan dalam kehidupan keseharian. Ilmu itu dapat kisut, menyusut, karatan. Sedangkan apabila ilmu berada dalam milleu pergaulan yang tepat maka akan mengembanglah, akan hiduplah ilmu. Dengan kemajuan teknologi tentu saja diharapkan ilmu dapat menyebar, berdialog, tidak kesepian. Kendala geografis dapat terpangkas dengan kemajuan teknologi. Pun begitu dengan kemungkinan mendapatkan data ilmiah. Bahan bacaan ibaratnya makanan yang akan menyehatkan pemikiran. Tanpa pasokan bahan bacaan maka dapat kerontang, dapat tidak up date pengetahuan yang ada dari seseorang.

Membentuk lingkungan yang cinta pada ilmu pengetahuan juga penting adanya. Kita tahu adanya bahwa ruang-ruang privat di rumah-rumah Indonesia telah diinvasi oleh kebodohan. Maka lakukan perlawanan. Tularkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan kepada orang-orang terdekat. Saya teringat dengan rekan kuliah saya yang di rumahnya terdapa buku di berbagai tempat. Hal tersebut harus diakui membentuk kecintaan terhadap buku. Dikarenakan kemana mata memandang seperti dikepung oleh buku. Saya pikir ada banyak variasi solusi untuk membentuk lingkungan pembelajar. Yang paling penting adalah menerapkannya.

Saya pikir salah satu nikmat dalam hidup adalah memiliki sparring partner intelektual. Dalam trip singkat saja apabila rekan seperjalanan Anda adalah orang yang tidak mengasyikkan saya pikir akan terganggu. Dalam setiap perjalanan selain nuansa panorama tempat, saya merasa bahwa poin lainnya ialah dapat menyerap pengetahuan dari rekan perjalanan. Saya pikir itu juga berlaku untuk pasangan hidup. Sparring partner intelektual yang memiliki kecintaan terhadap ilmu akan memungkinkan ilmu yang dimiliki berkembang dan terkuatkan. Dialog antar pasangan akan menjadi percakapan berbobot intelektual. Alangkah menjemukannya hidup apabila pasangan kita merupakan seseorang yang tidak memiliki interest terhadap ilmu.

Sparring partner bukan saja dibutuhkan bagi petinju yang akan tanding di atas ring. Sparring partner intelektual dibutuhkan oleh kita untuk mengembangkan kompetensi pengetahuan yang kita miliki. Jadi carilah sparring partner intelektual yang mumpuni. Berkumpullah dalam himpunan yang memiliki selera terhadap ilmu.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s