Posted in Essai, Sosial Budaya

Kantor Dimana-Mana

Bukankah hidup seperti siklus? Office hour dari jam sekian sampai jam sekian. Lalu bertemulah dengan kemacetan. Lalu bertemulah dengan weekend sembari disambut dengan gembira. Lalu bertemulah dengan hari Senin sembari ‘disambit’ dengan beberapa gerutuan. Saya pikir salah satu akar dari siklus yang melanda begitu banyak manusia di dunia ialah terkait dengan nuansa kantor. Saya sendiri bekerja di kantor dan memiliki office hour. Meski office hour-nya tidak terlampau ketat. Meski begitu ada beberapa orang di kantor saya yang masih memiliki perspektif kolot. Pekerja harus stay di kantor sekian jam. Sedangkan saya lebih memandang sesuatu secara fungsional dan substansi.

Marilah melihat apa gerangan yang membuat kantor itu ada? Kantor ada sebagai sebuah entitas produksi. Produksi itulah kata kuncinya. Dan dengan perkembangan zaman dan teknologi sekarang ini, maka terpaku pada jam tertentu dan ruang tertentu dapat disingkirkan. Meski begitu kita akan bertemu dengan budaya kolot yang masih menghinggapi di masyarakat. Seperti beberapa orang di kantor yang masih saklek dengan office hour, ataupun pandangan bahwa orang harus pergi-pulang kantor. Contohnya adalah ibu saya yang terkadang bertanya apakah saya tidak pergi ke kantor. Biasanya saya sedang menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah ketika pertanyaan itu dipertanyakan. Inilah kiranya potret dari masyarakat yang masih konservatif, mungkin kolot. Mereka tidak fleksibel melihat substansi produksi. Padahal kalau mau jujur berapa produktifkah mereka yang mangkrak di jam sekian sampai sekian di kantor.

Untuk memproduksi pun dalam hemat saya tidak mesti di kantor. Saya contohkan dengan seorang penulis. Seorang penulis dapat menulis di rumah, perpustakaan, kafe, tempat-tempat yang eksotik baginya. Saya sendiri secara formal memiliki profesi sebagai penulis. Namun dikarenakan masih berbenturan dengan konservatisme orang kantor dan pandangan sumir masyarakat, saya belum dapat menulis dan ‘berkantor’ dimana saja yang saya sukai. Saya hanya dapat sesekali menulis di luar kantor.

Menghadirkan nuansa kantor yang enjoyable saya pikir merupakan salah satu daya untuk meningkatkan performa dari para karyawan. Sidang pembaca dapat menyimak tulisan saya yang berjudul “Game Perekat Sosial” (https://ardova.wordpress.com/2011/12/06/game-perekat-sosial/) untuk pengayaan lebih mendalam tentang nuansa kantor yang menyenangkan. Saya percaya bahwa masyarakat yang berkarya dapat lebih menyenangkan apabila tiada terbelenggu oleh berbagai aturan yang mengikat. Bukankah bisa dilakukan revisi terhadap peraturan jika dipandang ada jalan yang lebih baik. Saya berharap hari-hari ini dan ke depannya nuansa kantor akan dapat lebih enjoyable, produktif. Kantor tidak mesti harus kaku, kotak-kotak partisi, dan membosankan.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s